Sunday, November 25, 2012
Tanggal ini setahun yang lalu
Thursday, November 22, 2012
Kamu
Wednesday, November 21, 2012
Testing
Aku merindukanmu, sungguh
Ketika aku mulai untuk melihat bayangan itu, sungguh benar-benar aku ingin segera memeluknya. Aku mulai bisa merasakan kenyataan akan hadirnya di hadapanku dan sekejap kemudian menatapku dengan tatapan yang sangat sayu serta senyum yang terkulum dengan manisnya. Sungguh senyum khas dirinya, senyum tiga jari, begitulah kami biasa menyebutnya. Aku kemudian menarik nafas yang sangat panjang. Bayangan itu menjadi semakin nyata, dan wangi itu semakin menusuk nuraniku.
Aku mulai memposisikan diri dengan lebih baik lagi di tempatku duduk, dan aku merayu dirinya untuk bersandar di pundakku. Sembari aku membelai rambut bergelombangnya yang terjuntai, kami sama-sama diam saling memandang. Dan aku pun masih terus saja membelainya.
Hujan rintik pun mulai berdenting penuh irama di atas genting, satu demi satu butiran air itu mulai membasahi bumi ini, bau khas tanah pun perlahan mulai tercium harum. Tidak deras memang, namun hadirnya serasa mewakili akan perasaan rindu ini. Kembali aku melihat bayangan tadi, masih duduk manis di sandaranku, namun tetap terdiam tanpa suara.
Hati ini sebenarnya berkehendak untuk mengajaknya berbicara, bercerita tentang apa yang bisa diceritakan, apapun itu. Akan tetapi, aku bingung untuk sekedar memulai pembicaraan. Bibir ini terasa berat untuk bergerak sehingga tetap terkatup dengan eratnya. Semakin aku mencoba namun tetap saja bibir ini tetap tidak mau membuka. Entah kenapa, aku pun tidak mengetahui sebabnya. Dalam diam, kami tetap saling memandang dan beradu senyum, dan hal inilah yang akan senantiasa aku rindukan kehadirannya.
Mendadak gelegar petir menyambar dengan kerasnya. Hujan memang tidak bertambah deras namun suara petir tadi sempat membuatku kaget untuk beberapa saat. Dan bayangan itupun tiba-tiba menghilang, lenyap dalam sekejap dari dekapanku. Aku berteriak,.. Ah, tidak. Aku rasa itu terlalu "lebay" menyebutnya demikian. Mungkin lebih tepatnya aku mengigau. Yupz... Mengigau menyebut namanya dalam gelapnya malam itu. Lampu yang cukup remang pun membuat suasana semakin kelam, namun aku tak terlalu mempedulikannya. Aku tetap saja mencoba untuk mencarinya. Aku bergegas segera bangkit dari tempat dudukku. Semua sudut segera aku tatap tajam, namun tetap saja bayangan itu enggan untuk muncul lagi. Apakah benar-benar menghilang, ataukah sekedar sembunyi karena malu, atau yang lain, aku pun tak mengetahui sebabnya.
Aku pun kembali terduduk terdiam mematung, menatap kosong ke arah datangnya hujan. Aku tidak ingin menyalahkan petir yang menggelagar tadi, aku juga tidak ingin menyalahkan remangnya temeram lampu yang mungkin turut menyembunyikan bayangan itu, sekali lagi aku hanya diam seperti biasanya diriku. Beberapa saat kemudian, kaki ini perlahan mengajakku untuk melangkah keluar, menatap lebih dekat tetesan air hujan yang tak begitu deras, kemudian menggoda diri ini untuk menerobos hujan rintik yang semakin lama terasa semakin deras membasahi bumi ini.
Dinginnya air hujan perlahan masuk membasahi tubuhku dan menusukku ke dalam. Namun aku tetap saja berjalan di tepian jalan yang anehnya aku sendiri pun belum tahu akan menuju kemana.
Sesaat kemudian, aku tersadar bahwa tubuh ini ternyata masih terbaring di atas tempat tidur penginapan ini. Hujan di luar sudah cukup deras. Gelegar petir pun semakin tidak tertahan, hampir setiap detik terdengar dentuman yang semakin keras, kilat pun tidak ketinggalan untuk meramaikan gulitanya malam itu.
"Ya Alloh ya Robbi, aku sangat merindukannya.. Semoga semuanya baik-baik saja. Hamba titipkan dirinya pada-Mu, ya Alloh." kataku lirih
Gelegar petir dan kilat terus bermain kejar-kejaran, seolah berlomba ingin menyampaikan apa yang aku rasakan malam itu. Angin pun sepertinya tak mau ketinggalan untuk menyampaikan rasa rindu ini. Dinginnya malam itu tidak terlalu aku rasakan, meskipun sejenak tangan ini terasa mati rasa dan desah nafas ini semakin terasa berat...
Mungkin rasa rindu itulah yang telah memberikan sebuah kehangatan yang sangat luar biasa di malam yang sangat luar biasa tidak biasa tersebut. Hujan semakin lama semakin tidak peduli lagi untuk tetap terus membasahi serta memberikan sebuah sensasi "kesegaran" yang luar biasa.
=================================================
Itulah sedikit sebuah kisah nyata dengan sedikit rekayasa (berarti bukan kisah nyata donk...? Hehe...) Ngomong-ngomong soal rindu, aku jadi teringat puisiku zaman dulu, judulnya "Kangen" ^_^
Walau jarak pandang terhalang
Namun mata ini senantiasa memandang...
karena Kau ada dalam ingatan...
aku tak pernah memikirkan Kau wujud di hadapan
tapi Kau selalu dalam do'a...
Kau yang jauh dari pandangan...
Dalam rindu menyelimuti kalbu
aku senantiasa menyebut namaMu
Meminta sesuatu hal yang sering menghantuiku
Berharap Kau menjaga dirinya dan diriku
Yang terpisahkan oleh sesuatu
Walau jarak pandang terhalang
Namun mata ini senantiasa memandang...
karena kau ada dalam ingatan...
aku tak pernah memikirkan kau wujud di hadapan
tapi kau selalu dalam do'a...
kau yang jauh dari pandangan...
===========================================================
Cirebon, 21 November 2012
Sunday, June 17, 2012
Tentangku yg dia tau ^_^
nb : *mohon maaf kalo misalnya ada hal yg kurang pas tentang saya yg dia tulis dengan apa yg pembaca tau tentang diri saya. Yaaah.... namanya aja masih belum terlalu kenal. Tapi ntar seiring berjalannya waktu, jangan harap para pembaca tau lebih banyak tentang saya daripada si dia. Hihihi..... ^_^v
===============================================================
Namanya Setiawan. Yaa,, nama yang familiar dan favorit (bahasa yang lebih baik daripada “umumnya” :P). Biasa dipanggil Setia atau Wawan. Sepengetahuan penulis, lebih banyak yang memanggil Wawan. Lahir di Kota Magelang pada 10 Juni 1988, tepat 3 hari sebelum kedua orang tua penulis melangsungkan pernikahan.
Wawan terlahir sebagai anak ke-4 dari 5 bersaudara, dan sekaligus sebagai anak laki-laki pertama dalam keluarga Bapak Sugiyono dan Ibu Suwarti. Nampaknya Wawan ini begitu disayang oleh orang tuanya, dan pesan penulis “hati-hati mencuri hati anak kesayangan mertua” :D
Hingga usia 18 tahun hidupnya dia nikmati di Kota Magelang, belajar di sana hingga masa SMA nya. Sejarah pendidikan formalnya adalah TK Siwi Peni 5, SD Rejowinangun Selatan 3, SMP N 2 Kota Magelang, dan SMA 1 Magelang jurusan IPA. Setelah tamat SMA, Wawan ini hijrah ke Jogja untuk kuliah. Mmm sebenarnya istilah ‘balik kandang’ lumayan tepat, karena kedua orang tuanya asli Jogja, tepatnya Prambanan. Daan waktu kecil, Wawan ini sering nonton sendratari Ramayana.
Wawan kuliah di Jurusan Teknik Kimia FT UGM angkatan 2006. Selama kuliah aktif di KMTK, MTQ, dan beberapa kali menjadi asisten praktikum, juga asdos. Setelah membuat rekor penulisan TA selama 3 minggu bersama partnernya yang juga sahabat karibnya, akhirnya Wawan diwisuda pada Agustus 2010. Setelah apply sana sini, dan ditolak maupun menolak akhirnya Wawan melabuhkan karyanya di sebuah BUMN yang sebagian kerjanya adalah membangun. (semoga termasuk membangun cinta bersama penulis :P)
Wawan memiliki harap berupa KKN yaitu “Kuliah-Kerja-Nikah”. insyaAllah, harap itu akan segera terwujud. ^^v
dituliskan oleh Rina Indarwati di calon TKP walimahan,pada 5 Juni 2012 sekitar pukul 13:35.
===============================================================
Yupz..... Seperti itulah hasil tulisannya. Awalnya saya agak geli2 gimanaa... gitu waktu awal bacanya (sampe sekarang pun sebener'e masih ding... Hehe...) Ditambah agak penasaran juga, kok dia bisa tau yaa.... Tapi setelah aku ingat2, ternyata (kaya'e) dulu memang saya pernah cerita beberapa hal ke dia, yg ternyata dia tuliskan sebagiannya di atas.
Sesaat sebelum memulai untuk nge-post & nambah2i intro tulisan dia, saya sempat izin ke dia, bolehkah tulisannya saya share di blog ini & ngasih komen juga. Dan jawabannya adalah "okee... nggih, Boleh2,, :-)" Saya pun langsung tambah semangat menuliskan intro di atas, dan beberapa komen pun siap menyusul di bawah ini. Langsung aja yaaa......
Pertama mengenai nama. Yaaahh.... memang saya akui Setiawan itu nama pasaran (bahasa lebih baiknya, nama familiar & favorit,seperti yg dik Rina tulis di atas). Sebelum saya minta izin share tulisannya (tepatnya 43 menit sebelumnya - ngerti thoo..... Hehe... =P), dik Rina sempat tanya "kalo nama mas Wawan, sejarahnya gimana?". Dan jawabanku pun simple, cukup satu kata "Rahasia" (#jahat banget yaak....?? Hihihi...^_^v) Kemudian untuk tanggal lahir saya, saya jadi teringat dik Rina pernah bilang kalo ibu bapaknya menikah tanggal 13 Juni 1988. Makanya dia sampaikan di tulisannya, "tepat 3 hari sebelum kedua orang tua penulis melangsungkan pernikahan."
Oke, next... Sebener'e saya masih bingung dan bertanya2, maksud dari kata2 “hati-hati mencuri hati anak kesayangan mertua” itu apa yaa....???? -_-a (#dan saya pun berjanji pengen tanya ke dik Rina langsung, tapi bukan sekarang, melainkan setelah kami telah sah jadi suami-istri. Hehe... Upz.... ^_^)
Komen saya yg keempat adalah tentang masa kecilku yg katanya sering nonton sendratari Ramayana. Awalnya saya heran, kok dik Rina bisa tau yaa.... Yaaahh.... Walopun gak sering2 banget nonton sih... Soal'e saya nonton kalo pas ada kesempatan aja main ke rumah mbah dan diajak beliau (kadang juga diajak ma paklik) nonton pertunjukkan itu. Memang rumah mbah saya (baik itu mbah dari pihak bapak maupun ibu) ada di daerah Kalasan, lumayan dekat (ya kira2 sekitar 2 km lah...) dengan daerah wisata Candi Prambanan, tempat diselenggarakannya pertunjukkan sendratari Ramayana. Setelah saya ingat2, nampaknya saya dulu pernah cerita ke dik Rina soal ini tapi saya lupa kapan itu. Hhhmmm..... -_-a Tapi apapun itu, yg lebih penting sekarang ini adalah saya berharap suatu saat nanti saya dapat menonton sendratari Ramayana lagi, bukan bersama mbah ataupun paklik, tapi bersama dengan sang istri tercinta. #eyyyaaaa......... AMIIIIN.............. ^_^
Komen saya yg terakhir adalah kok dik Rina bisa tau ya, salah satu harap saya yaitu KKN (“Kuliah-Kerja-Nikah”). Kalo yg satu ini saya benar2 bingung dan terheran2, darimana ya dia bisa tau??? Seingat saya, saya belum pernah cerita deh tentang harap yg satu ini ke dik Rina. But, whatever lah... yg saya sangat setuju adalah kata2 selanjutnya, yaitu "insyaAllah, harap itu akan segera terwujud. ^^v" Dan saat pertama kali baca tulisan ini, dalam hati saya bergumam, "dan engkaulah yg akan menjadi harapku" Amin..... #saya menggunakan kata "engkau" waktu bergumam karena dia tepat berada di samping saya saat saya pertama kali membaca tulisan itu. #eciyyeee......Cuit, cuiiit.... Haha.... =P
Oke deh para pembaca semua, saya sudahi tulisan saya (eh, kami dink... Hehe..). Udah malam juga ni (lihat kanan bawah monitor laptop, ternyata dah jam 11.45 pm). Saya udah agak ngantuk (tapi sebener'e pengen nonton EURO, :D ). Dan sebelum saya akhiri, saya mohon do'a pembaca semua, agar kami nantinya dapat menjadi keluarga yg sakinah, mawadah, warohmah, dan dapat senantiasa dalam ketaatan pada Alloh 'azza wa jala, dan do'a yg baik2 untuk kami. Amin..... ^_^
Salam Sehati to Semanggi,
Selaraskan Harapan Hati menuju Semangat Lebih Tinggi
Diselesaikan di kos Mampang Prapatan IV Jakarta, dan langsung di-publish kan ^_^
Saturday, June 16, 2012
Go to "Muster Point"
Wednesday, February 29, 2012
Tips Memilih Hadiah Untuk si Kecil
- Untuk si 1 tahun. Anda bisa memilih boneka yang tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Mainan lain seperti balok-balok atau mainan karet juga bermanfaat bagi si satu tahun yang tengah asyik mengeksplorasi dunia sekitar dengan kedua tangannya.
- Untuk si 2 tahun. Anak usia ini sedang mengembangkan kemampuan motorik dan koordinasi otot besarnya. Anda dapat memilih hadiah berupa mainan yang dapat ditarik dan didorong.
- Untuk si 3 – 5 tahun. Anda dapat memilih aneka mainan yang lebih bervariasi. Misalnya, mobil-mobilan, masak-masakan, atau sepeda.
Sunday, February 26, 2012
Saya dan Pernikahan
Bismillah..
Lets us talk, menuliskan apa yang bisa dituliskan. Hhmm… Enaknya nulis apaan ya…?!? Hehe.. Oh, ini aja. Tentang saya dan pernikahan. Hanya ingin bertukar pendapat dengan pembaca yang sempat membaca tulisan ini.
Setiap orang tentu memiliki gambaran sendiri tentang kehidupan pernikahan, baik itu sebelum, saat, maupun pasca-menikah. Jika pernikahan itu adalah sebuah kapal, tentunya setiap orang akan memiliki gambaran masing-masing seperti apakah kapal itu, akan berlayar di laut mana, dinahkodai siapa, dan lain sebagainya. Alangkah patut kita syukuri ketika kita bertemu dan berlayar dengan seseorang yang paling tidak memiliki gambaran yang sama tentang kapal itu (walaupun itu mungkin hanya 1 diantara 1000 pandangan). Siapalah yang tidak mengharapkan sebuah pernikahan yang dibangun karena-Nya dan untuk menggapai cinta dan ridho-Nya. Insya Alloh.
Beberapa tanya kadang muncul di dalam diri ini, dan yang akan saya tuliskan di sini hanya satu dari sekian banyak pertanyaan tersebut. Yaitu tentang “Bagaimanakah kita memandang pernikahan dan kehidupan berumah tangga?” Mungkin semacam arti pernikahan bagi diri sendiri (dan orang di sekitar kita).
^_^ Bismillah, inilah sedikit yang ada dalam pikiran saya saat ini tentang pernikahan...
Kapal... Yupz, kapal... Sebuah perumpamaan yg tepat dan memang sangat bisa menggambarkan kehidupan berumah tangga. Ada nahkoda, ada penumpang, ada perjalanan, ada tujuan, ada badai, ada kedamaian lautan, dan sebagainya. ^_^
Nikah, bagi saya bukan hanya tentang dua hati, bukan hanya sekedar menyatukan dua orang manusia, bukan pula menyatukan dua keluarga, tetapi lebih dari itu yaitu menyatukan semuanya, terutama semua yang berada di sekitar kita. Menikah bukanlah persoalan sepele, tapi sebuah keputusan besar yang membutuhkan pertimbangkan dari berbagai sisi (terutama dari sisi agama / syari'at). Begitu pula mengenai siapa yang akan kita pilih sebagai suami / istri, pasti juga akan ada banyak pertimbangan dalam memilih dan memutuskannya.
Kata orang, pernikahan bisa mengantarkan ke surga, tapi juga dapat menggiring kita menuju neraka. Dan bagi saya, pernikahan adalah surga di dunia. Dengan menikah, kita dapat menyempurnakan separuh agama. Dengan menikah, kita bisa lebih merasakan manisnya iman, cinta dan kasih sayang. Dengan menikah, berarti kita telah melaksanakan perintah Alloh ta’ala dan sunnah Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam. Dengan menikah, kita dapat lebih merasakan ketenangan. Dengan menikah, kita dapat lebih menundukkan pandangan. Dan dengan menikah, maka kita telah mempermudah jalan menuju surga Alloh ta’ala. Biidznillah…
Saya yakin pernikahan itu penuh dengan kebaikan, rasanya tidak ada yang perlu ditakutkan selama diniatkan tulus karena Alloh ta’ala dan untuk meraih ridho Alloh ta’ala. Rasa cinta kepada pasangan hidup itu bisa dibangun. Kita tidak harus menikah dengan seseorang yang kita cintai. Akan tetapi yang harus kita tahu adalah wajib untuk mencintai seseorang yang kita nikahi. Selama ada keselarasan tujuan dan kesejiwaan diri, insya Alloh semua akan berjalan dengan baik.
Tentang kehidupan rumah tangga, ada peribahasa (kalau tidak salah) bunyinya, "Langkah kesekian pasti dimulai (dan mungkin juga ditentukan) dari langkah pertama". Begitu pula dalam kehidupan berumah tangga, yang akan dimulai dari proses pernikahan (akad nikah), dan pernikahan diawali dengan pencarian / pemilihan calon pasangan yang nantinya akan menemani kita dalam "pelayaran".
Sebuah harapan tentang hidup berumah tangga mungkin dapat terangkum dalam kalimat yang akan saya kutip dari sebuah buku : “Kehidupan rumah tangga diharapkan menjadi tempat hunian yang nyaman. Tempat melepas lelah, membagi perasaan, mendiskusikan persoalan dan menjadi persemaian dan madrasah bagi generasi yang akan menggantikan peran orang tua di kemudian hari”.
Seorang suami haruslah dapat menjadi seorang pemimpin, sahabat, dan partner dalam keluarganya. Begitu pula seorang istri, dia harus dapat menjadi seorang kepala rumah tangga, sahabat, partner dalam keluarganya. Dan satu hal yang patut untuk disadari oleh seorang suami dan istri, yaitu mereka haruslah dapat saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Kata seseorang, ada ruang bernama komunikasi.
Pernikahan bukan titik berhenti untuk tetap berkarya (terutama bagi seorang istri). Kebermanfaatan suami dan istri (dan juga anak, jika telah diberi amanah oleh Alloh ta’ala) haruslah terus bertambah untuk masyarakat sekitar, terutama dalam hal agama. Walaupun sudah menikah, kita harus dapat membagi porsi untuk suami / istri dan anak, keluarga (terutama ayah, ibu, kakak, adik), sahabat / teman, dan masyarakat sekitar.
Dalam pandangan saya, menjalani kehidupan berumah tangga tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tetapi juga tidak sesulit menggenggam bara api. Kembali lagi ke kapal (sebagai analogi), dalam menempuh perjalanan menuju suatu tujuan pastilah akan menemui gelombang air yang tenang, angin yang menyejukkan, ikan yang menampakkan diri di permukaan, sampah yang terbawa arus laut, atau bahkan gelombang badai yang kita pun tidak tahu pasti akan terjadi kapan dan dimana. Akan tetapi, semua itu pasti akan dapat dilalui dengan baik dan akan dapat mengantarkan sampai di tempat tujuan yang sesuai dengan harapan kita, jika kita tetap berpegang teguh, yakin dan percaya pada alat penunjuk arah (radar, kompas, matahari, peta, atau semacamnya) yg terdapat di kapal tersebut atau yang kita bawa dalam pelayaran dan juga percaya satu sama lain dengan teman berlayar. Dan yang tidak kalah penting, adalah berdo'a dan ikhlas kepada yang menciptakan lautan tempat berlayar. (#bingung gak baca tulisan saya, hehe....)
Kalo kata ustadz Abduh Tuasikal (kakak angkatan saya waktu kuliah), “Menikah itu enaknya cuma 1%, sedangkan yg sisanya (99%) enak banget.” Hehe... ^_^
Mungkin segini dulu yang bisa saya tuliskan. Jika sekiranya ada hal-hal yang ingin ditanyakan atau disampaikan oleh para pembaca kepada saya, monggo, insya Alloh hal tersebut akan dapat lebih memperbaiki diri ini. Mohon maaf jika terdapat kata-kata yg kurang berkenan di hati para pembaca.
Salam,
^_^
-------------------------------------------------------------------------
Mampang Prapatan IV, Jakarta
26 Februari 2012
-------------------------------------------------------------------------