Wednesday, July 1, 2015

Menabung ala Keluarga Semanggi

Keluarga Semanggi adalah bagaimana kami menyebut keluarga kami. Harapannya kami selalu 'semangat tinggi' dalam menjalani berbagai hal, salah satunya menabung.

Rumah Dinas Perusahaan (RDP) yang melenakan

Saat ini keluarga semanggi masih menempati RDP di kota tempat suami penempatan kerja. Fasilitas RDP sangat lengkap, beberapa diantaranya adalah kamar tidur lengkap dengan kasur dan lemari, kulkas, set meja makan dan peralatan makan, instalasi listrik yang memadai, wifi, telepon rumah, gas, dan air. Banyak ya ternyata, salah deh bilang beberapa *nyengir. Kami cukup menambahkan barang-barang yang sifatnya pribadi, misal magic com, dispenser, blender, dan berbagai alat elektronik lain yang diharapkan.

Kelengkapan fasilitas dan berbagai kemudahan akses membuat kami terlena. Apa pasal? Kami hampir tidak pernah mengeluarkan uang untuk perawatan rumah. Listrik, terintegrasi antara perumahan dan kantor. Gas, memanfaatkan gas sisa/sampingan dari produksi. Air, terintegrasi pula antara kantor dan perumahan. Rumput di halaman, ada kontrak pemotongan rumput dari kantor dan kami tidak perlu membayar. Jika ada sesuatu yang rusak atau ada yang perlu perbaikan, tinggal telepon bagian perumahan. Butuh berobat, biaya ditanggung asuransi perusahaan. Alhamdulillah yaa, sesuatu. Sampai saya pernah bercanda bersama teman bahwa kami yang tinggal di RDP ini belum merasakan hidup yang sesungguhnya. Kok bisa? Karena kami belum memikirkan bagaimana menyisihkan sebagian uang untuk bayar listrik, gas, air, telepon, dan perawatan rumah lainnya.

Kondisi seperti ini sungguh melenakan, bagai angin sepoi-sepoi yang menjatuhkan kera dari pohon kelapa. Walaupun lokasi RDP di kota dengan biaya hidup yang cukup tinggi, tetapi jika kami tidak peka dan cermat, bisajadi kami akan kalap atau malah kolaps. Maka dari itu, kami harus pintar menyisihkan sebagian dari penghasilan untuk persiapan nantinya. Misal ketika pensiun, resign, atau kondisi lainnya. Nah keluarga semanggi memiliki beberapa tips menabung, sebagai persiapan menghadapi hari esok. 

Memiliki beberapa rekening tabungan dengan tujuan khusus

Di awal berkeluarga, kami memeriksa rekening yang masing-masing kami miliki. Jika kami memiliki rekening di bank yang, maka salah satunya kami tutup. Rekening-rekening tersebut kami beri peran masing-masing.
Misal:
Rekening A : untuk aktivitas keluar masuk uang sehari-hari, ibarat dompet utama keluarga.
Rekening B : untuk tabungan persiapan nanti ketika tidak lagi tinggal di RDP, misal tabungan rumah, elektronik, liburan.
Rekening C : rekening titipan, karena sebenarnya uang yang disimpan di rekening ini adalah uang untuk orang tua, tabungan anak, dana darurat, dan tabungan istri.
Rekening D : khusus untuk dana pensiun

Setiap kali ada mutasi dari masing-masing rekening, kami berusaha untuk selalu mencatatnya. Agar membantu kami memantau kondisi keuangan kami dan memudahkan ketika sudah waktunya membayar zakat.


Menabung dalam bentuk perabot rumah tangga 

Sebagai ibu yang sehari-hari berkutat di rumah, kadang saya merasa butuh hiburan. Karena untuk bepergian membutuhkan perjuangan lebih, kadang saya menghibur diri dengan mengintip online shop *haha* dan ujung-ujungnya tergoda pada suatu barang. Tentu yang menarik hati ibu salah satunya adalah perabotan rumah tangga. Maka perlahan-lahan, saya mulai membeli perabot rumah tangga yang kira-kira mudah dibawa dan tidak terlalu berbahaya. Kepikiran nanti ketika akan pindahan rumah, jangan sampai memberatkan dan akhirnya masuk forum jual beli di kompleks, hehe. 


Menabung dalam sesuatu yang ‘hidup’ 

Menabung dalam sesuatu yang ‘hidup’ contohnya adalah memiliki hewan ternak. Beberapa waktu lalu kami memiliki sapi, yang dipelihara oleh saudara kami. Hal ini kami lakukan salah satunya untuk membantu saudara, karena ketika sapi dijual kami akan berbagi hasil dari laba penjualannya. Akan tetapi, memelihara sapi cukup lama masa berkembang biaknya, jadi kami berencana untuk membeli kambing saja. Masih rencana, semoga bisa segera terlaksana.


Mempersiapkan tabungan akhirat dengan ZIS

Hidup adalah ladang kita mempersiapkan sebaik-baik bekal untuk kehidupan akhirat. Salah satu bentuk kami menabung adalah dengan membayar zakat, rutin infaq dan sedekah. Hal ini sebagai usaha agar ‘nanti’ apa yang kita infak dan sedekahkan itu dapat menolong kita ketika kita mempertanggungjawabkannya di hadapan Pemberi Rezeki. 

Begitulah trik menabung ala keluarga semanggi. Yaa walaupun saya masih menabung dengan cara lama dengan celengan (yang lebih sering dibobol di akhir bulan), menyelipkan uang di dompet (ujungnya terambil juga), dan menjadi pejuang 20ribu. Setiap kali bertemu uang 20ribu, saya sisihkan dan untuk dipergunakan di keadaan mendesak. Eh, kok ujung-ujungnya terambil juga ya? Yaahh banyak gagal memang kalau menabung dalam bentuk kas. Haha.

Selain dengan cara sederhana seperti yang kami lakukan, bisa juga memanfaatkan jenis tabungan yang ditawarkan oleh berbagai bank. Banyak sekali produknya, kalau bingung, cari contekan di cermati.com saja.

 "Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Share Tips Menabungmu bersama Blog Emak Gaoel dan Cermati" 









No comments:

Post a Comment