Sunday, November 25, 2012

Tanggal ini setahun yang lalu


Ceritanya berawal dari sini, tadi pagi saya iseng-iseng membuka kembali SMS-SMS masa lalu yang masih tersimpan di HP saya. Dan sengaja pagi tadi itu saya hanya memilih membaca beberapa SMS dengan tanggal seperti hari saat ini, 25 November. Saya hanya iseng saja ingin bernostalgila dengan membaca kembali komunikasi-komunikasi yang pernah saya buat dengan tanggal yang sama dengan hari ini (entah itu tepat satu tahun yang lalu atau beberapa tahun yang lalu), khususnya komunikasi melalui layanan short message service. Ternyata masih cukup banyak SMS yang masih tersimpan dengan tanggal 25 November 2011 (yang tahun-tahun sebelumnya sudah hilang saya hapus) dan beberapa dari banyak SMS itu adalah dari istri saya, Rina Indarwati. Selama membaca semua SMS satu tahun yang lalu itu, saya jadi teringat beberapa kejadian yang pernah saya alami saat itu. Dan kemudian saya tergoda untuk membuat tulisan ini, untuk sedikit berbagi kisah terutama kisah antara saya dan istri saya tepat satu tahun yang lalu. Selamat menikmati ^_^
Jum’at 25 November 2011, tepat satu tahun yang lalu, saya dan istri saya masih belum menjadi siapa-siapa, belum terucap janji suci yang menjadikan kami satu. Saat itu kami memang tidak sedang berinteraksi secara langsung (maksud’e tidak ketemu langsung face to face gitu lah). Yupz… saat itu saya sedang berada di Lampung (waktu itu saya masih bekerja di sebuah perusahaan EPC, dan tergabung dalam proyek pembangunan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) 2 x 100 MW di desa Sebalang, Tarahan, Lampung Selatan) dan saya tidak tahu sedang dimana dia berada (tapi sebatas tebakan saya saja, dik Rina sedang di desa tempat dia dilahirkan dan dibesarkan, Bulurejo Monggol Saptosari Gunungkidul DIY). Oya, beberapa hari sebelumnya tepatnya hari Selasa 22 November 2011, dik Rina baru saja diwisuda dan saya sempat pulang ke Jogja, sempat mampir ke Grha Sabha Pramana UGM juga. #Njuk ngopo? Hehe…
Kembali ke cerita setahun yang lalu, sebenarnya tidak ada kejadian yang “wow” secara langsung karena memang pagi itu saya dan dik Rina hanya berSMSan saja. Sebagian SMSan kami saat itu masih tersimpan di HP saya (baik itu sent item dari saya maupun inbox dari dik Rina). Agak merasa “gelo” juga sih karena sebagian SMS yang lain sudah saya hapus,. Tapi tak apalah, yang terpenting inti dari pembicaraan saya dan dik Rina masih tersimpan rapi di HP saya dan bisa saya baca ulang kapanpun dan dimanapun (mantep kan? Hehe..).
Jam 10.52 waktu HP saya, dik Rina mengirim sebuah SMS. Sebenarnya saya duluan sih yang mengawali SMS di hari itu (jam 07.15 kalo yang tercatat di HP saya). Tapi memang dik Rina tidak langsung membalasnya (atau mungkin dibalas tapi SMSnya sudah saya hapus kali yaa… Saya lupa, hehe… Lagian juga, buat apa SMSnya dibalas, karena memang SMS saya pagi itu bukan merupakan SMS yang membutuhkan sebuah jawaban dan saya pun tidak terlalu berharap dik Rina akan membalas SMS saya) Tapi ternyata 3 jam 47 menit setelah SMS saya itu, dik Rina gantian yang “memicu” dengan mengirimkan sebuah SMS sampai membuat saya agak kegeeran. Untuk pertama kalinya dik Rina mulai memperkenalkan nama saudara sepupunya yang baru berusia sekitar 1,5 bulan. Selisih tidak sampai 1 menit, kembali dik Rina SMS yang intinya mengingatkan kembali sejarah saat-saat masa sekolah (mulai dari nyontek, kantin, absensi, dan lain-lain) dan lagi-lagi saya kembali dibuat geer karena kata-kata di akhir SMS itu. Saya merasa bersyukur karena sudah termasuk dalam orang-orang yang pernah membuat dik Rina tersenyum (padahal saat itu saya dan istri saya masih belum terlalu kenal, jarang ketemu juga). Alhamdulillah, ^_^.
SMS dik Rina tanggal 25 November 2011 jam 10.52 waktu HP saya.
_Sejarah saat masa2 sekolah_
Kantin         : markas besar kalo gak ada guru.
WC             : alasan tepat untuk keluar kelas.
Ribut           : suasana kelas kalo gak ada guru.
Nyontek      : kebudayaan nenek moyang yang masih berjalan.
Papan tulis   : TV guru yang wajib ditonton.
Absensi       : benda keramat yang wajib diisi.
Alpa            : kalimat harom yang penting diucapkan.
Tipe-X        : media buat seru-seruan.
Hore            : teriakan yang menjadi kewajiban kalo ada hari libur.
Kirim pesan ini ke orang2 yang pernah membuatmu tersenyum di masa SD, SMP, SMA, dan masa hidupmu. ^_^ agar mereka teringat kembali.

Saya membaca SMS yang tentang sekolah itu saat masih melakukan aktivitas pekerjaan di proyek, jadi tidak langsung saya balas. Saya hanya senyum-senyum sendiri membacanya (dan sempat juga diperhatikan rekan kerja saya waktu itu). Selesai sholat Jum’at, saya baru membalas SMS dik Rina (dan sayang sekali, SMS saya sudah terhapus. Akan tetapi, Alhamdulillah saya masih sedikit ingat SMS saya waktu itu, kurang lebihnya menanyakan dan menebak tentang siapa Asha, nama yang sempat dik Rina sebutkan dalam SMSnya, yang ternyata adalah sepupunya yang masih 1,5 bulan itu). Hanya selang beberapa menit, dik Rina sudah membalas SMS saya dan menyadari bahwa dirinya belum pernah bercerita sebelumnya tentang nama sepupunya itu (sebelumnya saya hanya sempat diberi tahu bahwa dik Rina baru saja mendapatkan sepupu baru, perempuan – SMS kabar ini masih tersimpan juga di HP saya lho… Hehe..). Dik Rina juga bercerita bahwa sepupunya itu tinggal bersama simbahnya di kampung yang sama dengan rumah tempat tinggal dik Rina, cuma berbeda RT saja. Dan pada saat itu, tiba-tiba saja saya merasa kangen dengan keponakan-keponakan saya yang sedang berada di Lampung (Raka dan Fara) dan Magelang (Daffa, Delvin dan Varo). Lima keponakan saya yang kelimanya pernah saya rawat dari sejak mereka bayi.
Selama SMSan, beberapa kali saya menggoda dik Rina tentang dunia perbayian (maklum, saat itu bisa dikatakan saya lebih experience dibandingkan dik Rina). Saking merasa tergodanya, dik Rina membuat statement yang lucu (bagi saya) yaitu “bayi itu adalah makhluk paling lucu sekaligus menyeramkan, buat dirinya”. Saat itu, sekali lagi rekan kerja saya kembali lirik-lirik melihat saya senyum-senyum dan ketawa-ketawa sendiri.
Setelah sempat berhenti SMSan selama beberapa jam, kami pun kembali melanjutkan obrolan kami di malam hari. SMS kali ini agak serius dan pembahasannya sebenarnya sudah dimulai sejak sore hari (sekali lagi sangat disayangkan, saya sudah menghapus beberapa SMSnya dan untuk yang ini hampir tidak ada yang saya ingat). Saat itu saya sedang meminta tolong sesuatu ke dik Rina. Nah, di malam harinya dik Rina SMS saya menanyakan alasan kenapa saya memilih dik Rina untuk dimintai tolong, padahal sekali lagi saat itu saya dan dia masih belum ada hubungan special. Setelah saya memberikan penjelasan ke dik Rina, Alhamdulillah alasan saya dapat diterima dengan baik. Dengan ditambah beberapa SMS berikutnya, saya menjadi sedikit lebih tahu bahwa dik Rina termasuk yang menjadi orang kepercayaan teman-temannya dan mampu menjaga dan menyampaikan amanah dengan baik. Dan saat itu pula, saya tambah yakin untuk terus memperjuangkan harapan saya untuk dapat “menjadi yang terbaik” untuk dik Rina (dan Alhamdulillah, satu bukti bahwa Alloh itu Maha Baiiiiiiikkk sekali telah kembali saya rasakan. Harapan saya terkabulkan dan saat ini kami telah menjadi pasangan suami istri yang semoga sakinah mawadah warohmah sampai maut memisahkan kami berdua, amin…).
Mungkin segini dulu cerita dari saya, sedikit catatan kehidupan saya dan dik Rina, istri saya tersayang dan istri tercinta, pada tanggal ini satu tahun yang lalu. Kapan-kapan insya Alloh akan saya ceritakan kisah hidup saya (dan istri saya) yang lain. Semoga kisah kami ini dapat kami kenang selalu dan dapat menjadi bahan cerita dan inspirasi untuk anak-anak kami kelak. Amin…

Hotel Patra Jasa Cirebon
25 November 2012, jam 22.22 (waktu laptop saya saat mengakhiri tulisan ini)
Dalam masa kerinduan saya dengan istri tercinta, Rina Indarwati (saat saya menulis tulisan ini, dik Rina sedang berada di kota Magelang) 

Thursday, November 22, 2012

Kamu



Inspirasiku dirimu
Nyaman aku di sampingmu
Damai berada di sisimu
Aku bersyukur bisa mengenalmu
Rasa syukur karena bersamamu
Walau bagaimana pun keadaanmu
Aku kan tetap menyayangimu
Teman seumur hidupku
Istriku  ^_^


Kedawung 2, Patra Jasa Hotel
Cirebon, dalam usaha menghilangkan ngantuk

Wednesday, November 21, 2012

Testing


Weeeewww,, Ternyata saya sudah lama sekali tidak menulis dan mempost sesuatu di blog ini,, payah banget yaaak.... Hemdeeehh....  -_-" 
Yupz, bisa dilihat terakhir kalinya saya ngepost blog dah 5 bulan yang lalu, tepatnya 17 Juni 2012, tepat 1 minggu sebelum hari pernikahan saya. Memang semenjak hari itu saya menjadi sangat jarang mengakses internet menggunakan komputer (tapi kali akses via HP masih lumayan kenceng, hehe...) Walhasil, jadilah saya melupakan sejenak blog ini. Atau mungkin juga mulai hari itu saya sudah cukup tersibukkan dengan persiapan menuju hari istimewa, hari yang luar biasa bagi saya, hari dimana akan dimulainya suatu kehidupan baru yang bernama berumah tangga. 
Dan pada hari ini, alhamdulillah saya lagi pengen-pengennya nulis sesuatu. Dan alhamdulillah (lagi), setelah saya pindah kamar dari yang tadinya gak dapat fasilitas wifi di kamar 252, sekarang bisa ngenet sepuasnya di kamar 108. Dengan didukung istri tercinta buat aktif nulis lagi, jadilah saya mulai iseng-iseng mencoba mencoret-coret blog ini lagi dan inilah tulisan kedua saya setelah 5 bulan absen (tulisan pertama dah ter-publish sekitar 30 menit yang lalu).
Haha,, sebener'e saya sendiri masih bingung mau nulis apa.. Niatnya ini buat intro dulu sebelum nanti saya ngepost tulisan-tulisan berikutnya, ^_^
Oke lah kalo begitu, semoga saya bisa menulis lebih banyak lagi untuk ke depannya. Amin... Cemungudh....!!! \(^_^)/

Cirebon, dalam masa karantina

Aku merindukanmu, sungguh


Ketika aku mulai untuk melihat bayangan itu, sungguh benar-benar aku ingin segera memeluknya. Aku mulai bisa merasakan kenyataan akan hadirnya di hadapanku dan sekejap kemudian menatapku dengan tatapan yang sangat sayu serta senyum yang terkulum dengan manisnya. Sungguh senyum khas dirinya, senyum tiga jari, begitulah kami biasa menyebutnya. Aku kemudian menarik nafas yang sangat panjang. Bayangan itu menjadi semakin nyata, dan wangi itu semakin menusuk nuraniku.

Aku mulai memposisikan diri dengan lebih baik lagi di tempatku duduk, dan aku merayu dirinya untuk bersandar di pundakku. Sembari aku membelai rambut bergelombangnya yang terjuntai, kami sama-sama diam saling memandang. Dan aku pun masih terus saja membelainya.

Hujan rintik pun mulai berdenting penuh irama di atas genting, satu demi satu butiran air itu mulai membasahi bumi ini, bau khas tanah pun perlahan mulai tercium harum. Tidak deras memang, namun hadirnya serasa mewakili akan perasaan rindu ini. Kembali aku melihat bayangan tadi, masih duduk manis di sandaranku, namun tetap terdiam tanpa suara.

Hati ini sebenarnya berkehendak untuk mengajaknya berbicara, bercerita tentang apa yang bisa diceritakan, apapun itu. Akan tetapi, aku bingung untuk sekedar memulai pembicaraan. Bibir ini terasa berat untuk bergerak sehingga tetap terkatup dengan eratnya. Semakin aku mencoba namun tetap saja bibir ini tetap tidak mau membuka. Entah kenapa, aku pun tidak mengetahui sebabnya. Dalam diam, kami tetap saling memandang dan beradu senyum, dan hal inilah yang akan senantiasa aku rindukan kehadirannya.

Mendadak gelegar petir menyambar dengan kerasnya. Hujan memang tidak bertambah deras namun suara petir tadi sempat membuatku kaget untuk beberapa saat. Dan bayangan itupun tiba-tiba menghilang, lenyap dalam sekejap dari dekapanku. Aku berteriak,.. Ah, tidak. Aku rasa itu terlalu "lebay" menyebutnya demikian. Mungkin lebih tepatnya aku mengigau. Yupz... Mengigau menyebut namanya dalam gelapnya malam itu. Lampu yang cukup remang pun membuat suasana semakin kelam, namun aku tak terlalu mempedulikannya. Aku tetap saja mencoba untuk mencarinya. Aku bergegas segera bangkit dari tempat dudukku. Semua sudut segera aku tatap tajam, namun tetap saja bayangan itu enggan untuk muncul lagi. Apakah benar-benar menghilang, ataukah sekedar sembunyi karena malu, atau yang lain, aku pun tak mengetahui sebabnya.

Aku pun kembali terduduk terdiam mematung, menatap kosong ke arah datangnya hujan. Aku tidak ingin menyalahkan petir yang menggelagar tadi, aku juga tidak ingin menyalahkan remangnya temeram lampu yang mungkin turut menyembunyikan bayangan itu, sekali lagi aku hanya diam seperti biasanya diriku. Beberapa saat kemudian, kaki ini perlahan mengajakku untuk melangkah keluar, menatap lebih dekat tetesan air hujan yang tak begitu deras, kemudian menggoda diri ini untuk menerobos hujan rintik yang semakin lama terasa semakin deras membasahi bumi ini.

Dinginnya air hujan perlahan masuk membasahi tubuhku dan menusukku ke dalam. Namun aku tetap saja berjalan di tepian jalan yang anehnya aku sendiri pun belum tahu akan menuju kemana.

Sesaat kemudian, aku tersadar bahwa tubuh ini ternyata masih terbaring di atas tempat tidur penginapan ini. Hujan di luar sudah cukup deras. Gelegar petir pun semakin tidak tertahan, hampir setiap detik terdengar dentuman yang semakin keras, kilat pun tidak ketinggalan untuk meramaikan gulitanya malam itu.

"Ya Alloh ya Robbi, aku sangat merindukannya.. Semoga semuanya baik-baik saja. Hamba titipkan dirinya pada-Mu, ya Alloh." kataku lirih

Gelegar petir dan kilat terus bermain kejar-kejaran, seolah berlomba ingin menyampaikan apa yang aku rasakan malam itu. Angin pun sepertinya tak mau ketinggalan untuk menyampaikan rasa rindu ini. Dinginnya malam itu tidak terlalu aku rasakan, meskipun sejenak tangan ini terasa mati rasa dan desah nafas ini semakin terasa berat...

Mungkin rasa rindu itulah yang telah memberikan sebuah kehangatan yang sangat luar biasa di malam yang sangat luar biasa tidak biasa tersebut. Hujan semakin lama semakin tidak peduli lagi untuk tetap terus membasahi serta memberikan sebuah sensasi "kesegaran" yang luar biasa.

=================================================

Itulah sedikit sebuah kisah nyata dengan sedikit rekayasa (berarti bukan kisah nyata donk...? Hehe...) Ngomong-ngomong soal rindu, aku jadi teringat puisiku zaman dulu, judulnya "Kangen" ^_^

Walau jarak pandang terhalang
Namun mata ini senantiasa memandang...
karena Kau ada dalam ingatan...
aku tak pernah memikirkan Kau wujud di hadapan
tapi Kau selalu dalam do'a...
Kau yang jauh dari pandangan...

Dalam rindu menyelimuti kalbu
aku senantiasa menyebut namaMu
Meminta sesuatu hal yang sering menghantuiku
Berharap Kau menjaga dirinya dan diriku
Yang terpisahkan oleh sesuatu

Walau jarak pandang terhalang
Namun mata ini senantiasa memandang...
karena kau ada dalam ingatan...
aku tak pernah memikirkan kau wujud di hadapan
tapi kau selalu dalam do'a...
kau yang jauh dari pandangan...

===========================================================

Cirebon, 21 November 2012

Sunday, June 17, 2012

Tentangku yg dia tau ^_^

Lagi-lagi saya bukanlah orang yg membuat tulisan di bawah ini, tapi ini adalah tulisan hasil karya dia (yang namanya akan disebutkan di akhir tulisan ^_^). Jadi, ceritanya kami sedang ingin membuat tulisan tentang diri kami, tapi dengan peraturan yaitu saya membuat tulisan tentang dia dan dia membuat tulisan tentang diri saya. Sampai saat tulisan ini saya share di blog ini, kami memang belum terlalu tau detail tentang pribadi masing2, yang tentunya akan jadi bahan utama tulisan kami. Akan tetapi, menurut kami (lebih tepatnya saya =P), justru di sinilah yang akan jadi keunikan tulisan kami nantinya. Dengan berbekal sedikit hal yg telah kami tau dan informasi dari beberapa narasumber (mungkin saat kami berta'aruf dulu, dengan memanfaatkan informasi dari pihak ketiga yg kami percaya saat itu. Tapi kemarin dia sempat bilang kalo saat memulai nulis ini, dia udah gak tanya siapa2 lagi, kecuali tanya langsung ke orangnya. Hehe...) Baiklah, langsung aja saya persilakan para pembaca menikmati hasil karya dia, yang saya sayang ^_^  


nb : *mohon maaf kalo misalnya ada hal yg kurang pas tentang saya yg dia tulis dengan apa yg pembaca tau tentang diri saya. Yaaah.... namanya aja masih belum terlalu kenal. Tapi ntar seiring berjalannya waktu, jangan harap para pembaca tau lebih banyak tentang saya daripada si dia. Hihihi..... ^_^v


===============================================================


Namanya Setiawan. Yaa,, nama yang familiar dan favorit (bahasa yang lebih baik daripada “umumnya” :P). Biasa dipanggil Setia atau Wawan. Sepengetahuan penulis, lebih banyak yang memanggil Wawan. Lahir di Kota Magelang pada 10 Juni 1988, tepat 3 hari sebelum kedua orang tua penulis melangsungkan pernikahan.

Wawan terlahir sebagai anak ke-4 dari 5 bersaudara, dan sekaligus sebagai anak laki-laki pertama dalam keluarga Bapak Sugiyono dan Ibu Suwarti. Nampaknya Wawan ini begitu disayang oleh orang tuanya, dan pesan penulis “hati-hati mencuri hati anak kesayangan mertua” :D

Hingga usia 18 tahun hidupnya dia nikmati di Kota Magelang, belajar di sana hingga masa SMA nya. Sejarah pendidikan formalnya adalah TK Siwi Peni 5, SD Rejowinangun Selatan 3, SMP N 2 Kota Magelang, dan SMA 1 Magelang jurusan IPA. Setelah tamat SMA, Wawan ini hijrah ke Jogja untuk kuliah. Mmm sebenarnya istilah ‘balik kandang’ lumayan tepat, karena kedua orang tuanya asli Jogja, tepatnya Prambanan. Daan waktu kecil, Wawan ini sering nonton sendratari Ramayana. 

Wawan kuliah di Jurusan Teknik Kimia FT UGM angkatan 2006. Selama kuliah aktif di KMTK, MTQ, dan beberapa kali menjadi asisten praktikum, juga asdos. Setelah membuat rekor penulisan TA selama 3 minggu bersama partnernya yang juga sahabat karibnya, akhirnya Wawan diwisuda pada Agustus 2010. Setelah apply sana sini, dan ditolak maupun menolak akhirnya Wawan melabuhkan karyanya di sebuah BUMN yang sebagian kerjanya adalah membangun. (semoga termasuk membangun cinta bersama penulis :P) 

Wawan memiliki harap berupa KKN yaitu “Kuliah-Kerja-Nikah”. insyaAllah, harap itu akan segera terwujud. ^^v

dituliskan oleh Rina Indarwati di calon TKP walimahan,pada 5 Juni 2012 sekitar pukul 13:35.





===============================================================


Yupz..... Seperti itulah hasil tulisannya. Awalnya saya agak geli2 gimanaa... gitu waktu awal bacanya (sampe sekarang pun sebener'e masih ding... Hehe...) Ditambah agak penasaran juga, kok dia bisa tau yaa.... Tapi setelah aku ingat2, ternyata (kaya'e) dulu memang saya pernah cerita beberapa hal ke dia, yg ternyata dia tuliskan sebagiannya di atas. 


Sesaat sebelum memulai untuk nge-post & nambah2i intro tulisan dia, saya sempat izin ke dia, bolehkah tulisannya saya share di blog ini & ngasih komen juga. Dan jawabannya adalah "okee... nggih, Boleh2,, :-)" Saya pun langsung tambah semangat menuliskan intro di atas, dan beberapa komen pun siap menyusul di bawah ini. Langsung aja yaaa......


Pertama mengenai nama. Yaaahh.... memang saya akui Setiawan itu nama pasaran (bahasa lebih baiknya, nama familiar & favorit,seperti yg dik Rina tulis di atas). Sebelum saya minta izin share tulisannya (tepatnya 43 menit sebelumnya - ngerti thoo..... Hehe... =P), dik Rina sempat tanya "kalo nama mas Wawan, sejarahnya gimana?". Dan jawabanku pun simple, cukup satu kata "Rahasia" (#jahat banget yaak....?? Hihihi...^_^v) Kemudian untuk tanggal lahir saya, saya jadi teringat dik Rina pernah bilang kalo ibu bapaknya menikah tanggal 13 Juni 1988. Makanya dia sampaikan di tulisannya, "tepat 3 hari sebelum kedua orang tua penulis melangsungkan pernikahan."


Oke, next... Sebener'e saya masih bingung dan bertanya2, maksud dari kata2 “hati-hati mencuri hati anak kesayangan mertua” itu apa yaa....???? -_-a  (#dan saya pun berjanji pengen tanya ke dik Rina langsung, tapi bukan sekarang, melainkan setelah kami telah sah jadi suami-istri. Hehe... Upz.... ^_^)


Komen saya yg keempat adalah tentang masa kecilku yg katanya sering nonton sendratari Ramayana. Awalnya saya heran, kok dik Rina bisa tau yaa.... Yaaahh.... Walopun gak sering2 banget nonton sih... Soal'e saya nonton kalo pas ada kesempatan aja main ke rumah mbah dan diajak beliau (kadang juga diajak ma paklik) nonton pertunjukkan itu. Memang rumah mbah saya (baik itu mbah dari pihak bapak maupun ibu) ada di daerah Kalasan, lumayan dekat  (ya kira2 sekitar 2 km lah...) dengan daerah wisata Candi Prambanan, tempat diselenggarakannya pertunjukkan sendratari Ramayana. Setelah saya ingat2, nampaknya saya dulu pernah cerita ke dik Rina soal ini tapi saya lupa kapan itu. Hhhmmm..... -_-a  Tapi apapun itu, yg lebih penting sekarang ini adalah saya berharap suatu saat nanti saya dapat menonton sendratari Ramayana lagi, bukan bersama mbah  ataupun paklik, tapi bersama dengan sang istri tercinta.  #eyyyaaaa......... AMIIIIN.............. ^_^


Komen saya yg terakhir adalah kok dik Rina bisa tau ya, salah satu harap saya yaitu KKN (“Kuliah-Kerja-Nikah”). Kalo yg satu ini saya benar2 bingung dan terheran2, darimana ya dia bisa tau??? Seingat saya, saya belum pernah cerita deh tentang harap yg satu ini ke dik Rina. But, whatever lah... yg saya sangat setuju adalah kata2 selanjutnya, yaitu "insyaAllah, harap itu akan segera terwujud. ^^v"  Dan saat pertama kali baca tulisan ini, dalam hati saya bergumam, "dan engkaulah yg akan menjadi harapku"  Amin.....  #saya menggunakan kata "engkau" waktu bergumam karena dia tepat berada di samping saya saat saya pertama kali membaca tulisan itu. #eciyyeee......Cuit, cuiiit.... Haha.... =P


Oke deh para pembaca semua, saya sudahi tulisan saya (eh, kami dink... Hehe..). Udah malam juga ni (lihat kanan bawah monitor laptop, ternyata dah jam 11.45 pm). Saya udah agak ngantuk (tapi sebener'e pengen nonton EURO, :D ). Dan sebelum saya akhiri, saya mohon do'a pembaca semua, agar kami nantinya dapat menjadi keluarga yg sakinah, mawadah, warohmah, dan dapat senantiasa dalam ketaatan pada Alloh 'azza wa jala, dan do'a yg baik2 untuk kami. Amin..... ^_^


Salam Sehati to Semanggi,
Selaraskan Harapan Hati menuju Semangat Lebih Tinggi






Diselesaikan di kos Mampang Prapatan IV Jakarta, dan langsung di-publish kan ^_^

Saturday, June 16, 2012

Go to "Muster Point"


“ada banyak jalan menuju Roma, yakinlah ada satu yang paling efektif”
-insyaAlloh, Mario Teguh’s Quote-

Begitupun menuju rumah calon istri saya, di Bulurejo 09/07 Monggol Saptosari Gunungkidul 55871. Banyak alternative jalan, lewat rute standar kami (Gading – Siyono – Pancuran – Giring – Rumah), atau lewat Playen (Gading – Playen – Paliyan – Trowono – Baros – Bacak – Rumah), atau mungkin dari Imogiri males lewat Patuk, mending lewat Panggang. Ahaaa apapun itu, mari ambil jalan yang paling efektif. Karena dia yang lebih tahu medan (:P) mending untuk kali ini lebih baiknya anda manut aja apa yang telah calon istri saya tulis berikut ini, sekaligus melegakan kami bahwa anda sampai tujuan tanpa kesasar, aamiin. (komentar dia : "yaa memang agak wow rekor si mas, 3x datang ke rumah selalu kesasar -.-“). Oh iya, ada bonusnya. Bila anda tidak kesasar adalah senyuman, dan bila kesasar adalah candaan. Maka pilihlah bonus anda =)  
Dan berikut ini adalah hasil tulisan dia, Rina Indarwati, yang juga telah di post kan melalui blog nya, narinawati.wordpress.com (sekalian promosi blog nya si adik, hehe...) ^_^
======================================================
Saya berharap anda tahu rute menuju Gunungkidul dari Kota Jogja adalah lewat ringroad timur lalu masuk ke jalan Wonosari. Anda akan melalui 3 bangjo aka perempatan hingga akhirnya sampai di Piyungan. Perempatan ringroad timur Ketandan iku ciri2nya rame, ;D yaiyaalaah.. ada bis ngetem. Kalau Piyungan, tandanya adalah pertigaan. Ada palang menuju Kraton Boko dan ada bekas pasar tradisional.
Setelah Piyungan, anda akan melewati likuan “maze”, ndak horor kok. Ikuti saja jalan utama, anda akan melewati bukit bintang, Patuk, kali Penthung, Sambipitu, dan Hutan Bunder. Sepanjang jalan itu ada satu POM Bensin di kanan jalan sebelum pertigaan Sambipitu. Pada pertigaan Sambipitu, ambil kanan menuju kota. Lalu anda akan menemukan POM Bensin di kanan jalan dan bangjo setelahnya. Ini adalah bangjo pertama di Gunungkidul setelah dari Jogja. Tak jauh dari situ anda akan menemukan lapangan terbang dan pertigaan. Selamat, Anda sampai di titik 1. Itulah GADING. ;)
Pada pertigaan Gading, jangan ambil kanan. Jangan ikuti palang menuju Saptosari. Nyampe sih insyaAlloh, tapi jauh na’udzubillah. Saya aja kalau lagi ndak bener2 pengen, males lewat situ, he. Pada perjalanan ini anda akan menuju titik 2, yaitu Bunderan Siyono. Pastikan anda melewati RS Nur Rohmah, Tugu Batas Kota, dan POM Bensin di kiri jalan. Bunderan Siyono kadang disebut Bunderan BPD, gara2 logo Bank BPD yang nangkring di puncak gunung2an, ah apalah itu.. menurut saya tidak sopan, yaa walaupun dia mungkin adalah sponsor utama. Cukup mengacaukan denah ;P
Bunderan Siyono, titik ramai penyambutan bahwa anda telah setidaknya masuk gerbang kota Wonosari. Selamat ;)
Dari Siyono silahkan ambil lurus dikit lalu kanan. Bukan lurus terus yaa, karena itu menuju Kota ;D ikuti saja jalan utama hingga anda menemukan bangjo. Welcome inilah titik 3, bangjo Pancuran. Ciri yang menonjol adalah ada pohon beringin besar, dan nama jalane adalah Jalan KRT Judoningrat.
Silahkan ambil kanan atau menuju barat di perempatan Pancuran, dan lagi-lagi silahkan dan mohon ikuti jalan utama. Ikutilah denah yang saya gambar. Seberapapun anda penasaran, akan kemana belokan itu, mohon ditahan atau ditepiskan, karena kami menanti anda di rumah ;) sepanjang perjalanan tersebut akan anda temui SD Singkar, SD Siraman 3, Balai Desa Wareng, lapangan bola, persawahan, MTS Sodo, SD Sodo 1 dan 2, Pasar Sodo, dan selamat, tak jauh dari situ anda akan sampai pada titik 4. Pertigaan Giring. Ciri2nya ada tugu jam rusak, ada warung di pojokan, ada rumah bambu tempat jualan rumput dan bengkel. Sebentar lagi bintang anda akan berbentuk. Dan lagi-lagi saya mohon, seberapapun bagusnya jalan ke kanan/barat itu, mohon ambil yang kiri. Karena tujuan anda ada melalui jalan kiri ;P #lewat kanan/barat juga bisa, tapi jauh.
Setelah anda mengambil kiri atau timur, anda akan menemukan SD Giring dan Balai Desa juga TK, lapangan bola, dan balai dusun. Ouch maaf jalanan benar2 mulai rusak, bersiaplah untuk off road sederhana ;D jalan rempeyek kacang dan terowongan hutan. Lumayan untuk refreshing buat yang biasa berjibaku dengan kejamnya ibukota (aaaa lebay abiiisss). ikuti saja jalan utama sampai menemukan jembatan dan rumahnyempil di tengah hutan. Kami menyebutnya Pesarean Gunung Bagus, makamnya Jaka Tarub, Dewi Nawang Wulan dan Bondan Gejawan. Ouh tolong jangan mampir dulu, ingatlah kami di rumah, cemas menanti anda, nanti setelah dari tempat saya silahkan mampir ;)
Beberapa menit dari jembatan dan rumah nyempil itu, anda akan menemukan pertigaan. Nah sekarang silahkan belok kanan/barat. Terkadang memang kita mesti ‘kiri’ dulu hingga akhirnya ‘kanan’ ;p ikuti jalan cor blok hingga akhirnya menemukan kampung. Memang agak jauh karena jaraknya sekitar 1,5km. setelah menemukan perkampungan, selamat anda semakin dekat dalam pembentukan bintang, he.. pertigaan setelah jalan menurun silahkan ambil kanan lagi sampai menemukan pertigaan lagi. Nah selamat anda sampai di jantung kampung saya, Bulurejo.
Dengan senyum lega, Alhamdulillah, sugeng rawuh di gubug kami ;)
#semoga membantu kelancaran perjalanan teman2 ;) karena ternyata ada beberapa kekeliruan dalam denah yang termuat di undangan. Afwan.

Wednesday, February 29, 2012

Tips Memilih Hadiah Untuk si Kecil

“Sebentar lagi si kecil berulang tahun. Apa hadiah yang paling cocok untuknya yaa…?!? Any idea?”
^_^ Mungkin kata-kata di atas pernah terbersit di pikiran kita, apabila si buah hati (bagi yang sudah memiliki anak yang masih imut-imut alias masih kecil) atau mungkin ponakan kita yang masih “cute-cute” atau adik yang masih balita (anak-anak) akan segera bertemu kembali dengan tanggal dan bulan saat dia dilahirkan beberapa tahun yang lalu dan kita akan memberikan “sesuatu” kepada si jagoan cilik di hari tersebut. Seringkali bukan hanya saat si kecil berulang tahun saja, kita akan memberikan hadiah kepada si kecil.
Tak perlu bingung, saya akan sedikit memberikan saran dan masukan mengenai kiat-kiat (tips) dalam memilih hadiah untuk si kecil.
Bagi anak, hadiah menjadi bagian paling istimewa (terutama pada hari ulang tahunnya). Mainan, biasanya, merupakan hadiah yang disukanya. Ya… wajar saja! Si balita kini dalam tahapan bermain. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa jika akan memberikan mainan maka mainan yang seperti apakah yang cocok dan sesuai untuk si kecil. Selain itu, perlu diketahui pula mainan yang baik adalah mainan yang dapat bernilai edukasi bagi perkembangan si kecil (kalo istilah kerennya, dapat digunakan untuk “bermain sambil belajar”) ^_^
Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum kita membelikan “sesuatu” (khususnya mainan) sebagai hadiah untuk si kecil.

1. Jenis Kelamin
Pada dasarnya jenis kelamin si kecil kurang dapat menetukan dalam pemilihan jenis hadiah apa yang akan kita berikan kepadanya. Akan tetapi, untuk beberapa jenis hadiah akan menjadi kurang cocok dan kurang pas apabila diberikan kepada sang pangeran cilik (baca; anak laki-laki) atau si ratu cilik (baca: anak perempuan). Misalnya saja pistol mainan, akan menjadi kurang pas jika diberikan kepada anak perempuan. Begitu pula dengan mainan masak-masakan akan kurang klop jika diberikan kepada anak laki-laki.

2. Usia si Kecil
Menentukan hadiah harus melihat usia si kecil apakah hadiah itu sesuai dan bisa dipakai atau tidak. Jika usia sekolah, bisa diberi perlengkapan sekolah seperti tas, sepatu atau tempat makan untuk wadah bekal si kecil. Jika belum usia sekolah, bisa berupa boneka, kursi anak, buku mewarnai, dan lain sebagainya.

Boneka adalah jenis main yang dapat dikategorikan cocok untuk diberikan kepada anak segala usia. Namun kita perlu memilih jenis boneka seperti apakah yang akan kita berikan kepada si kecil. Berikut ini adalah sebagai gambaran saja hadiah berdasarkan usia si kecil.
  • Untuk si 1 tahun. Anda bisa memilih boneka yang tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Mainan lain seperti balok-balok atau mainan karet juga bermanfaat bagi si satu tahun yang tengah asyik mengeksplorasi dunia sekitar dengan kedua tangannya.
  • Untuk si 2 tahun. Anak usia ini sedang mengembangkan kemampuan motorik dan koordinasi otot besarnya. Anda dapat memilih hadiah berupa mainan yang dapat ditarik dan didorong.
  • Untuk si 3 – 5 tahun. Anda dapat memilih aneka mainan yang lebih bervariasi. Misalnya, mobil-mobilan, masak-masakan, atau sepeda.

3. Merangsang Perkembangan Kognitif
Dalam pemilihan hadiah, perlu kita perhatikan juga mengenai kebermanfaatan dari apa yang akan kita berikan kepada si kecil. Dalam pembahasan ini, akan saya khususkan mengenai hadiah dalam bentuk mainan.

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Beberapa jenis mainan hanya bersifat untuk permainan semata, akan tetapi banyak mainan juga dibuat dalam rangka menunjang proses belajar si kecil. Akan lebih bijak jika kita akan memberikan mainan sebagai hadiah bagi si kecil, maka kita pilihkan mainan yang dapat merangsang perkembangan kognitif si kecil. Sebagai contoh, kita dapat memilih puzzle yang sesuai dengan usia anak. Di pasaran tersedia puzzle dari yang berbentuk sederhana hingga yang lebih bervariasi.

4. Budget
Ini yang tak kalah penting dalam menentukan hadiah si kecil (^_^). Kita harus menyesuaikan hadiah dengan budget kita. Kita harus memperhitungkan dengan baik-baik. Jika ingin mendapatkan diskon, mungkin bisa sekaligus belanja agak banyak (untuk kebutuhan yang lain) sehingga kita bisa minta discount ke penjual. Cara praktis untuk menghemat isi kantong (^_^v)

5. Kreasi Sendiri
Hadiah untuk si kecil tak selalu harus mahal. Kita dapat mencari dan memilih hadiah yang sesuai untuk anak namun tak membobol kocek kita. Salah satu bentuk hadiah dapat kita buat sendiri berdasarkan kreasi dan kreativitas kita. Misalnya, kita dapat membuat boneka dari potongan-potongan kain berbagai tekstur. Atau mainan ular-ularan dari karton bekas dan gulungan tisu toilet yang dihias dengan berbagai warna.

Dalam berkreasi membuat “sesuatu” untuk si kecil, kita dapat mengajak si kecil secara langsung untuk ikut membantu dalam proses pembuatan tersebut. Selain dapat mengajak si kecil bermain, dengan hal tersebut akan dapat mengasah kreativitas si kecil dan juga dapat lebih mendekatkan hubungan kita pada si kecil.

6. Kualitas
Kualitas harus diperhatikan jika membeli hadiah, jangan hanya memilih murah tetapi ternyata barang cepat rusak. Mungkin kita dapat menanyakan ke penjual secara detail barang tersebut supaya tidak kecewa di kemudian hari.

7. Pastikan keamanan mainan
Bila si kecil berusia di bawah tiga tahun, jangan belikan ia mainan berukuran kecil. Atau, bila kita membelikan mainan dengan ukuran yang cukup besar, jangan sampai bagian dari mainan itu bisa dengan mudah dilepas menjadi bentuk kecil-kecil. Karena mainan tersebut dapat tertelan oleh si kecil.

Kita juga perlu memeriksa permukaan mainan. Hindari permukaan yang kasar atau berujung tajam, karena bisa melukai si kecil. Bila mainan tersebut berwarna-warni, pastikan cat/zat pewarna yang digunakan cukup aman. Dalam hal ini, kita bisa mengetahuinya dengan membaca keterangan pada label mainan.

8. Kemas secara menarik
Setelah kita mendapatkan “sesuatu” yang sesuai untuk si kecil, bungkuslah “sesuatu” tersebut dengan menggunakan kertas pembungkus dengan warna dan gambar menarik. Bagi si kecil, membuka hadiah merupakan pengalaman seru yang sangat ia nanti-nantikan. Si kecil tentu akan berharap-harap cemas, ”Apa sih isinya…? Surprise !” ^_^
Demikian beberapa tips dari saya, yang mungkin bisa membantu untuk memilih hadiah (khususnya hadiah ulang tahun) untuk si kecil yang kita sayangi dan yang menyayangi kita.

# This article is inspired from my niece's birthday on this weekend. For several days she calls me and hope I can visit her in Lampung. After I coaxed her to talk, turned out on March 4, 2012 she was just 4 years old. Fara Zahra, my niece the only one (from my little family). Hopefully next Sunday I can get the adventure, come back to Way Halim, Lampung. Amin…


Jakarta, 29 Februari 2012

^_^

Sunday, February 26, 2012

Saya dan Pernikahan

Bismillah..

Lets us talk, menuliskan apa yang bisa dituliskan. Hhmm… Enaknya nulis apaan ya…?!? Hehe.. Oh, ini aja. Tentang saya dan pernikahan. Hanya ingin bertukar pendapat dengan pembaca yang sempat membaca tulisan ini.

Setiap orang tentu memiliki gambaran sendiri tentang kehidupan pernikahan, baik itu sebelum, saat, maupun pasca-menikah. Jika pernikahan itu adalah sebuah kapal, tentunya setiap orang akan memiliki gambaran masing-masing seperti apakah kapal itu, akan berlayar di laut mana, dinahkodai siapa, dan lain sebagainya. Alangkah patut kita syukuri ketika kita bertemu dan berlayar dengan seseorang yang paling tidak memiliki gambaran yang sama tentang kapal itu (walaupun itu mungkin hanya 1 diantara 1000 pandangan). Siapalah yang tidak mengharapkan sebuah pernikahan yang dibangun karena-Nya dan untuk menggapai cinta dan ridho-Nya. Insya Alloh.

Beberapa tanya kadang muncul di dalam diri ini, dan yang akan saya tuliskan di sini hanya satu dari sekian banyak pertanyaan tersebut. Yaitu tentang “Bagaimanakah kita memandang pernikahan dan kehidupan berumah tangga?” Mungkin semacam arti pernikahan bagi diri sendiri (dan orang di sekitar kita).

^_^ Bismillah, inilah sedikit yang ada dalam pikiran saya saat ini tentang pernikahan...

Kapal... Yupz, kapal... Sebuah perumpamaan yg tepat dan memang sangat bisa menggambarkan kehidupan berumah tangga. Ada nahkoda, ada penumpang, ada perjalanan, ada tujuan, ada badai, ada kedamaian lautan, dan sebagainya. ^_^

Nikah, bagi saya bukan hanya tentang dua hati, bukan hanya sekedar menyatukan dua orang manusia, bukan pula menyatukan dua keluarga, tetapi lebih dari itu yaitu menyatukan semuanya, terutama semua yang berada di sekitar kita. Menikah bukanlah persoalan sepele, tapi sebuah keputusan besar yang membutuhkan pertimbangkan dari berbagai sisi (terutama dari sisi agama / syari'at). Begitu pula mengenai siapa yang akan kita pilih sebagai suami / istri, pasti juga akan ada banyak pertimbangan dalam memilih dan memutuskannya.

Kata orang, pernikahan bisa mengantarkan ke surga, tapi juga dapat menggiring kita menuju neraka. Dan bagi saya, pernikahan adalah surga di dunia. Dengan menikah, kita dapat menyempurnakan separuh agama. Dengan menikah, kita bisa lebih merasakan manisnya iman, cinta dan kasih sayang. Dengan menikah, berarti kita telah melaksanakan perintah Alloh ta’ala dan sunnah Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam. Dengan menikah, kita dapat lebih merasakan ketenangan. Dengan menikah, kita dapat lebih menundukkan pandangan. Dan dengan menikah, maka kita telah mempermudah jalan menuju surga Alloh ta’ala. Biidznillah…

Saya yakin pernikahan itu penuh dengan kebaikan, rasanya tidak ada yang perlu ditakutkan selama diniatkan tulus karena Alloh ta’ala dan untuk meraih ridho Alloh ta’ala. Rasa cinta kepada pasangan hidup itu bisa dibangun. Kita tidak harus menikah dengan seseorang yang kita cintai. Akan tetapi yang harus kita tahu adalah wajib untuk mencintai seseorang yang kita nikahi. Selama ada keselarasan tujuan dan kesejiwaan diri, insya Alloh semua akan berjalan dengan baik.

Tentang kehidupan rumah tangga, ada peribahasa (kalau tidak salah) bunyinya, "Langkah kesekian pasti dimulai (dan mungkin juga ditentukan) dari langkah pertama". Begitu pula dalam kehidupan berumah tangga, yang akan dimulai dari proses pernikahan (akad nikah), dan pernikahan diawali dengan pencarian / pemilihan calon pasangan yang nantinya akan menemani kita dalam "pelayaran".

Sebuah harapan tentang hidup berumah tangga mungkin dapat terangkum dalam kalimat yang akan saya kutip dari sebuah buku : “Kehidupan rumah tangga diharapkan menjadi tempat hunian yang nyaman. Tempat melepas lelah, membagi perasaan, mendiskusikan persoalan dan menjadi persemaian dan madrasah bagi generasi yang akan menggantikan peran orang tua di kemudian hari”.

Seorang suami haruslah dapat menjadi seorang pemimpin, sahabat, dan partner dalam keluarganya. Begitu pula seorang istri, dia harus dapat menjadi seorang kepala rumah tangga, sahabat, partner dalam keluarganya. Dan satu hal yang patut untuk disadari oleh seorang suami dan istri, yaitu mereka haruslah dapat saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Kata seseorang, ada ruang bernama komunikasi.

Pernikahan bukan titik berhenti untuk tetap berkarya (terutama bagi seorang istri). Kebermanfaatan suami dan istri (dan juga anak, jika telah diberi amanah oleh Alloh ta’ala) haruslah terus bertambah untuk masyarakat sekitar, terutama dalam hal agama. Walaupun sudah menikah, kita harus dapat membagi porsi untuk suami / istri dan anak, keluarga (terutama ayah, ibu, kakak, adik), sahabat / teman, dan masyarakat sekitar.

Dalam pandangan saya, menjalani kehidupan berumah tangga tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tetapi juga tidak sesulit menggenggam bara api. Kembali lagi ke kapal (sebagai analogi), dalam menempuh perjalanan menuju suatu tujuan pastilah akan menemui gelombang air yang tenang, angin yang menyejukkan, ikan yang menampakkan diri di permukaan, sampah yang terbawa arus laut, atau bahkan gelombang badai yang kita pun tidak tahu pasti akan terjadi kapan dan dimana. Akan tetapi, semua itu pasti akan dapat dilalui dengan baik dan akan dapat mengantarkan sampai di tempat tujuan yang sesuai dengan harapan kita, jika kita tetap berpegang teguh, yakin dan percaya pada alat penunjuk arah (radar, kompas, matahari, peta, atau semacamnya) yg terdapat di kapal tersebut atau yang kita bawa dalam pelayaran dan juga percaya satu sama lain dengan teman berlayar. Dan yang tidak kalah penting, adalah berdo'a dan ikhlas kepada yang menciptakan lautan tempat berlayar. (#bingung gak baca tulisan saya, hehe....)

Kalo kata ustadz Abduh Tuasikal (kakak angkatan saya waktu kuliah), “Menikah itu enaknya cuma 1%, sedangkan yg sisanya (99%) enak banget.” Hehe... ^_^

Mungkin segini dulu yang bisa saya tuliskan. Jika sekiranya ada hal-hal yang ingin ditanyakan atau disampaikan oleh para pembaca kepada saya, monggo, insya Alloh hal tersebut akan dapat lebih memperbaiki diri ini. Mohon maaf jika terdapat kata-kata yg kurang berkenan di hati para pembaca.


Salam,


^_^

-------------------------------------------------------------------------

Mampang Prapatan IV, Jakarta

26 Februari 2012

-------------------------------------------------------------------------