Wednesday, February 29, 2012

Tips Memilih Hadiah Untuk si Kecil

“Sebentar lagi si kecil berulang tahun. Apa hadiah yang paling cocok untuknya yaa…?!? Any idea?”
^_^ Mungkin kata-kata di atas pernah terbersit di pikiran kita, apabila si buah hati (bagi yang sudah memiliki anak yang masih imut-imut alias masih kecil) atau mungkin ponakan kita yang masih “cute-cute” atau adik yang masih balita (anak-anak) akan segera bertemu kembali dengan tanggal dan bulan saat dia dilahirkan beberapa tahun yang lalu dan kita akan memberikan “sesuatu” kepada si jagoan cilik di hari tersebut. Seringkali bukan hanya saat si kecil berulang tahun saja, kita akan memberikan hadiah kepada si kecil.
Tak perlu bingung, saya akan sedikit memberikan saran dan masukan mengenai kiat-kiat (tips) dalam memilih hadiah untuk si kecil.
Bagi anak, hadiah menjadi bagian paling istimewa (terutama pada hari ulang tahunnya). Mainan, biasanya, merupakan hadiah yang disukanya. Ya… wajar saja! Si balita kini dalam tahapan bermain. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa jika akan memberikan mainan maka mainan yang seperti apakah yang cocok dan sesuai untuk si kecil. Selain itu, perlu diketahui pula mainan yang baik adalah mainan yang dapat bernilai edukasi bagi perkembangan si kecil (kalo istilah kerennya, dapat digunakan untuk “bermain sambil belajar”) ^_^
Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum kita membelikan “sesuatu” (khususnya mainan) sebagai hadiah untuk si kecil.

1. Jenis Kelamin
Pada dasarnya jenis kelamin si kecil kurang dapat menetukan dalam pemilihan jenis hadiah apa yang akan kita berikan kepadanya. Akan tetapi, untuk beberapa jenis hadiah akan menjadi kurang cocok dan kurang pas apabila diberikan kepada sang pangeran cilik (baca; anak laki-laki) atau si ratu cilik (baca: anak perempuan). Misalnya saja pistol mainan, akan menjadi kurang pas jika diberikan kepada anak perempuan. Begitu pula dengan mainan masak-masakan akan kurang klop jika diberikan kepada anak laki-laki.

2. Usia si Kecil
Menentukan hadiah harus melihat usia si kecil apakah hadiah itu sesuai dan bisa dipakai atau tidak. Jika usia sekolah, bisa diberi perlengkapan sekolah seperti tas, sepatu atau tempat makan untuk wadah bekal si kecil. Jika belum usia sekolah, bisa berupa boneka, kursi anak, buku mewarnai, dan lain sebagainya.

Boneka adalah jenis main yang dapat dikategorikan cocok untuk diberikan kepada anak segala usia. Namun kita perlu memilih jenis boneka seperti apakah yang akan kita berikan kepada si kecil. Berikut ini adalah sebagai gambaran saja hadiah berdasarkan usia si kecil.
  • Untuk si 1 tahun. Anda bisa memilih boneka yang tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Mainan lain seperti balok-balok atau mainan karet juga bermanfaat bagi si satu tahun yang tengah asyik mengeksplorasi dunia sekitar dengan kedua tangannya.
  • Untuk si 2 tahun. Anak usia ini sedang mengembangkan kemampuan motorik dan koordinasi otot besarnya. Anda dapat memilih hadiah berupa mainan yang dapat ditarik dan didorong.
  • Untuk si 3 – 5 tahun. Anda dapat memilih aneka mainan yang lebih bervariasi. Misalnya, mobil-mobilan, masak-masakan, atau sepeda.

3. Merangsang Perkembangan Kognitif
Dalam pemilihan hadiah, perlu kita perhatikan juga mengenai kebermanfaatan dari apa yang akan kita berikan kepada si kecil. Dalam pembahasan ini, akan saya khususkan mengenai hadiah dalam bentuk mainan.

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Beberapa jenis mainan hanya bersifat untuk permainan semata, akan tetapi banyak mainan juga dibuat dalam rangka menunjang proses belajar si kecil. Akan lebih bijak jika kita akan memberikan mainan sebagai hadiah bagi si kecil, maka kita pilihkan mainan yang dapat merangsang perkembangan kognitif si kecil. Sebagai contoh, kita dapat memilih puzzle yang sesuai dengan usia anak. Di pasaran tersedia puzzle dari yang berbentuk sederhana hingga yang lebih bervariasi.

4. Budget
Ini yang tak kalah penting dalam menentukan hadiah si kecil (^_^). Kita harus menyesuaikan hadiah dengan budget kita. Kita harus memperhitungkan dengan baik-baik. Jika ingin mendapatkan diskon, mungkin bisa sekaligus belanja agak banyak (untuk kebutuhan yang lain) sehingga kita bisa minta discount ke penjual. Cara praktis untuk menghemat isi kantong (^_^v)

5. Kreasi Sendiri
Hadiah untuk si kecil tak selalu harus mahal. Kita dapat mencari dan memilih hadiah yang sesuai untuk anak namun tak membobol kocek kita. Salah satu bentuk hadiah dapat kita buat sendiri berdasarkan kreasi dan kreativitas kita. Misalnya, kita dapat membuat boneka dari potongan-potongan kain berbagai tekstur. Atau mainan ular-ularan dari karton bekas dan gulungan tisu toilet yang dihias dengan berbagai warna.

Dalam berkreasi membuat “sesuatu” untuk si kecil, kita dapat mengajak si kecil secara langsung untuk ikut membantu dalam proses pembuatan tersebut. Selain dapat mengajak si kecil bermain, dengan hal tersebut akan dapat mengasah kreativitas si kecil dan juga dapat lebih mendekatkan hubungan kita pada si kecil.

6. Kualitas
Kualitas harus diperhatikan jika membeli hadiah, jangan hanya memilih murah tetapi ternyata barang cepat rusak. Mungkin kita dapat menanyakan ke penjual secara detail barang tersebut supaya tidak kecewa di kemudian hari.

7. Pastikan keamanan mainan
Bila si kecil berusia di bawah tiga tahun, jangan belikan ia mainan berukuran kecil. Atau, bila kita membelikan mainan dengan ukuran yang cukup besar, jangan sampai bagian dari mainan itu bisa dengan mudah dilepas menjadi bentuk kecil-kecil. Karena mainan tersebut dapat tertelan oleh si kecil.

Kita juga perlu memeriksa permukaan mainan. Hindari permukaan yang kasar atau berujung tajam, karena bisa melukai si kecil. Bila mainan tersebut berwarna-warni, pastikan cat/zat pewarna yang digunakan cukup aman. Dalam hal ini, kita bisa mengetahuinya dengan membaca keterangan pada label mainan.

8. Kemas secara menarik
Setelah kita mendapatkan “sesuatu” yang sesuai untuk si kecil, bungkuslah “sesuatu” tersebut dengan menggunakan kertas pembungkus dengan warna dan gambar menarik. Bagi si kecil, membuka hadiah merupakan pengalaman seru yang sangat ia nanti-nantikan. Si kecil tentu akan berharap-harap cemas, ”Apa sih isinya…? Surprise !” ^_^
Demikian beberapa tips dari saya, yang mungkin bisa membantu untuk memilih hadiah (khususnya hadiah ulang tahun) untuk si kecil yang kita sayangi dan yang menyayangi kita.

# This article is inspired from my niece's birthday on this weekend. For several days she calls me and hope I can visit her in Lampung. After I coaxed her to talk, turned out on March 4, 2012 she was just 4 years old. Fara Zahra, my niece the only one (from my little family). Hopefully next Sunday I can get the adventure, come back to Way Halim, Lampung. Amin…


Jakarta, 29 Februari 2012

^_^

Sunday, February 26, 2012

Saya dan Pernikahan

Bismillah..

Lets us talk, menuliskan apa yang bisa dituliskan. Hhmm… Enaknya nulis apaan ya…?!? Hehe.. Oh, ini aja. Tentang saya dan pernikahan. Hanya ingin bertukar pendapat dengan pembaca yang sempat membaca tulisan ini.

Setiap orang tentu memiliki gambaran sendiri tentang kehidupan pernikahan, baik itu sebelum, saat, maupun pasca-menikah. Jika pernikahan itu adalah sebuah kapal, tentunya setiap orang akan memiliki gambaran masing-masing seperti apakah kapal itu, akan berlayar di laut mana, dinahkodai siapa, dan lain sebagainya. Alangkah patut kita syukuri ketika kita bertemu dan berlayar dengan seseorang yang paling tidak memiliki gambaran yang sama tentang kapal itu (walaupun itu mungkin hanya 1 diantara 1000 pandangan). Siapalah yang tidak mengharapkan sebuah pernikahan yang dibangun karena-Nya dan untuk menggapai cinta dan ridho-Nya. Insya Alloh.

Beberapa tanya kadang muncul di dalam diri ini, dan yang akan saya tuliskan di sini hanya satu dari sekian banyak pertanyaan tersebut. Yaitu tentang “Bagaimanakah kita memandang pernikahan dan kehidupan berumah tangga?” Mungkin semacam arti pernikahan bagi diri sendiri (dan orang di sekitar kita).

^_^ Bismillah, inilah sedikit yang ada dalam pikiran saya saat ini tentang pernikahan...

Kapal... Yupz, kapal... Sebuah perumpamaan yg tepat dan memang sangat bisa menggambarkan kehidupan berumah tangga. Ada nahkoda, ada penumpang, ada perjalanan, ada tujuan, ada badai, ada kedamaian lautan, dan sebagainya. ^_^

Nikah, bagi saya bukan hanya tentang dua hati, bukan hanya sekedar menyatukan dua orang manusia, bukan pula menyatukan dua keluarga, tetapi lebih dari itu yaitu menyatukan semuanya, terutama semua yang berada di sekitar kita. Menikah bukanlah persoalan sepele, tapi sebuah keputusan besar yang membutuhkan pertimbangkan dari berbagai sisi (terutama dari sisi agama / syari'at). Begitu pula mengenai siapa yang akan kita pilih sebagai suami / istri, pasti juga akan ada banyak pertimbangan dalam memilih dan memutuskannya.

Kata orang, pernikahan bisa mengantarkan ke surga, tapi juga dapat menggiring kita menuju neraka. Dan bagi saya, pernikahan adalah surga di dunia. Dengan menikah, kita dapat menyempurnakan separuh agama. Dengan menikah, kita bisa lebih merasakan manisnya iman, cinta dan kasih sayang. Dengan menikah, berarti kita telah melaksanakan perintah Alloh ta’ala dan sunnah Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam. Dengan menikah, kita dapat lebih merasakan ketenangan. Dengan menikah, kita dapat lebih menundukkan pandangan. Dan dengan menikah, maka kita telah mempermudah jalan menuju surga Alloh ta’ala. Biidznillah…

Saya yakin pernikahan itu penuh dengan kebaikan, rasanya tidak ada yang perlu ditakutkan selama diniatkan tulus karena Alloh ta’ala dan untuk meraih ridho Alloh ta’ala. Rasa cinta kepada pasangan hidup itu bisa dibangun. Kita tidak harus menikah dengan seseorang yang kita cintai. Akan tetapi yang harus kita tahu adalah wajib untuk mencintai seseorang yang kita nikahi. Selama ada keselarasan tujuan dan kesejiwaan diri, insya Alloh semua akan berjalan dengan baik.

Tentang kehidupan rumah tangga, ada peribahasa (kalau tidak salah) bunyinya, "Langkah kesekian pasti dimulai (dan mungkin juga ditentukan) dari langkah pertama". Begitu pula dalam kehidupan berumah tangga, yang akan dimulai dari proses pernikahan (akad nikah), dan pernikahan diawali dengan pencarian / pemilihan calon pasangan yang nantinya akan menemani kita dalam "pelayaran".

Sebuah harapan tentang hidup berumah tangga mungkin dapat terangkum dalam kalimat yang akan saya kutip dari sebuah buku : “Kehidupan rumah tangga diharapkan menjadi tempat hunian yang nyaman. Tempat melepas lelah, membagi perasaan, mendiskusikan persoalan dan menjadi persemaian dan madrasah bagi generasi yang akan menggantikan peran orang tua di kemudian hari”.

Seorang suami haruslah dapat menjadi seorang pemimpin, sahabat, dan partner dalam keluarganya. Begitu pula seorang istri, dia harus dapat menjadi seorang kepala rumah tangga, sahabat, partner dalam keluarganya. Dan satu hal yang patut untuk disadari oleh seorang suami dan istri, yaitu mereka haruslah dapat saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Kata seseorang, ada ruang bernama komunikasi.

Pernikahan bukan titik berhenti untuk tetap berkarya (terutama bagi seorang istri). Kebermanfaatan suami dan istri (dan juga anak, jika telah diberi amanah oleh Alloh ta’ala) haruslah terus bertambah untuk masyarakat sekitar, terutama dalam hal agama. Walaupun sudah menikah, kita harus dapat membagi porsi untuk suami / istri dan anak, keluarga (terutama ayah, ibu, kakak, adik), sahabat / teman, dan masyarakat sekitar.

Dalam pandangan saya, menjalani kehidupan berumah tangga tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tetapi juga tidak sesulit menggenggam bara api. Kembali lagi ke kapal (sebagai analogi), dalam menempuh perjalanan menuju suatu tujuan pastilah akan menemui gelombang air yang tenang, angin yang menyejukkan, ikan yang menampakkan diri di permukaan, sampah yang terbawa arus laut, atau bahkan gelombang badai yang kita pun tidak tahu pasti akan terjadi kapan dan dimana. Akan tetapi, semua itu pasti akan dapat dilalui dengan baik dan akan dapat mengantarkan sampai di tempat tujuan yang sesuai dengan harapan kita, jika kita tetap berpegang teguh, yakin dan percaya pada alat penunjuk arah (radar, kompas, matahari, peta, atau semacamnya) yg terdapat di kapal tersebut atau yang kita bawa dalam pelayaran dan juga percaya satu sama lain dengan teman berlayar. Dan yang tidak kalah penting, adalah berdo'a dan ikhlas kepada yang menciptakan lautan tempat berlayar. (#bingung gak baca tulisan saya, hehe....)

Kalo kata ustadz Abduh Tuasikal (kakak angkatan saya waktu kuliah), “Menikah itu enaknya cuma 1%, sedangkan yg sisanya (99%) enak banget.” Hehe... ^_^

Mungkin segini dulu yang bisa saya tuliskan. Jika sekiranya ada hal-hal yang ingin ditanyakan atau disampaikan oleh para pembaca kepada saya, monggo, insya Alloh hal tersebut akan dapat lebih memperbaiki diri ini. Mohon maaf jika terdapat kata-kata yg kurang berkenan di hati para pembaca.


Salam,


^_^

-------------------------------------------------------------------------

Mampang Prapatan IV, Jakarta

26 Februari 2012

-------------------------------------------------------------------------