Sunday, February 26, 2012

Saya dan Pernikahan

Bismillah..

Lets us talk, menuliskan apa yang bisa dituliskan. Hhmm… Enaknya nulis apaan ya…?!? Hehe.. Oh, ini aja. Tentang saya dan pernikahan. Hanya ingin bertukar pendapat dengan pembaca yang sempat membaca tulisan ini.

Setiap orang tentu memiliki gambaran sendiri tentang kehidupan pernikahan, baik itu sebelum, saat, maupun pasca-menikah. Jika pernikahan itu adalah sebuah kapal, tentunya setiap orang akan memiliki gambaran masing-masing seperti apakah kapal itu, akan berlayar di laut mana, dinahkodai siapa, dan lain sebagainya. Alangkah patut kita syukuri ketika kita bertemu dan berlayar dengan seseorang yang paling tidak memiliki gambaran yang sama tentang kapal itu (walaupun itu mungkin hanya 1 diantara 1000 pandangan). Siapalah yang tidak mengharapkan sebuah pernikahan yang dibangun karena-Nya dan untuk menggapai cinta dan ridho-Nya. Insya Alloh.

Beberapa tanya kadang muncul di dalam diri ini, dan yang akan saya tuliskan di sini hanya satu dari sekian banyak pertanyaan tersebut. Yaitu tentang “Bagaimanakah kita memandang pernikahan dan kehidupan berumah tangga?” Mungkin semacam arti pernikahan bagi diri sendiri (dan orang di sekitar kita).

^_^ Bismillah, inilah sedikit yang ada dalam pikiran saya saat ini tentang pernikahan...

Kapal... Yupz, kapal... Sebuah perumpamaan yg tepat dan memang sangat bisa menggambarkan kehidupan berumah tangga. Ada nahkoda, ada penumpang, ada perjalanan, ada tujuan, ada badai, ada kedamaian lautan, dan sebagainya. ^_^

Nikah, bagi saya bukan hanya tentang dua hati, bukan hanya sekedar menyatukan dua orang manusia, bukan pula menyatukan dua keluarga, tetapi lebih dari itu yaitu menyatukan semuanya, terutama semua yang berada di sekitar kita. Menikah bukanlah persoalan sepele, tapi sebuah keputusan besar yang membutuhkan pertimbangkan dari berbagai sisi (terutama dari sisi agama / syari'at). Begitu pula mengenai siapa yang akan kita pilih sebagai suami / istri, pasti juga akan ada banyak pertimbangan dalam memilih dan memutuskannya.

Kata orang, pernikahan bisa mengantarkan ke surga, tapi juga dapat menggiring kita menuju neraka. Dan bagi saya, pernikahan adalah surga di dunia. Dengan menikah, kita dapat menyempurnakan separuh agama. Dengan menikah, kita bisa lebih merasakan manisnya iman, cinta dan kasih sayang. Dengan menikah, berarti kita telah melaksanakan perintah Alloh ta’ala dan sunnah Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam. Dengan menikah, kita dapat lebih merasakan ketenangan. Dengan menikah, kita dapat lebih menundukkan pandangan. Dan dengan menikah, maka kita telah mempermudah jalan menuju surga Alloh ta’ala. Biidznillah…

Saya yakin pernikahan itu penuh dengan kebaikan, rasanya tidak ada yang perlu ditakutkan selama diniatkan tulus karena Alloh ta’ala dan untuk meraih ridho Alloh ta’ala. Rasa cinta kepada pasangan hidup itu bisa dibangun. Kita tidak harus menikah dengan seseorang yang kita cintai. Akan tetapi yang harus kita tahu adalah wajib untuk mencintai seseorang yang kita nikahi. Selama ada keselarasan tujuan dan kesejiwaan diri, insya Alloh semua akan berjalan dengan baik.

Tentang kehidupan rumah tangga, ada peribahasa (kalau tidak salah) bunyinya, "Langkah kesekian pasti dimulai (dan mungkin juga ditentukan) dari langkah pertama". Begitu pula dalam kehidupan berumah tangga, yang akan dimulai dari proses pernikahan (akad nikah), dan pernikahan diawali dengan pencarian / pemilihan calon pasangan yang nantinya akan menemani kita dalam "pelayaran".

Sebuah harapan tentang hidup berumah tangga mungkin dapat terangkum dalam kalimat yang akan saya kutip dari sebuah buku : “Kehidupan rumah tangga diharapkan menjadi tempat hunian yang nyaman. Tempat melepas lelah, membagi perasaan, mendiskusikan persoalan dan menjadi persemaian dan madrasah bagi generasi yang akan menggantikan peran orang tua di kemudian hari”.

Seorang suami haruslah dapat menjadi seorang pemimpin, sahabat, dan partner dalam keluarganya. Begitu pula seorang istri, dia harus dapat menjadi seorang kepala rumah tangga, sahabat, partner dalam keluarganya. Dan satu hal yang patut untuk disadari oleh seorang suami dan istri, yaitu mereka haruslah dapat saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Kata seseorang, ada ruang bernama komunikasi.

Pernikahan bukan titik berhenti untuk tetap berkarya (terutama bagi seorang istri). Kebermanfaatan suami dan istri (dan juga anak, jika telah diberi amanah oleh Alloh ta’ala) haruslah terus bertambah untuk masyarakat sekitar, terutama dalam hal agama. Walaupun sudah menikah, kita harus dapat membagi porsi untuk suami / istri dan anak, keluarga (terutama ayah, ibu, kakak, adik), sahabat / teman, dan masyarakat sekitar.

Dalam pandangan saya, menjalani kehidupan berumah tangga tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tetapi juga tidak sesulit menggenggam bara api. Kembali lagi ke kapal (sebagai analogi), dalam menempuh perjalanan menuju suatu tujuan pastilah akan menemui gelombang air yang tenang, angin yang menyejukkan, ikan yang menampakkan diri di permukaan, sampah yang terbawa arus laut, atau bahkan gelombang badai yang kita pun tidak tahu pasti akan terjadi kapan dan dimana. Akan tetapi, semua itu pasti akan dapat dilalui dengan baik dan akan dapat mengantarkan sampai di tempat tujuan yang sesuai dengan harapan kita, jika kita tetap berpegang teguh, yakin dan percaya pada alat penunjuk arah (radar, kompas, matahari, peta, atau semacamnya) yg terdapat di kapal tersebut atau yang kita bawa dalam pelayaran dan juga percaya satu sama lain dengan teman berlayar. Dan yang tidak kalah penting, adalah berdo'a dan ikhlas kepada yang menciptakan lautan tempat berlayar. (#bingung gak baca tulisan saya, hehe....)

Kalo kata ustadz Abduh Tuasikal (kakak angkatan saya waktu kuliah), “Menikah itu enaknya cuma 1%, sedangkan yg sisanya (99%) enak banget.” Hehe... ^_^

Mungkin segini dulu yang bisa saya tuliskan. Jika sekiranya ada hal-hal yang ingin ditanyakan atau disampaikan oleh para pembaca kepada saya, monggo, insya Alloh hal tersebut akan dapat lebih memperbaiki diri ini. Mohon maaf jika terdapat kata-kata yg kurang berkenan di hati para pembaca.


Salam,


^_^

-------------------------------------------------------------------------

Mampang Prapatan IV, Jakarta

26 Februari 2012

-------------------------------------------------------------------------

No comments:

Post a Comment