Friday, July 29, 2016

Mengharapkan Mudik


Lebaran 1437 H ini kami tidak mudik, berlebaran di rantauan saja bersama tetangga dan kawan-kawan. Alhamdulillah beberapa tetangga di sekitar rumah tidak mudik juga. Bagian menyedihkannya tentu saja karena tidak ikut silaturahmi keluarga di Magelang, Prambanan, dan Gunungkidul. Lebaran, selain silaturahmi biasanya juga untuk update gosip *eh.


Awalnya belum ada rencana lagi kapan mudik terdekat. Pasrah sajalah kapan mudiknya. Sampai akhirnya suami lihat-lihat kalender dan bilang, insyaAllah mudik nanti bulan September. O MasyaAllah seketika saya langsung berbinar. Baru aja ada rencana yang jelas, saya sudah bahagia lalu bagaimana jika terwujud? Nah, bagaimana kabar mimpimu sekarang? *sigh*


Saya lalu mulai mengingat makanan favorit apa yang bisa saya ditemukan di Magelang, merencanakan jalan kemana, merencanakan time-out berdua *berharap banget nanti duo bocil bisa dititipkan*, dan hal-hal yang menyenangkan dari mudik. Walaupun hampir bisa diprediksi, sebagian waktu mudik tetap hanya akan dihabiskan di rumah. Entah gitu ya, kalau dah di rumah rasanya mager gitu. Di rumah saja sudah senang, banyak makanan, banyak ponakan, dan suasananya enak banget buat tidur tanpa khawatir nanti saat bangun akan kelaparan atau harus masak dulu.


Beberapa hari lalu, kakak saya menghubungi kalau salah satu sepupu kami akan menikah di bulan kami mudik. Walau belum tahu apakah kami akan diajak pergi atau tidak, tetap saja sudah bahagia.


Selamat tante Ririn atas rencana pernikahannya, semoga dilancarkan segala keperluannya, sebelum, pas hari H dan setelah-setelahnya. Semoga nanti jadi keluarga sakinah mawaddah warahmah, aamiin.


PBM, 29 Juli 2016
Ibu yang nyicil seneng karena insyaAllah mau mudik 1,5 bulan lagi

Wednesday, July 1, 2015

Menabung ala Keluarga Semanggi

Keluarga Semanggi adalah bagaimana kami menyebut keluarga kami. Harapannya kami selalu 'semangat tinggi' dalam menjalani berbagai hal, salah satunya menabung.

Rumah Dinas Perusahaan (RDP) yang melenakan

Saat ini keluarga semanggi masih menempati RDP di kota tempat suami penempatan kerja. Fasilitas RDP sangat lengkap, beberapa diantaranya adalah kamar tidur lengkap dengan kasur dan lemari, kulkas, set meja makan dan peralatan makan, instalasi listrik yang memadai, wifi, telepon rumah, gas, dan air. Banyak ya ternyata, salah deh bilang beberapa *nyengir. Kami cukup menambahkan barang-barang yang sifatnya pribadi, misal magic com, dispenser, blender, dan berbagai alat elektronik lain yang diharapkan.

Kelengkapan fasilitas dan berbagai kemudahan akses membuat kami terlena. Apa pasal? Kami hampir tidak pernah mengeluarkan uang untuk perawatan rumah. Listrik, terintegrasi antara perumahan dan kantor. Gas, memanfaatkan gas sisa/sampingan dari produksi. Air, terintegrasi pula antara kantor dan perumahan. Rumput di halaman, ada kontrak pemotongan rumput dari kantor dan kami tidak perlu membayar. Jika ada sesuatu yang rusak atau ada yang perlu perbaikan, tinggal telepon bagian perumahan. Butuh berobat, biaya ditanggung asuransi perusahaan. Alhamdulillah yaa, sesuatu. Sampai saya pernah bercanda bersama teman bahwa kami yang tinggal di RDP ini belum merasakan hidup yang sesungguhnya. Kok bisa? Karena kami belum memikirkan bagaimana menyisihkan sebagian uang untuk bayar listrik, gas, air, telepon, dan perawatan rumah lainnya.

Kondisi seperti ini sungguh melenakan, bagai angin sepoi-sepoi yang menjatuhkan kera dari pohon kelapa. Walaupun lokasi RDP di kota dengan biaya hidup yang cukup tinggi, tetapi jika kami tidak peka dan cermat, bisajadi kami akan kalap atau malah kolaps. Maka dari itu, kami harus pintar menyisihkan sebagian dari penghasilan untuk persiapan nantinya. Misal ketika pensiun, resign, atau kondisi lainnya. Nah keluarga semanggi memiliki beberapa tips menabung, sebagai persiapan menghadapi hari esok. 

Memiliki beberapa rekening tabungan dengan tujuan khusus

Di awal berkeluarga, kami memeriksa rekening yang masing-masing kami miliki. Jika kami memiliki rekening di bank yang, maka salah satunya kami tutup. Rekening-rekening tersebut kami beri peran masing-masing.
Misal:
Rekening A : untuk aktivitas keluar masuk uang sehari-hari, ibarat dompet utama keluarga.
Rekening B : untuk tabungan persiapan nanti ketika tidak lagi tinggal di RDP, misal tabungan rumah, elektronik, liburan.
Rekening C : rekening titipan, karena sebenarnya uang yang disimpan di rekening ini adalah uang untuk orang tua, tabungan anak, dana darurat, dan tabungan istri.
Rekening D : khusus untuk dana pensiun

Setiap kali ada mutasi dari masing-masing rekening, kami berusaha untuk selalu mencatatnya. Agar membantu kami memantau kondisi keuangan kami dan memudahkan ketika sudah waktunya membayar zakat.


Menabung dalam bentuk perabot rumah tangga 

Sebagai ibu yang sehari-hari berkutat di rumah, kadang saya merasa butuh hiburan. Karena untuk bepergian membutuhkan perjuangan lebih, kadang saya menghibur diri dengan mengintip online shop *haha* dan ujung-ujungnya tergoda pada suatu barang. Tentu yang menarik hati ibu salah satunya adalah perabotan rumah tangga. Maka perlahan-lahan, saya mulai membeli perabot rumah tangga yang kira-kira mudah dibawa dan tidak terlalu berbahaya. Kepikiran nanti ketika akan pindahan rumah, jangan sampai memberatkan dan akhirnya masuk forum jual beli di kompleks, hehe. 


Menabung dalam sesuatu yang ‘hidup’ 

Menabung dalam sesuatu yang ‘hidup’ contohnya adalah memiliki hewan ternak. Beberapa waktu lalu kami memiliki sapi, yang dipelihara oleh saudara kami. Hal ini kami lakukan salah satunya untuk membantu saudara, karena ketika sapi dijual kami akan berbagi hasil dari laba penjualannya. Akan tetapi, memelihara sapi cukup lama masa berkembang biaknya, jadi kami berencana untuk membeli kambing saja. Masih rencana, semoga bisa segera terlaksana.


Mempersiapkan tabungan akhirat dengan ZIS

Hidup adalah ladang kita mempersiapkan sebaik-baik bekal untuk kehidupan akhirat. Salah satu bentuk kami menabung adalah dengan membayar zakat, rutin infaq dan sedekah. Hal ini sebagai usaha agar ‘nanti’ apa yang kita infak dan sedekahkan itu dapat menolong kita ketika kita mempertanggungjawabkannya di hadapan Pemberi Rezeki. 

Begitulah trik menabung ala keluarga semanggi. Yaa walaupun saya masih menabung dengan cara lama dengan celengan (yang lebih sering dibobol di akhir bulan), menyelipkan uang di dompet (ujungnya terambil juga), dan menjadi pejuang 20ribu. Setiap kali bertemu uang 20ribu, saya sisihkan dan untuk dipergunakan di keadaan mendesak. Eh, kok ujung-ujungnya terambil juga ya? Yaahh banyak gagal memang kalau menabung dalam bentuk kas. Haha.

Selain dengan cara sederhana seperti yang kami lakukan, bisa juga memanfaatkan jenis tabungan yang ditawarkan oleh berbagai bank. Banyak sekali produknya, kalau bingung, cari contekan di cermati.com saja.

 "Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Share Tips Menabungmu bersama Blog Emak Gaoel dan Cermati" 









Sunday, June 28, 2015

Tiga Tahun Pertama

24.06.12 - 24.06.15

2012 : Awalnya kami sendiri-sendiri, lalu memutuskan untuk bersama.

2013 : Setelah kurang lebih 10 bulan kami lebih banyak tinggal berjauhan, Allah mengijinkan kami untuk tinggal satu atap. Memulai hari baru di tempat perantauan. Kami masih berdua, tetapi ada yang mulai tumbuh di rahim saya. Ya, iyalah kado setahun pernikahan kami. Janin yang bertumbuh di rahim, seperti kami yang selalu bertumbuh untuk menjadi lebih baik.

2014 : Alhamdulillah kami sudah bertiga. Ditemani si kecil yang berusia 5 bulan. Dia menghadiahi kami kejutan bahwa pada bulan Juni itu dia bisa tengkurap, atas kemauannya sendiri tanpa bantuan. Kemampuan motoriknya memang lebih lambat daripada teman sebayanya. Akan tetapi, menyaksikannya mencapai milestone tertentu, insyaAllah selalu menambah rasa syukur kami.

2015 : Alhamdulillah kami masih bertiga. Si kecil mulai aktif berjalan kesana kemari dan mengeksplorasi isi rumah. Ada hadiah lain yang begitu berarti, ada yang kembali bertumbuh di rahim saya. Rasanya tidak terkira, Allah berkenan menambahkan jundi dalam keluarga kami. InsyaAllah tak lama lagi rumah akan bertambah penghuni. Semoga Allah memberikan perlindungan, pertolongan, dan melimpahi keberkahan dalam keluarga kami. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayahNya kepada kami agar kami mampu menjadi orangtua yang saleh sholehah yang mampu membimbing dan menemani tumbuh kembang anak-anak kami dalam kebaikan, kelak menjadi hamba Allah yang sholeh-sholehah. aamiin.

Tiga tahun pertama, semoga kami bisa menjaga antusias kami dalam belajar dan mempelajari sesuatu serta mengamalkan agar menjadi insan yang mulia. aamiin

Saturday, June 27, 2015

Mudik Magelang : Wisata Play Ground (1)

Bulan Maret lalu, suami mengambil jatah cuti tahunannya yang masih beberapa hari. Kami memutuskan untuk pulang ke Magelang. Sekitar 10 hari kami di Magelang dan rasanya tetap kurang puas. Ah kalau di Magelang mah mau lama-lama juga betah, asal sekeluarga, he.

Ada salah satu ponakan yang 'nemplok' banget sama suami, bahkan sampai kami punya anakpun masih juga 'nemplok'. Blas nggak ada menghindar atau cemburu sama anak kami. Saking nemploknya, beberapa hari selama kami di rumah salah satu agenda rutinnya adalah mengantar jemput dia sekolah, dan berbonus main dulu di taman bermain. Ini beberapa taman bermain yang sempat kami kunjungi.

Gardena

Sejujurnya, saya lupa nama tempat bermainnya. Letaknya di sebelah swalayan Gardena Magelang. Ada macam-macam mainannya, seperti mandi bola, undian, odong-odong, dan kids land. Kids land atau apa ya namanya ini adalah area khusus untuk bermain pasir dan ada beberapa play house serta ayunan. Untuk masuk Kids land, tidak menggunakan koin melainkan voucher.
Kids land; playhouse dan beberapa mainan

area kids land

Kami kecelik nih disini, dikiranya si ponakan minta main semacam mandi bola atau odong-odong, jadi di awal kami beli koin Rp20.000, sekalian modus biar bisa ambil undian. Ndilalah  kok ponakan bablas saja menuju kids land, dan saya baca sekilas untuk masuk memakai voucher. Aduh mak, tau gitu. Akhirnya saya membeli voucher 1, Rp5.000 untuk 30'. Dan selama 30' pertama si ponakan anteng main pasir, skuter mini, menjelajah play house ditemani oleh suami. Saya? Nyicil menghabiskan koin sambil menggendong si kecil yang tidur siang. Beberapa saat kemudian, si kecil bangun, pas dengan beberapa menit lagi jatah waktu kakak sepupunya habis. Akan tetapi, tetapi, kok si kecil kelihatan pengen masuk kolam pasir juga. Thoeng.. Akhirnya saya membeli lagi 2 voucher untuk 2 bocah yang ingin bermain pasir.
asyik bermain pasir


Awalnya si kecil cuma lihat-lihat kakak sepupunya. Lalu saya ajak main di playhouse, coba skuter mini, dan berakhir di ayunan. MasyaAllah dia bahagia sekali main di ayunan, saking bahagianya sampai gak mau dipegangin dan kadang gerakannya tambah kencang. Anak happy, simbok ketar-ketir takut anaknya jatuh. Ketika jatah waktunya habis, 2 bocah ini kelihatan enggan untuk pulang. Yaa maafkan nak, tetapi kalian butuh tidur siang. Apalagi si ponakan ini, yang gampang banget tidur. Bonceng berdiri di depan aja dia bisa tidur lhoh. Sungguh sesuatu yang medeni.
naik skuter mini :D

mainan ayunan;  gayanya mau nyalain mesin odong2; terjebak di playhouse


Dekat tempat bermain ini, bahkan di sebelahnya ada kios-kios kecil jual makanan. Ada yang jual kebab lho :D dan ada swalayannya juga. Kalau lupa bawa makanan bisa mampir di kios ini atau ke swalayan atau bisa juga jalan sebentar menuju alun-alun magelang. Ada kuliner sejuta bunga di situ, emm nama resminya lagi-lagi saya lupa. Yaaa tapi saya belum ada rekomendasi makanan yang enak di sepanjang kuliner sejuta bunga alun-alun, palingan angkringan, itupun adanya kalau maghrib, he. Alhamdulillah kemarin sempat ngangkring juga. Mudik tanpa ngangkring itu rasanya kayak ada yang kurang, hihi.. 

PS : tempatnya cukuplah untuk bermain. Waktu itu kami bermain di hari sekolah dan siang hari, jadinya berasa main di taman sendiri, haha. Butirannya pasir ukuran sedang, tak sehalus pasir pantai. Tidak begitu luas memang dan mainannya pun mencukupi. Kalau arena mandi bola kelihatan gelap, dan saya tidak tahu apakah bola-bola dan tempatnya rutin dibersihkan.


Wednesday, May 13, 2015

Camilan Andin

Beberapa hari ini Andin hampir selalu rewel ketika bangun tidur. Padahal ya, baru krusel-krusel gitu biasanya langsung Ibu sumpel ASI. Kadang mempan beberapa menit, habis itu rewel lagi. Pernah saking rewelnya sampai Ayah terlambat ke kantor *biasanya juga telat :P.

Usut punya usut setelah  diperhatikan, produksi ASI Ibu tampaknya berkurang dan lambung Andin yang membesar tak cukup terpenuhi hanya ASI. Yaiyalah bu,, dah dari masa MPASI kalee .. Hehe karena Andin ini waktu awal MPASI sampai usia sekitar setahunan termasuk anak yang irit makannya. Lebih banyak mengandalkan ASI.

Untuk membuat pagi yang lebih bahagia Ibu belajar membuat camilan ringan (tapi kalori tinggi) untuk Andin. Maklum, Ibunya susah bangun pagi jadi kadang sarapan kadang nggak, seadanya. *sedih. Alhamdulillah Andin suka dengan camilan yang Ibu buat. Aih, bahagianya hati Ibu tak terkira, jadi tambah semangat untuk mencoba membuat camilan yang lain. *cium Andin


BONGKO ROTI TAWAR 

Resep bongko ini Ibu dapatkan dari blog masakan mbak HM Zwan di hotwajan.blogspot.com. Foto masakan di blog mbak HM Zwan kece badai, tsah, keren banget lah pokoknya. Dan itu cuma berbekal kamera handphone. Yaa yang ada bakat dan nggak emang keliatan bedanya *membela diri.
Ibu senang waktu menemukan resep bongko ini, karena ada stok pinggiran roti tawar. Entah beli jaman kapan. Saban membuka kulkas, rasanya selalu diawe-awe untuk segera menyelamatkannya. Resep aslinya silahkan intip di alamat blog di atas. Yang ditulis kreasi Ibu saja :)

Bahan:
Pinggiran roti tawar, sobek-sobek kecil
Santan instan secukupnya
Gula pasir sesuai selera
Sejumput vanili
sejumput oatmeal

Cara:
1. Dalam sebuah wadah, campur rata semua bahan. Silahkan dicicipi sesuai selera, manisnya, atau kekentalannya.
2. Tata dalam wadah tahan panas, kukus selama kurang lebih 20'.
3. Setelah matang, angkat dan sajikan. Bisa disimpan di kulkas kalau membuat lebih.

PS:
*Bahan-bahan bisa dikreasikan ya, bisa ditambah pisang, telur, susu. Sesuai selera dan ketersediaan bahan di rumah.
*Wadah tahan panaspun bisa dikreasikan juga, bisa pakai daun pisang atau kontainer yang tahan panas :)
*Proses memasak bisa diganti dengan dipanggang
*its all up to you mom, yang penting masak dengan hati bahagia, hehe


PIE JAGUNG KUKUS

Kalau ini resepnya Ibu lupa darimana. Awal Andin MPASI Ibu googling aneka menu dan resep ini ikut tertulis di buku catatan resep. Tadi pagi waktu belanja di pak sayur lihat jagung manis langsung dibeli, karena dah kepikiran sama resep ini dari beberapa hari kemarin. Selain itu sebagai alternatif memberikan asupan karbo, selain yang sudah-sudah.

Bahan:
1 buah jagung manis, silahkan dipipil, diiris, atau diparut sesuai dengan kondisi anak. *saya iris tipis2
1 sdm keju parut
1 sdm oatmeal
30-50ml susu formula/UHT/ASI sesuai kekentalan yang diinginkan *saya pakai susu formula

Cara: 
1. Dalam sebuah wadah, campur rata semua bahan
2. Tata dalam wadah tahan panas, lalu kukus selama 15'

PS: sama dengan resep sebelumnya :)

Alhamdulillah Andin suka. Tadi kenyataannya nggak satu buah jagung manis, karena sebagian ikut dimasak sayur bening. Jadi 2 mangkuk kecil dan habis oleh Andin dalam 2 sesi. Efek sampingnya, hampir seharian Andin tidak makan nasi. Gak apa-apa nak, ngemilmu hari ini lumayan banyak kok :)

Sekarang Ibu lagi mikir besok buat camilan apa ya? Andin butuh lebih asupan sayur karena beberapa hari ini BABnya kurang bagus. Identifikasi awal karena kurang makan buah dan sayur.
:)
Semoga semakin hari makin pintar makan dan sehat selalu, aaminn

Salam bahagia,

Ibu

Friday, January 2, 2015

Assalamu'alaykum :)

Bismillah,


Alhamdulillah blog ini dihidupkan lagi, setelah selama 1 tahun lebih mati suri. Awalnya blog ini adalah blog Ayah waktu masih single, hehe makanya tulisan di blog ini kebanyakan puisi. Ada puisi yang ditujukan untuk Ibu lho, hihi *ngumpet dibalik bantal*. Setelah menikah, Ayah lalu disibukkan oleh kegiatan OJT jadi blog ini mulai terbengkalai. Ibupun awalnya tak tertarik untuk menghidupkan blog ini, karena Ibu gak bisa buat puisi, hehe, memahami makna dibalik suatu puisi aja butuh waktu yang lama apalagi buat puisi, hedeh -,-! Ibu bisanya apa ya? *mikir keras*

InsyaAllah mulai tahun ini, blog ini akan dihidupkan lagi. InsyaAllah akan digunakan untuk merekam jejak 'Keluarga Semanggi'.

Kenapa 'Keluarga Semanggi'?
Entahlah. Ibu aja gitu yang awalnya suka semanggi, berawal dari baca komik Yotsuba. Yotsuba yang bahagia banget menemukan semanggi yang berdaun 4. Sesederhana itu kok. Selain itu semanggi kan warnanya hijau, jadilah Ibu tambah suka. Saking sukanya, undangan pernikahan Ayah-Ibu bertema semanggi, hehe.

Kenapa alamat blognya tidak diganti?
Menurut Ibu, ini untuk mengapresiasi Ayah, hehe. Bagaimanapun juga awal ada blog ini kan karena Ayah. *apa sih*

ada lagi yang mau ditanyakan? Ndak ada?
Okee, cukup ya.. Kalau ada yang mau ditanyakan lagi, bisa via kolom komentar. Atau kalau nanti ada yang mau ditambahkan lagi, insyaAllah diupdate. hehe.


Salam dari kebon,

Ibu

Monday, September 30, 2013

Khayalanku, Harapanku, Doaku


Khayalan ini berawal ketika aku mengingat kembali tentang hal-hal yang telah terjadi dalam hidupku. Sebagiannya berawal dari sebuah khayal, kemudian diam-diam dituliskan dalam buku harian, terkadang terucap lantang ketika berdiskusi dengan kawan, dan diam-diam pula ikut disertakan dalam doa. Tentu Kuasa dan Izin-Nya tak mungkin lepas dari setiap kisah hidupku. Beberapa diantaranya seperti kota tempat aku sekolah menengah, usiaku saat aku menikah, dan tempat tinggalku saat ini.
Diantara sekian banyak khayalan itu, pernah pula aku berkhayal tentang kabar buruk. Sedih sekali waktu salah satu saudaraku mengalami kecelakaan dengan kondisi yang hampir seperti dalam khayalanku. Astagfirullah. Sejak itu aku berjanji untuk selalu berkhayal tentang kebaikan, dan berharap suatu saat dapat mewujudkannya.
ini beberapa khayalanku yang lain :

1.      Menghidupkan kampung halamanku
Kampung halamanku ada di Bulurejo, Saptosari, Gunungkidul, DIY. Bisa jadi kalau searching tentang Saptosari, berita yang banyak muncul adalah isu tentang kristenisasi, terutama untuk mengatasi kekeringan. Ya, itu benar adanya. Alhamdulillah untuk kampungku bebas dari isu kristenisasi. Warga kampungku bisa dibilang saklek dengan pemahaman yang mereka miliki, walaupun itu masih sangat abangan dan kejawen. Kenapa aku ingin menghidupkan kampungku?
Berawal dari miris ketika sejenak meluangkan waktu mengingat tentang kampungku. Kampung itulah tempatku bertumbuh, memberikanku kesempatan menikmati masa kecil yang membahagiakan, dan sampai sekarang tak pernah berubah. Kampung yang masih ramah. Akan tetapi, sejenak bergeser mengamati elemennya. Pemuda-pemudi yang bisa dibilang nakal dan tak memiliki daya juang. Rasanya memang tak pantas aku mengatakannya, karena akupun jarang berinteraksi dengan mereka. Setidaknya begitulah yang terlihat. Lulusan SD tidak mau melanjutkan ke SMP jika tidak dibelikan sepeda motor, yang sudah lulus dan pengangguran masih mengandalkan orang tua untuk membeli bensin. Pemuda yang semestinya usia produktif bekerja, seringkali asik terlihat bergerombol di pos ronda, sekedar duduk-duduk tanpa karya. Masjid sepi, tidak ada TPA. Jamaah masjid didominasi warga yang sudah tua. Padahal pemuda-pemuda itulah yang nantinya akan menggantikan yang tua memimpin kampung, merekalah yang akan memegang estafet berikutnya.
Untuk mewujudkan khayalan ini, cara-cara yang sempat terpikir adalah menghidupkan TPA, pengajian pemuda di malam minggu, memulai taman baca dan belajar bersama. TPA, taman baca, dan belajar bersama sudah sempat dimulai beberapa waktu lalu. Akan tetapi, harus vakum, karena aku pindah tempat tinggal ikut suamiku. Bukan karena aku pindah kurasa, tetapi salah satu hal yang dibutuhkan untuk mulai menghidupkan kampungku adalah tokoh. Tokoh yang tak kenal lelah untuk berjuang, dan tanpa pamrih pastinya. Semoga. Bulurejoku akan segera hidup dan menghidupi dengan penuh kebaikan.

2.    Mendirikan taman baca
Aku sangat menyukai membaca buku, dan aku memiliki beberapa koleksi buku di rumah. Pengen buat taman baca biar rumah ramai akan anak-anak, karena aku juga suka bertemu dengan banyak orang. Ini juga salah satu khayalan untuk mewujudkan khayalan yang pertama, (lhah kok penuh khayalan ya? -,-!). Taman bacanya ada di halaman rumah, buat bangunan tersendiri berbentuk saung dari bamboo. Jadi nanti kalau banyak anak-anak yang main, mereka bisa puas mengobrak-abrik buku tanpa takut kena marah oleh pemilik rumah, hehe.. Saat ini, mulai nambah-nambah koleksi buku dulu.

3.       Menghidupkan kompleks perumahan
Per April kemarin aku pindah tempat tinggal ikut suamiku. Kami tinggal di kompleks perumahan kantor. Banyak sih rumahnya, tetapi rasanya sepi sekali. Tidak seperti di kampung, ramai dan saling berkunjung. Nah-nah aku berkhayal untuk bisa menghidupkan kompleks perumahan, minimal dari tempat tinggalku dulu yaitu blok Jl Kebun Pramuka. Blok ini menurutku potensial karena seperti kampung tersendiri yang seperti terpisah dari jalan yang lain, selain itu penghuninya sedikit. Kepikirannya sih seperti arisan sebulan sekali, nonton bareng piala dunia atau acara lain, dan ibu-ibunya buat klub memasak atau klub merajut. Atau akan lebih seru lagi jika ada gathering. Hmm. Sebenarnya berkhayal ini karena mupeng lihat blog teman yang bercerita tentang hidupnya kompleks tempat dia tinggal.

4.       Klub ibu hamil
Menjalani kehamilan pertama, di tempat baru dan jauh dari keluarga itu rasanya aku butuh dukungan. *pengen teriak*. Lagi-lagi karena pernah mendapati klub serupa di Jogja dulu, jadilah aku berkhayal andai saja ada klub ini di kompleks ini, huks. InsyaAlloh akan menyenangkan. Banyaknya teman yang senasib dan sepenanggungan itu rasanya mengurangi sedikit beban yang kita rasakan. Andai saja, klub ini sudah ada dan tiap minggu ada kelas sharing untuk membekaliku sebagai calon ibu baru, lain waktu sesi kelas adalah senam hamil. Sungguh berharap.

5.       Stay at home mom, dan berbisnis
Menikmati hari-hari di rumah sebagai ibu rumah tangga itu menyenangkan tetapi lama-lama bikin berpikir cerdas bagaimana mengisi waktu agar tidak mati gaya. Memang sudah menjadi pilihan dan didukung oleh suami, tetap tinggal di rumah dan nantinya mendampingi si kecil full time. Akan tetapi, tidak mau biasa-biasa saja, pengen juga berbisnis dari rumah, lalu berpenghasilan sendiri. Pengen banget bisa berpenghasilan sendiri sehingga bisa leluasa untuk memberi dan berbagi, amiin.

Yuhhuuu,, sebagian khayalanku, yang lainnya banyak di buku harian, hehe. Atau yang lainnya nunggu muncul ke permukaan. Khayalan itu aku tuliskan, agar tetap teringat, dan suatu saat bisa mewujudkannya.

Khayalan ini dituliskan oleh si istri, Rina Indarwati, diikutkan dalam “Khayalan ini diikutsertakan dalam Giveaway Khayalanku oleh Cah Kesesi Ayutea”

Wednesday, May 15, 2013

Menjadi Bahagia

Malam itu,,
Dia beranjak menuju laptop, bukan meja dimana pena dan 'buku ajaib'nya berada. Biasanya dia akan menulis ketika perasaannya tidak menentu. Aku, beranjak saja tidur. Biarkan dia menikmati waktunya. Toh aku desak pun dia tidak akan bersuara, paling banter akan menyodorkan kertas yang berisi kata-kata yang disampaikannya padaku. Seingatku dia pernah berkata ,"nggak sanggup ngomong, jatuhnya malah nangis". Errrrr

Kemarin lalu dia bercerita, ada yang aneh dengan kehidupannya akhir-akhir ini. "kayak ada yang mati gitu". Akan tetapi dia juga tidak tahu apa yang mati, lalu bagaimana aku bisa tahu, sedangkan setiap hari dia selalu ceria ketika kami bersama. Dia masih dengan sifatnya, ngeselin di berbagai sisi, manja juga, dan tak lupa ngangenin =))

Aku sudah lelap tertidur. Tanpa aku tahu, ternyata dia membuka email. Aha, bagaimana aku tidak tahu bahwa dia sudah sekali membuka catatan lamanya, membaca kembali ceritanya ketika dia sedang jatuh, bagaimana untuk bangkit lagi. Dan dia akan mencoba membangkitkan lagi semangatnya hari ini, "dulu aku pernah mengalami itu dan aku bisa". Ibaratnya, ketika dia membuka catatan lama, dia mencari 'kunci'. Sesuatu yang dia pegang, yang kadang terlupa karena derasnya informasi saat ini. Aku tahu alasan itu tidak seharusnya terjadi. Mestinya 'kunci' itu tidak terlepas dari dirinya, karena hanya dia yang punya. 'Kunci' itu tak akan terganti.

Malam semakin larut, dia menelusuri sebagian inbox email. Dibaca sekilas saja, hingg sampai pada inbox yang ini,..
Story from John Maxwell's wife :

Suatu ketika istri John Maxwell (pembicara motivator top) Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang "kebahagiaan". Maxwell
sang suami duduk di bangku paling depan dan mendengarkan.
...

Di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan dan tiba, sesi tanya jawab.

Setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya.. "Mrs. Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?"

Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, "Tidak..."

Seluruh ruangan terkejut. "Tidak..." katanya sekali lagi,"John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia."

Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat-cepat keluar. Kemudian, lanjut
Margaret, "John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik.

Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia selalu setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia."

Tiba-tiba ada suara bertanya, "Mengapa?"

"Karena," Jawabnya, "Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain DIRIKU SENDIRI."

Margaret mengatakan, tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu. Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia.

Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri.. Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kamu tidak akan merasa sedih.

Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar. Bahagia atau tidaknya hidupmu bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu, cantik istrimu/gagah suamimu, atau sesukses apa hidupmu.

Bahagia adalah "PILIHANMU SENDIRI"

Klik: http://www.TheologiaOnline.com/ <http://www.theologiaonline.com/>

===================================================

Dan inilah komentar mas tentang artikel di atas :

"Yang ingin mas garis bawahi adalah, Bukan karena suami (atau orang lain di sekitar kita) yg tidak akan pernah bisa membuat kita bahagia. Bahkan untuk statement yg ini mas kurang setuju, karena bahagia bisa didapat karena adanya faktor dari luar juga (selain yg paling terbesar memang karena faktor dari diri sendiri yg lebih dapat membuat kita merasa bahagia). Akan tetapi, mas ingin menyampaikan bahwa pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak. Dan statement itulah yg menjadi jawaban atas pertanyaan mas pada diri sendiri juga mengenai mengapa mas selalu ingin membuat orang di sekitar mas (dan berpesan ke mereka) itu harus selalu berpikir positif, entah itu saat kita sedang mendapat kesuksesan (rizki) maupun saat kita sedang diuji dengan sesuatu hal. Dan sebagai penutup, Mas ingin menyampaikan sebuah kata2 yg tiba2 terlintas di pikiran saat membaca artikel di atas, yaitu Alloh itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. ^_^

#dheg..
Dia tertegun lama, diam. Inbox itu sampai sudah sangat lama, hampir setahun yang lalu. Diamnya adalah proses dia mengumpulkan kesadaran. Akhir-akhir ini, dia hidup dalam sebuah mindset yang salah, dalam pemahaman yang kurang tepat.

Tidaklah kebersamaan itu selalu membahagiakan
Tidaklah berjauhan itu selalu menyiksa
Tidaklah berkelimpahan itu membuat tenang
Tidaklah sebuah 'status' lantas membuat bahagia, selalu bahagia
Ah,, bahagia itu jauh lebih sederhana,
Bahagia itu dalam kelapangan hati, keikhlasan, keridhoan atas setiap takdir-Nya
Bahagia itu dalam pemahaman yang benar, pengertian yang sesungguhnya

Sejak malam itu, dia kembali tersadar, "pandai-pandailah memilah mana tujuan dan sarana, kemudian berfokus berikhtiar dalam tataran sarana, dan tetap teguh dalam tujuan"


Prabumulih, 15 Mei 2013
deretan kata, antara nyata dan khayal
"cita-cita akhirat ku adalah berkumpul dengan orang-orang yang aku sayangi di surga Alloh. waktu aku ke pantai itu aku seneng, tapi njuk sedih. aku menikmatinya sendirian. nah aku nggak mau nanti    kalau di surga sendirian. aku mau kita bareng-bareng di surga"

Sunday, November 25, 2012

Tanggal ini setahun yang lalu


Ceritanya berawal dari sini, tadi pagi saya iseng-iseng membuka kembali SMS-SMS masa lalu yang masih tersimpan di HP saya. Dan sengaja pagi tadi itu saya hanya memilih membaca beberapa SMS dengan tanggal seperti hari saat ini, 25 November. Saya hanya iseng saja ingin bernostalgila dengan membaca kembali komunikasi-komunikasi yang pernah saya buat dengan tanggal yang sama dengan hari ini (entah itu tepat satu tahun yang lalu atau beberapa tahun yang lalu), khususnya komunikasi melalui layanan short message service. Ternyata masih cukup banyak SMS yang masih tersimpan dengan tanggal 25 November 2011 (yang tahun-tahun sebelumnya sudah hilang saya hapus) dan beberapa dari banyak SMS itu adalah dari istri saya, Rina Indarwati. Selama membaca semua SMS satu tahun yang lalu itu, saya jadi teringat beberapa kejadian yang pernah saya alami saat itu. Dan kemudian saya tergoda untuk membuat tulisan ini, untuk sedikit berbagi kisah terutama kisah antara saya dan istri saya tepat satu tahun yang lalu. Selamat menikmati ^_^
Jum’at 25 November 2011, tepat satu tahun yang lalu, saya dan istri saya masih belum menjadi siapa-siapa, belum terucap janji suci yang menjadikan kami satu. Saat itu kami memang tidak sedang berinteraksi secara langsung (maksud’e tidak ketemu langsung face to face gitu lah). Yupz… saat itu saya sedang berada di Lampung (waktu itu saya masih bekerja di sebuah perusahaan EPC, dan tergabung dalam proyek pembangunan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) 2 x 100 MW di desa Sebalang, Tarahan, Lampung Selatan) dan saya tidak tahu sedang dimana dia berada (tapi sebatas tebakan saya saja, dik Rina sedang di desa tempat dia dilahirkan dan dibesarkan, Bulurejo Monggol Saptosari Gunungkidul DIY). Oya, beberapa hari sebelumnya tepatnya hari Selasa 22 November 2011, dik Rina baru saja diwisuda dan saya sempat pulang ke Jogja, sempat mampir ke Grha Sabha Pramana UGM juga. #Njuk ngopo? Hehe…
Kembali ke cerita setahun yang lalu, sebenarnya tidak ada kejadian yang “wow” secara langsung karena memang pagi itu saya dan dik Rina hanya berSMSan saja. Sebagian SMSan kami saat itu masih tersimpan di HP saya (baik itu sent item dari saya maupun inbox dari dik Rina). Agak merasa “gelo” juga sih karena sebagian SMS yang lain sudah saya hapus,. Tapi tak apalah, yang terpenting inti dari pembicaraan saya dan dik Rina masih tersimpan rapi di HP saya dan bisa saya baca ulang kapanpun dan dimanapun (mantep kan? Hehe..).
Jam 10.52 waktu HP saya, dik Rina mengirim sebuah SMS. Sebenarnya saya duluan sih yang mengawali SMS di hari itu (jam 07.15 kalo yang tercatat di HP saya). Tapi memang dik Rina tidak langsung membalasnya (atau mungkin dibalas tapi SMSnya sudah saya hapus kali yaa… Saya lupa, hehe… Lagian juga, buat apa SMSnya dibalas, karena memang SMS saya pagi itu bukan merupakan SMS yang membutuhkan sebuah jawaban dan saya pun tidak terlalu berharap dik Rina akan membalas SMS saya) Tapi ternyata 3 jam 47 menit setelah SMS saya itu, dik Rina gantian yang “memicu” dengan mengirimkan sebuah SMS sampai membuat saya agak kegeeran. Untuk pertama kalinya dik Rina mulai memperkenalkan nama saudara sepupunya yang baru berusia sekitar 1,5 bulan. Selisih tidak sampai 1 menit, kembali dik Rina SMS yang intinya mengingatkan kembali sejarah saat-saat masa sekolah (mulai dari nyontek, kantin, absensi, dan lain-lain) dan lagi-lagi saya kembali dibuat geer karena kata-kata di akhir SMS itu. Saya merasa bersyukur karena sudah termasuk dalam orang-orang yang pernah membuat dik Rina tersenyum (padahal saat itu saya dan istri saya masih belum terlalu kenal, jarang ketemu juga). Alhamdulillah, ^_^.
SMS dik Rina tanggal 25 November 2011 jam 10.52 waktu HP saya.
_Sejarah saat masa2 sekolah_
Kantin         : markas besar kalo gak ada guru.
WC             : alasan tepat untuk keluar kelas.
Ribut           : suasana kelas kalo gak ada guru.
Nyontek      : kebudayaan nenek moyang yang masih berjalan.
Papan tulis   : TV guru yang wajib ditonton.
Absensi       : benda keramat yang wajib diisi.
Alpa            : kalimat harom yang penting diucapkan.
Tipe-X        : media buat seru-seruan.
Hore            : teriakan yang menjadi kewajiban kalo ada hari libur.
Kirim pesan ini ke orang2 yang pernah membuatmu tersenyum di masa SD, SMP, SMA, dan masa hidupmu. ^_^ agar mereka teringat kembali.

Saya membaca SMS yang tentang sekolah itu saat masih melakukan aktivitas pekerjaan di proyek, jadi tidak langsung saya balas. Saya hanya senyum-senyum sendiri membacanya (dan sempat juga diperhatikan rekan kerja saya waktu itu). Selesai sholat Jum’at, saya baru membalas SMS dik Rina (dan sayang sekali, SMS saya sudah terhapus. Akan tetapi, Alhamdulillah saya masih sedikit ingat SMS saya waktu itu, kurang lebihnya menanyakan dan menebak tentang siapa Asha, nama yang sempat dik Rina sebutkan dalam SMSnya, yang ternyata adalah sepupunya yang masih 1,5 bulan itu). Hanya selang beberapa menit, dik Rina sudah membalas SMS saya dan menyadari bahwa dirinya belum pernah bercerita sebelumnya tentang nama sepupunya itu (sebelumnya saya hanya sempat diberi tahu bahwa dik Rina baru saja mendapatkan sepupu baru, perempuan – SMS kabar ini masih tersimpan juga di HP saya lho… Hehe..). Dik Rina juga bercerita bahwa sepupunya itu tinggal bersama simbahnya di kampung yang sama dengan rumah tempat tinggal dik Rina, cuma berbeda RT saja. Dan pada saat itu, tiba-tiba saja saya merasa kangen dengan keponakan-keponakan saya yang sedang berada di Lampung (Raka dan Fara) dan Magelang (Daffa, Delvin dan Varo). Lima keponakan saya yang kelimanya pernah saya rawat dari sejak mereka bayi.
Selama SMSan, beberapa kali saya menggoda dik Rina tentang dunia perbayian (maklum, saat itu bisa dikatakan saya lebih experience dibandingkan dik Rina). Saking merasa tergodanya, dik Rina membuat statement yang lucu (bagi saya) yaitu “bayi itu adalah makhluk paling lucu sekaligus menyeramkan, buat dirinya”. Saat itu, sekali lagi rekan kerja saya kembali lirik-lirik melihat saya senyum-senyum dan ketawa-ketawa sendiri.
Setelah sempat berhenti SMSan selama beberapa jam, kami pun kembali melanjutkan obrolan kami di malam hari. SMS kali ini agak serius dan pembahasannya sebenarnya sudah dimulai sejak sore hari (sekali lagi sangat disayangkan, saya sudah menghapus beberapa SMSnya dan untuk yang ini hampir tidak ada yang saya ingat). Saat itu saya sedang meminta tolong sesuatu ke dik Rina. Nah, di malam harinya dik Rina SMS saya menanyakan alasan kenapa saya memilih dik Rina untuk dimintai tolong, padahal sekali lagi saat itu saya dan dia masih belum ada hubungan special. Setelah saya memberikan penjelasan ke dik Rina, Alhamdulillah alasan saya dapat diterima dengan baik. Dengan ditambah beberapa SMS berikutnya, saya menjadi sedikit lebih tahu bahwa dik Rina termasuk yang menjadi orang kepercayaan teman-temannya dan mampu menjaga dan menyampaikan amanah dengan baik. Dan saat itu pula, saya tambah yakin untuk terus memperjuangkan harapan saya untuk dapat “menjadi yang terbaik” untuk dik Rina (dan Alhamdulillah, satu bukti bahwa Alloh itu Maha Baiiiiiiikkk sekali telah kembali saya rasakan. Harapan saya terkabulkan dan saat ini kami telah menjadi pasangan suami istri yang semoga sakinah mawadah warohmah sampai maut memisahkan kami berdua, amin…).
Mungkin segini dulu cerita dari saya, sedikit catatan kehidupan saya dan dik Rina, istri saya tersayang dan istri tercinta, pada tanggal ini satu tahun yang lalu. Kapan-kapan insya Alloh akan saya ceritakan kisah hidup saya (dan istri saya) yang lain. Semoga kisah kami ini dapat kami kenang selalu dan dapat menjadi bahan cerita dan inspirasi untuk anak-anak kami kelak. Amin…

Hotel Patra Jasa Cirebon
25 November 2012, jam 22.22 (waktu laptop saya saat mengakhiri tulisan ini)
Dalam masa kerinduan saya dengan istri tercinta, Rina Indarwati (saat saya menulis tulisan ini, dik Rina sedang berada di kota Magelang) 

Thursday, November 22, 2012

Kamu



Inspirasiku dirimu
Nyaman aku di sampingmu
Damai berada di sisimu
Aku bersyukur bisa mengenalmu
Rasa syukur karena bersamamu
Walau bagaimana pun keadaanmu
Aku kan tetap menyayangimu
Teman seumur hidupku
Istriku  ^_^


Kedawung 2, Patra Jasa Hotel
Cirebon, dalam usaha menghilangkan ngantuk

Wednesday, November 21, 2012

Testing


Weeeewww,, Ternyata saya sudah lama sekali tidak menulis dan mempost sesuatu di blog ini,, payah banget yaaak.... Hemdeeehh....  -_-" 
Yupz, bisa dilihat terakhir kalinya saya ngepost blog dah 5 bulan yang lalu, tepatnya 17 Juni 2012, tepat 1 minggu sebelum hari pernikahan saya. Memang semenjak hari itu saya menjadi sangat jarang mengakses internet menggunakan komputer (tapi kali akses via HP masih lumayan kenceng, hehe...) Walhasil, jadilah saya melupakan sejenak blog ini. Atau mungkin juga mulai hari itu saya sudah cukup tersibukkan dengan persiapan menuju hari istimewa, hari yang luar biasa bagi saya, hari dimana akan dimulainya suatu kehidupan baru yang bernama berumah tangga. 
Dan pada hari ini, alhamdulillah saya lagi pengen-pengennya nulis sesuatu. Dan alhamdulillah (lagi), setelah saya pindah kamar dari yang tadinya gak dapat fasilitas wifi di kamar 252, sekarang bisa ngenet sepuasnya di kamar 108. Dengan didukung istri tercinta buat aktif nulis lagi, jadilah saya mulai iseng-iseng mencoba mencoret-coret blog ini lagi dan inilah tulisan kedua saya setelah 5 bulan absen (tulisan pertama dah ter-publish sekitar 30 menit yang lalu).
Haha,, sebener'e saya sendiri masih bingung mau nulis apa.. Niatnya ini buat intro dulu sebelum nanti saya ngepost tulisan-tulisan berikutnya, ^_^
Oke lah kalo begitu, semoga saya bisa menulis lebih banyak lagi untuk ke depannya. Amin... Cemungudh....!!! \(^_^)/

Cirebon, dalam masa karantina

Aku merindukanmu, sungguh


Ketika aku mulai untuk melihat bayangan itu, sungguh benar-benar aku ingin segera memeluknya. Aku mulai bisa merasakan kenyataan akan hadirnya di hadapanku dan sekejap kemudian menatapku dengan tatapan yang sangat sayu serta senyum yang terkulum dengan manisnya. Sungguh senyum khas dirinya, senyum tiga jari, begitulah kami biasa menyebutnya. Aku kemudian menarik nafas yang sangat panjang. Bayangan itu menjadi semakin nyata, dan wangi itu semakin menusuk nuraniku.

Aku mulai memposisikan diri dengan lebih baik lagi di tempatku duduk, dan aku merayu dirinya untuk bersandar di pundakku. Sembari aku membelai rambut bergelombangnya yang terjuntai, kami sama-sama diam saling memandang. Dan aku pun masih terus saja membelainya.

Hujan rintik pun mulai berdenting penuh irama di atas genting, satu demi satu butiran air itu mulai membasahi bumi ini, bau khas tanah pun perlahan mulai tercium harum. Tidak deras memang, namun hadirnya serasa mewakili akan perasaan rindu ini. Kembali aku melihat bayangan tadi, masih duduk manis di sandaranku, namun tetap terdiam tanpa suara.

Hati ini sebenarnya berkehendak untuk mengajaknya berbicara, bercerita tentang apa yang bisa diceritakan, apapun itu. Akan tetapi, aku bingung untuk sekedar memulai pembicaraan. Bibir ini terasa berat untuk bergerak sehingga tetap terkatup dengan eratnya. Semakin aku mencoba namun tetap saja bibir ini tetap tidak mau membuka. Entah kenapa, aku pun tidak mengetahui sebabnya. Dalam diam, kami tetap saling memandang dan beradu senyum, dan hal inilah yang akan senantiasa aku rindukan kehadirannya.

Mendadak gelegar petir menyambar dengan kerasnya. Hujan memang tidak bertambah deras namun suara petir tadi sempat membuatku kaget untuk beberapa saat. Dan bayangan itupun tiba-tiba menghilang, lenyap dalam sekejap dari dekapanku. Aku berteriak,.. Ah, tidak. Aku rasa itu terlalu "lebay" menyebutnya demikian. Mungkin lebih tepatnya aku mengigau. Yupz... Mengigau menyebut namanya dalam gelapnya malam itu. Lampu yang cukup remang pun membuat suasana semakin kelam, namun aku tak terlalu mempedulikannya. Aku tetap saja mencoba untuk mencarinya. Aku bergegas segera bangkit dari tempat dudukku. Semua sudut segera aku tatap tajam, namun tetap saja bayangan itu enggan untuk muncul lagi. Apakah benar-benar menghilang, ataukah sekedar sembunyi karena malu, atau yang lain, aku pun tak mengetahui sebabnya.

Aku pun kembali terduduk terdiam mematung, menatap kosong ke arah datangnya hujan. Aku tidak ingin menyalahkan petir yang menggelagar tadi, aku juga tidak ingin menyalahkan remangnya temeram lampu yang mungkin turut menyembunyikan bayangan itu, sekali lagi aku hanya diam seperti biasanya diriku. Beberapa saat kemudian, kaki ini perlahan mengajakku untuk melangkah keluar, menatap lebih dekat tetesan air hujan yang tak begitu deras, kemudian menggoda diri ini untuk menerobos hujan rintik yang semakin lama terasa semakin deras membasahi bumi ini.

Dinginnya air hujan perlahan masuk membasahi tubuhku dan menusukku ke dalam. Namun aku tetap saja berjalan di tepian jalan yang anehnya aku sendiri pun belum tahu akan menuju kemana.

Sesaat kemudian, aku tersadar bahwa tubuh ini ternyata masih terbaring di atas tempat tidur penginapan ini. Hujan di luar sudah cukup deras. Gelegar petir pun semakin tidak tertahan, hampir setiap detik terdengar dentuman yang semakin keras, kilat pun tidak ketinggalan untuk meramaikan gulitanya malam itu.

"Ya Alloh ya Robbi, aku sangat merindukannya.. Semoga semuanya baik-baik saja. Hamba titipkan dirinya pada-Mu, ya Alloh." kataku lirih

Gelegar petir dan kilat terus bermain kejar-kejaran, seolah berlomba ingin menyampaikan apa yang aku rasakan malam itu. Angin pun sepertinya tak mau ketinggalan untuk menyampaikan rasa rindu ini. Dinginnya malam itu tidak terlalu aku rasakan, meskipun sejenak tangan ini terasa mati rasa dan desah nafas ini semakin terasa berat...

Mungkin rasa rindu itulah yang telah memberikan sebuah kehangatan yang sangat luar biasa di malam yang sangat luar biasa tidak biasa tersebut. Hujan semakin lama semakin tidak peduli lagi untuk tetap terus membasahi serta memberikan sebuah sensasi "kesegaran" yang luar biasa.

=================================================

Itulah sedikit sebuah kisah nyata dengan sedikit rekayasa (berarti bukan kisah nyata donk...? Hehe...) Ngomong-ngomong soal rindu, aku jadi teringat puisiku zaman dulu, judulnya "Kangen" ^_^

Walau jarak pandang terhalang
Namun mata ini senantiasa memandang...
karena Kau ada dalam ingatan...
aku tak pernah memikirkan Kau wujud di hadapan
tapi Kau selalu dalam do'a...
Kau yang jauh dari pandangan...

Dalam rindu menyelimuti kalbu
aku senantiasa menyebut namaMu
Meminta sesuatu hal yang sering menghantuiku
Berharap Kau menjaga dirinya dan diriku
Yang terpisahkan oleh sesuatu

Walau jarak pandang terhalang
Namun mata ini senantiasa memandang...
karena kau ada dalam ingatan...
aku tak pernah memikirkan kau wujud di hadapan
tapi kau selalu dalam do'a...
kau yang jauh dari pandangan...

===========================================================

Cirebon, 21 November 2012

Sunday, June 17, 2012

Tentangku yg dia tau ^_^

Lagi-lagi saya bukanlah orang yg membuat tulisan di bawah ini, tapi ini adalah tulisan hasil karya dia (yang namanya akan disebutkan di akhir tulisan ^_^). Jadi, ceritanya kami sedang ingin membuat tulisan tentang diri kami, tapi dengan peraturan yaitu saya membuat tulisan tentang dia dan dia membuat tulisan tentang diri saya. Sampai saat tulisan ini saya share di blog ini, kami memang belum terlalu tau detail tentang pribadi masing2, yang tentunya akan jadi bahan utama tulisan kami. Akan tetapi, menurut kami (lebih tepatnya saya =P), justru di sinilah yang akan jadi keunikan tulisan kami nantinya. Dengan berbekal sedikit hal yg telah kami tau dan informasi dari beberapa narasumber (mungkin saat kami berta'aruf dulu, dengan memanfaatkan informasi dari pihak ketiga yg kami percaya saat itu. Tapi kemarin dia sempat bilang kalo saat memulai nulis ini, dia udah gak tanya siapa2 lagi, kecuali tanya langsung ke orangnya. Hehe...) Baiklah, langsung aja saya persilakan para pembaca menikmati hasil karya dia, yang saya sayang ^_^  


nb : *mohon maaf kalo misalnya ada hal yg kurang pas tentang saya yg dia tulis dengan apa yg pembaca tau tentang diri saya. Yaaah.... namanya aja masih belum terlalu kenal. Tapi ntar seiring berjalannya waktu, jangan harap para pembaca tau lebih banyak tentang saya daripada si dia. Hihihi..... ^_^v


===============================================================


Namanya Setiawan. Yaa,, nama yang familiar dan favorit (bahasa yang lebih baik daripada “umumnya” :P). Biasa dipanggil Setia atau Wawan. Sepengetahuan penulis, lebih banyak yang memanggil Wawan. Lahir di Kota Magelang pada 10 Juni 1988, tepat 3 hari sebelum kedua orang tua penulis melangsungkan pernikahan.

Wawan terlahir sebagai anak ke-4 dari 5 bersaudara, dan sekaligus sebagai anak laki-laki pertama dalam keluarga Bapak Sugiyono dan Ibu Suwarti. Nampaknya Wawan ini begitu disayang oleh orang tuanya, dan pesan penulis “hati-hati mencuri hati anak kesayangan mertua” :D

Hingga usia 18 tahun hidupnya dia nikmati di Kota Magelang, belajar di sana hingga masa SMA nya. Sejarah pendidikan formalnya adalah TK Siwi Peni 5, SD Rejowinangun Selatan 3, SMP N 2 Kota Magelang, dan SMA 1 Magelang jurusan IPA. Setelah tamat SMA, Wawan ini hijrah ke Jogja untuk kuliah. Mmm sebenarnya istilah ‘balik kandang’ lumayan tepat, karena kedua orang tuanya asli Jogja, tepatnya Prambanan. Daan waktu kecil, Wawan ini sering nonton sendratari Ramayana. 

Wawan kuliah di Jurusan Teknik Kimia FT UGM angkatan 2006. Selama kuliah aktif di KMTK, MTQ, dan beberapa kali menjadi asisten praktikum, juga asdos. Setelah membuat rekor penulisan TA selama 3 minggu bersama partnernya yang juga sahabat karibnya, akhirnya Wawan diwisuda pada Agustus 2010. Setelah apply sana sini, dan ditolak maupun menolak akhirnya Wawan melabuhkan karyanya di sebuah BUMN yang sebagian kerjanya adalah membangun. (semoga termasuk membangun cinta bersama penulis :P) 

Wawan memiliki harap berupa KKN yaitu “Kuliah-Kerja-Nikah”. insyaAllah, harap itu akan segera terwujud. ^^v

dituliskan oleh Rina Indarwati di calon TKP walimahan,pada 5 Juni 2012 sekitar pukul 13:35.





===============================================================


Yupz..... Seperti itulah hasil tulisannya. Awalnya saya agak geli2 gimanaa... gitu waktu awal bacanya (sampe sekarang pun sebener'e masih ding... Hehe...) Ditambah agak penasaran juga, kok dia bisa tau yaa.... Tapi setelah aku ingat2, ternyata (kaya'e) dulu memang saya pernah cerita beberapa hal ke dia, yg ternyata dia tuliskan sebagiannya di atas. 


Sesaat sebelum memulai untuk nge-post & nambah2i intro tulisan dia, saya sempat izin ke dia, bolehkah tulisannya saya share di blog ini & ngasih komen juga. Dan jawabannya adalah "okee... nggih, Boleh2,, :-)" Saya pun langsung tambah semangat menuliskan intro di atas, dan beberapa komen pun siap menyusul di bawah ini. Langsung aja yaaa......


Pertama mengenai nama. Yaaahh.... memang saya akui Setiawan itu nama pasaran (bahasa lebih baiknya, nama familiar & favorit,seperti yg dik Rina tulis di atas). Sebelum saya minta izin share tulisannya (tepatnya 43 menit sebelumnya - ngerti thoo..... Hehe... =P), dik Rina sempat tanya "kalo nama mas Wawan, sejarahnya gimana?". Dan jawabanku pun simple, cukup satu kata "Rahasia" (#jahat banget yaak....?? Hihihi...^_^v) Kemudian untuk tanggal lahir saya, saya jadi teringat dik Rina pernah bilang kalo ibu bapaknya menikah tanggal 13 Juni 1988. Makanya dia sampaikan di tulisannya, "tepat 3 hari sebelum kedua orang tua penulis melangsungkan pernikahan."


Oke, next... Sebener'e saya masih bingung dan bertanya2, maksud dari kata2 “hati-hati mencuri hati anak kesayangan mertua” itu apa yaa....???? -_-a  (#dan saya pun berjanji pengen tanya ke dik Rina langsung, tapi bukan sekarang, melainkan setelah kami telah sah jadi suami-istri. Hehe... Upz.... ^_^)


Komen saya yg keempat adalah tentang masa kecilku yg katanya sering nonton sendratari Ramayana. Awalnya saya heran, kok dik Rina bisa tau yaa.... Yaaahh.... Walopun gak sering2 banget nonton sih... Soal'e saya nonton kalo pas ada kesempatan aja main ke rumah mbah dan diajak beliau (kadang juga diajak ma paklik) nonton pertunjukkan itu. Memang rumah mbah saya (baik itu mbah dari pihak bapak maupun ibu) ada di daerah Kalasan, lumayan dekat  (ya kira2 sekitar 2 km lah...) dengan daerah wisata Candi Prambanan, tempat diselenggarakannya pertunjukkan sendratari Ramayana. Setelah saya ingat2, nampaknya saya dulu pernah cerita ke dik Rina soal ini tapi saya lupa kapan itu. Hhhmmm..... -_-a  Tapi apapun itu, yg lebih penting sekarang ini adalah saya berharap suatu saat nanti saya dapat menonton sendratari Ramayana lagi, bukan bersama mbah  ataupun paklik, tapi bersama dengan sang istri tercinta.  #eyyyaaaa......... AMIIIIN.............. ^_^


Komen saya yg terakhir adalah kok dik Rina bisa tau ya, salah satu harap saya yaitu KKN (“Kuliah-Kerja-Nikah”). Kalo yg satu ini saya benar2 bingung dan terheran2, darimana ya dia bisa tau??? Seingat saya, saya belum pernah cerita deh tentang harap yg satu ini ke dik Rina. But, whatever lah... yg saya sangat setuju adalah kata2 selanjutnya, yaitu "insyaAllah, harap itu akan segera terwujud. ^^v"  Dan saat pertama kali baca tulisan ini, dalam hati saya bergumam, "dan engkaulah yg akan menjadi harapku"  Amin.....  #saya menggunakan kata "engkau" waktu bergumam karena dia tepat berada di samping saya saat saya pertama kali membaca tulisan itu. #eciyyeee......Cuit, cuiiit.... Haha.... =P


Oke deh para pembaca semua, saya sudahi tulisan saya (eh, kami dink... Hehe..). Udah malam juga ni (lihat kanan bawah monitor laptop, ternyata dah jam 11.45 pm). Saya udah agak ngantuk (tapi sebener'e pengen nonton EURO, :D ). Dan sebelum saya akhiri, saya mohon do'a pembaca semua, agar kami nantinya dapat menjadi keluarga yg sakinah, mawadah, warohmah, dan dapat senantiasa dalam ketaatan pada Alloh 'azza wa jala, dan do'a yg baik2 untuk kami. Amin..... ^_^


Salam Sehati to Semanggi,
Selaraskan Harapan Hati menuju Semangat Lebih Tinggi






Diselesaikan di kos Mampang Prapatan IV Jakarta, dan langsung di-publish kan ^_^