Wednesday, November 21, 2012

Aku merindukanmu, sungguh


Ketika aku mulai untuk melihat bayangan itu, sungguh benar-benar aku ingin segera memeluknya. Aku mulai bisa merasakan kenyataan akan hadirnya di hadapanku dan sekejap kemudian menatapku dengan tatapan yang sangat sayu serta senyum yang terkulum dengan manisnya. Sungguh senyum khas dirinya, senyum tiga jari, begitulah kami biasa menyebutnya. Aku kemudian menarik nafas yang sangat panjang. Bayangan itu menjadi semakin nyata, dan wangi itu semakin menusuk nuraniku.

Aku mulai memposisikan diri dengan lebih baik lagi di tempatku duduk, dan aku merayu dirinya untuk bersandar di pundakku. Sembari aku membelai rambut bergelombangnya yang terjuntai, kami sama-sama diam saling memandang. Dan aku pun masih terus saja membelainya.

Hujan rintik pun mulai berdenting penuh irama di atas genting, satu demi satu butiran air itu mulai membasahi bumi ini, bau khas tanah pun perlahan mulai tercium harum. Tidak deras memang, namun hadirnya serasa mewakili akan perasaan rindu ini. Kembali aku melihat bayangan tadi, masih duduk manis di sandaranku, namun tetap terdiam tanpa suara.

Hati ini sebenarnya berkehendak untuk mengajaknya berbicara, bercerita tentang apa yang bisa diceritakan, apapun itu. Akan tetapi, aku bingung untuk sekedar memulai pembicaraan. Bibir ini terasa berat untuk bergerak sehingga tetap terkatup dengan eratnya. Semakin aku mencoba namun tetap saja bibir ini tetap tidak mau membuka. Entah kenapa, aku pun tidak mengetahui sebabnya. Dalam diam, kami tetap saling memandang dan beradu senyum, dan hal inilah yang akan senantiasa aku rindukan kehadirannya.

Mendadak gelegar petir menyambar dengan kerasnya. Hujan memang tidak bertambah deras namun suara petir tadi sempat membuatku kaget untuk beberapa saat. Dan bayangan itupun tiba-tiba menghilang, lenyap dalam sekejap dari dekapanku. Aku berteriak,.. Ah, tidak. Aku rasa itu terlalu "lebay" menyebutnya demikian. Mungkin lebih tepatnya aku mengigau. Yupz... Mengigau menyebut namanya dalam gelapnya malam itu. Lampu yang cukup remang pun membuat suasana semakin kelam, namun aku tak terlalu mempedulikannya. Aku tetap saja mencoba untuk mencarinya. Aku bergegas segera bangkit dari tempat dudukku. Semua sudut segera aku tatap tajam, namun tetap saja bayangan itu enggan untuk muncul lagi. Apakah benar-benar menghilang, ataukah sekedar sembunyi karena malu, atau yang lain, aku pun tak mengetahui sebabnya.

Aku pun kembali terduduk terdiam mematung, menatap kosong ke arah datangnya hujan. Aku tidak ingin menyalahkan petir yang menggelagar tadi, aku juga tidak ingin menyalahkan remangnya temeram lampu yang mungkin turut menyembunyikan bayangan itu, sekali lagi aku hanya diam seperti biasanya diriku. Beberapa saat kemudian, kaki ini perlahan mengajakku untuk melangkah keluar, menatap lebih dekat tetesan air hujan yang tak begitu deras, kemudian menggoda diri ini untuk menerobos hujan rintik yang semakin lama terasa semakin deras membasahi bumi ini.

Dinginnya air hujan perlahan masuk membasahi tubuhku dan menusukku ke dalam. Namun aku tetap saja berjalan di tepian jalan yang anehnya aku sendiri pun belum tahu akan menuju kemana.

Sesaat kemudian, aku tersadar bahwa tubuh ini ternyata masih terbaring di atas tempat tidur penginapan ini. Hujan di luar sudah cukup deras. Gelegar petir pun semakin tidak tertahan, hampir setiap detik terdengar dentuman yang semakin keras, kilat pun tidak ketinggalan untuk meramaikan gulitanya malam itu.

"Ya Alloh ya Robbi, aku sangat merindukannya.. Semoga semuanya baik-baik saja. Hamba titipkan dirinya pada-Mu, ya Alloh." kataku lirih

Gelegar petir dan kilat terus bermain kejar-kejaran, seolah berlomba ingin menyampaikan apa yang aku rasakan malam itu. Angin pun sepertinya tak mau ketinggalan untuk menyampaikan rasa rindu ini. Dinginnya malam itu tidak terlalu aku rasakan, meskipun sejenak tangan ini terasa mati rasa dan desah nafas ini semakin terasa berat...

Mungkin rasa rindu itulah yang telah memberikan sebuah kehangatan yang sangat luar biasa di malam yang sangat luar biasa tidak biasa tersebut. Hujan semakin lama semakin tidak peduli lagi untuk tetap terus membasahi serta memberikan sebuah sensasi "kesegaran" yang luar biasa.

=================================================

Itulah sedikit sebuah kisah nyata dengan sedikit rekayasa (berarti bukan kisah nyata donk...? Hehe...) Ngomong-ngomong soal rindu, aku jadi teringat puisiku zaman dulu, judulnya "Kangen" ^_^

Walau jarak pandang terhalang
Namun mata ini senantiasa memandang...
karena Kau ada dalam ingatan...
aku tak pernah memikirkan Kau wujud di hadapan
tapi Kau selalu dalam do'a...
Kau yang jauh dari pandangan...

Dalam rindu menyelimuti kalbu
aku senantiasa menyebut namaMu
Meminta sesuatu hal yang sering menghantuiku
Berharap Kau menjaga dirinya dan diriku
Yang terpisahkan oleh sesuatu

Walau jarak pandang terhalang
Namun mata ini senantiasa memandang...
karena kau ada dalam ingatan...
aku tak pernah memikirkan kau wujud di hadapan
tapi kau selalu dalam do'a...
kau yang jauh dari pandangan...

===========================================================

Cirebon, 21 November 2012

No comments:

Post a Comment