Bismillah,
Alhamdulillah blog ini dihidupkan lagi, setelah selama 1 tahun lebih mati suri. Awalnya blog ini adalah blog Ayah waktu masih single, hehe makanya tulisan di blog ini kebanyakan puisi. Ada puisi yang ditujukan untuk Ibu lho, hihi *ngumpet dibalik bantal*. Setelah menikah, Ayah lalu disibukkan oleh kegiatan OJT jadi blog ini mulai terbengkalai. Ibupun awalnya tak tertarik untuk menghidupkan blog ini, karena Ibu gak bisa buat puisi, hehe, memahami makna dibalik suatu puisi aja butuh waktu yang lama apalagi buat puisi, hedeh -,-! Ibu bisanya apa ya? *mikir keras*
InsyaAllah mulai tahun ini, blog ini akan dihidupkan lagi. InsyaAllah akan digunakan untuk merekam jejak 'Keluarga Semanggi'.
Kenapa 'Keluarga Semanggi'?
Entahlah. Ibu aja gitu yang awalnya suka semanggi, berawal dari baca komik Yotsuba. Yotsuba yang bahagia banget menemukan semanggi yang berdaun 4. Sesederhana itu kok. Selain itu semanggi kan warnanya hijau, jadilah Ibu tambah suka. Saking sukanya, undangan pernikahan Ayah-Ibu bertema semanggi, hehe.
Kenapa alamat blognya tidak diganti?
Menurut Ibu, ini untuk mengapresiasi Ayah, hehe. Bagaimanapun juga awal ada blog ini kan karena Ayah. *apa sih*
ada lagi yang mau ditanyakan? Ndak ada?
Okee, cukup ya.. Kalau ada yang mau ditanyakan lagi, bisa via kolom komentar. Atau kalau nanti ada yang mau ditambahkan lagi, insyaAllah diupdate. hehe.
Salam dari kebon,
Ibu
Friday, January 2, 2015
Monday, September 30, 2013
Khayalanku, Harapanku, Doaku
Khayalan ini berawal ketika aku mengingat kembali tentang
hal-hal yang telah terjadi dalam hidupku. Sebagiannya berawal dari sebuah
khayal, kemudian diam-diam dituliskan dalam buku harian, terkadang terucap
lantang ketika berdiskusi dengan kawan, dan diam-diam pula ikut disertakan
dalam doa. Tentu Kuasa dan Izin-Nya tak mungkin lepas dari setiap kisah
hidupku. Beberapa diantaranya seperti kota tempat aku sekolah menengah, usiaku
saat aku menikah, dan tempat tinggalku saat ini.
Diantara sekian banyak
khayalan itu, pernah pula aku berkhayal tentang kabar buruk. Sedih sekali waktu
salah satu saudaraku mengalami kecelakaan dengan kondisi yang hampir seperti
dalam khayalanku. Astagfirullah. Sejak itu aku berjanji untuk selalu berkhayal
tentang kebaikan, dan berharap suatu saat dapat mewujudkannya.
ini beberapa khayalanku yang lain :
1. Menghidupkan
kampung halamanku
Kampung halamanku ada di Bulurejo,
Saptosari, Gunungkidul, DIY. Bisa jadi kalau searching tentang Saptosari,
berita yang banyak muncul adalah isu tentang kristenisasi, terutama untuk
mengatasi kekeringan. Ya, itu benar adanya. Alhamdulillah untuk kampungku bebas
dari isu kristenisasi. Warga kampungku bisa dibilang saklek dengan pemahaman yang mereka miliki, walaupun itu masih
sangat abangan dan kejawen. Kenapa aku ingin menghidupkan
kampungku?
Berawal dari miris ketika sejenak
meluangkan waktu mengingat tentang kampungku. Kampung itulah tempatku
bertumbuh, memberikanku kesempatan menikmati masa kecil yang membahagiakan, dan
sampai sekarang tak pernah berubah. Kampung yang masih ramah. Akan tetapi,
sejenak bergeser mengamati elemennya. Pemuda-pemudi yang bisa dibilang nakal
dan tak memiliki daya juang. Rasanya memang tak pantas aku mengatakannya,
karena akupun jarang berinteraksi dengan mereka. Setidaknya begitulah yang
terlihat. Lulusan SD tidak mau melanjutkan ke SMP jika tidak dibelikan sepeda
motor, yang sudah lulus dan pengangguran masih mengandalkan orang tua untuk
membeli bensin. Pemuda yang semestinya usia produktif bekerja, seringkali asik
terlihat bergerombol di pos ronda, sekedar duduk-duduk tanpa karya. Masjid
sepi, tidak ada TPA. Jamaah masjid didominasi warga yang sudah tua. Padahal
pemuda-pemuda itulah yang nantinya akan menggantikan yang tua memimpin kampung,
merekalah yang akan memegang estafet berikutnya.
Untuk mewujudkan khayalan ini, cara-cara
yang sempat terpikir adalah menghidupkan TPA, pengajian pemuda di malam minggu,
memulai taman baca dan belajar bersama. TPA, taman baca, dan belajar bersama sudah
sempat dimulai beberapa waktu lalu. Akan tetapi, harus vakum, karena aku pindah
tempat tinggal ikut suamiku. Bukan karena aku pindah kurasa, tetapi salah satu
hal yang dibutuhkan untuk mulai menghidupkan kampungku adalah tokoh. Tokoh yang
tak kenal lelah untuk berjuang, dan tanpa pamrih pastinya. Semoga. Bulurejoku
akan segera hidup dan menghidupi dengan penuh kebaikan.
2. Mendirikan
taman baca
Aku sangat menyukai membaca buku, dan aku
memiliki beberapa koleksi buku di rumah. Pengen buat taman baca biar rumah ramai
akan anak-anak, karena aku juga suka bertemu dengan banyak orang. Ini juga
salah satu khayalan untuk mewujudkan khayalan yang pertama, (lhah kok penuh
khayalan ya? -,-!). Taman bacanya ada di halaman rumah, buat bangunan
tersendiri berbentuk saung dari bamboo. Jadi nanti kalau banyak anak-anak yang
main, mereka bisa puas mengobrak-abrik buku tanpa takut kena marah oleh pemilik
rumah, hehe.. Saat ini, mulai nambah-nambah koleksi buku dulu.
3.
Menghidupkan
kompleks perumahan
Per April kemarin aku pindah tempat tinggal
ikut suamiku. Kami tinggal di kompleks perumahan kantor. Banyak sih rumahnya,
tetapi rasanya sepi sekali. Tidak seperti di kampung, ramai dan saling
berkunjung. Nah-nah aku berkhayal untuk bisa menghidupkan kompleks perumahan,
minimal dari tempat tinggalku dulu yaitu blok Jl Kebun Pramuka. Blok ini
menurutku potensial karena seperti kampung tersendiri yang seperti terpisah
dari jalan yang lain, selain itu penghuninya sedikit. Kepikirannya sih seperti
arisan sebulan sekali, nonton bareng piala dunia atau acara lain, dan
ibu-ibunya buat klub memasak atau klub merajut. Atau akan lebih seru lagi jika
ada gathering. Hmm. Sebenarnya berkhayal ini karena mupeng lihat blog teman
yang bercerita tentang hidupnya kompleks tempat dia tinggal.
4.
Klub ibu
hamil
Menjalani kehamilan pertama, di tempat baru
dan jauh dari keluarga itu rasanya aku butuh dukungan. *pengen teriak*.
Lagi-lagi karena pernah mendapati klub serupa di Jogja dulu, jadilah aku
berkhayal andai saja ada klub ini di kompleks ini, huks. InsyaAlloh akan
menyenangkan. Banyaknya teman yang senasib dan sepenanggungan itu rasanya
mengurangi sedikit beban yang kita rasakan. Andai saja, klub ini sudah ada dan
tiap minggu ada kelas sharing untuk membekaliku sebagai calon ibu baru, lain
waktu sesi kelas adalah senam hamil. Sungguh berharap.
5.
Stay at
home mom, dan berbisnis
Menikmati hari-hari di rumah sebagai ibu
rumah tangga itu menyenangkan tetapi lama-lama bikin berpikir cerdas bagaimana
mengisi waktu agar tidak mati gaya. Memang sudah menjadi pilihan dan didukung
oleh suami, tetap tinggal di rumah dan nantinya mendampingi si kecil full time.
Akan tetapi, tidak mau biasa-biasa saja, pengen juga berbisnis dari rumah, lalu
berpenghasilan sendiri. Pengen banget bisa berpenghasilan sendiri sehingga bisa
leluasa untuk memberi dan berbagi, amiin.
Yuhhuuu,, sebagian khayalanku, yang lainnya
banyak di buku harian, hehe. Atau yang lainnya nunggu muncul ke permukaan. Khayalan
itu aku tuliskan, agar tetap teringat, dan suatu saat bisa mewujudkannya.
Khayalan ini dituliskan oleh si istri, Rina Indarwati, diikutkan dalam “Khayalan ini diikutsertakan dalam Giveaway Khayalanku oleh Cah Kesesi Ayutea”
Wednesday, May 15, 2013
Menjadi Bahagia
Malam itu,,
Dia beranjak menuju laptop, bukan meja dimana pena dan 'buku ajaib'nya berada. Biasanya dia akan menulis ketika perasaannya tidak menentu. Aku, beranjak saja tidur. Biarkan dia menikmati waktunya. Toh aku desak pun dia tidak akan bersuara, paling banter akan menyodorkan kertas yang berisi kata-kata yang disampaikannya padaku. Seingatku dia pernah berkata ,"nggak sanggup ngomong, jatuhnya malah nangis". Errrrr
Kemarin lalu dia bercerita, ada yang aneh dengan kehidupannya akhir-akhir ini. "kayak ada yang mati gitu". Akan tetapi dia juga tidak tahu apa yang mati, lalu bagaimana aku bisa tahu, sedangkan setiap hari dia selalu ceria ketika kami bersama. Dia masih dengan sifatnya, ngeselin di berbagai sisi, manja juga, dan tak lupa ngangenin =))
Aku sudah lelap tertidur. Tanpa aku tahu, ternyata dia membuka email. Aha, bagaimana aku tidak tahu bahwa dia sudah sekali membuka catatan lamanya, membaca kembali ceritanya ketika dia sedang jatuh, bagaimana untuk bangkit lagi. Dan dia akan mencoba membangkitkan lagi semangatnya hari ini, "dulu aku pernah mengalami itu dan aku bisa". Ibaratnya, ketika dia membuka catatan lama, dia mencari 'kunci'. Sesuatu yang dia pegang, yang kadang terlupa karena derasnya informasi saat ini. Aku tahu alasan itu tidak seharusnya terjadi. Mestinya 'kunci' itu tidak terlepas dari dirinya, karena hanya dia yang punya. 'Kunci' itu tak akan terganti.
Malam semakin larut, dia menelusuri sebagian inbox email. Dibaca sekilas saja, hingg sampai pada inbox yang ini,..
#dheg..
Dia tertegun lama, diam. Inbox itu sampai sudah sangat lama, hampir setahun yang lalu. Diamnya adalah proses dia mengumpulkan kesadaran. Akhir-akhir ini, dia hidup dalam sebuah mindset yang salah, dalam pemahaman yang kurang tepat.
Tidaklah kebersamaan itu selalu membahagiakan
Tidaklah berjauhan itu selalu menyiksa
Tidaklah berkelimpahan itu membuat tenang
Tidaklah sebuah 'status' lantas membuat bahagia, selalu bahagia
Ah,, bahagia itu jauh lebih sederhana,
Bahagia itu dalam kelapangan hati, keikhlasan, keridhoan atas setiap takdir-Nya
Bahagia itu dalam pemahaman yang benar, pengertian yang sesungguhnya
Sejak malam itu, dia kembali tersadar, "pandai-pandailah memilah mana tujuan dan sarana, kemudian berfokus berikhtiar dalam tataran sarana, dan tetap teguh dalam tujuan"
Prabumulih, 15 Mei 2013
deretan kata, antara nyata dan khayal
"cita-cita akhirat ku adalah berkumpul dengan orang-orang yang aku sayangi di surga Alloh. waktu aku ke pantai itu aku seneng, tapi njuk sedih. aku menikmatinya sendirian. nah aku nggak mau nanti kalau di surga sendirian. aku mau kita bareng-bareng di surga"
Dia beranjak menuju laptop, bukan meja dimana pena dan 'buku ajaib'nya berada. Biasanya dia akan menulis ketika perasaannya tidak menentu. Aku, beranjak saja tidur. Biarkan dia menikmati waktunya. Toh aku desak pun dia tidak akan bersuara, paling banter akan menyodorkan kertas yang berisi kata-kata yang disampaikannya padaku. Seingatku dia pernah berkata ,"nggak sanggup ngomong, jatuhnya malah nangis". Errrrr
Kemarin lalu dia bercerita, ada yang aneh dengan kehidupannya akhir-akhir ini. "kayak ada yang mati gitu". Akan tetapi dia juga tidak tahu apa yang mati, lalu bagaimana aku bisa tahu, sedangkan setiap hari dia selalu ceria ketika kami bersama. Dia masih dengan sifatnya, ngeselin di berbagai sisi, manja juga, dan tak lupa ngangenin =))
Aku sudah lelap tertidur. Tanpa aku tahu, ternyata dia membuka email. Aha, bagaimana aku tidak tahu bahwa dia sudah sekali membuka catatan lamanya, membaca kembali ceritanya ketika dia sedang jatuh, bagaimana untuk bangkit lagi. Dan dia akan mencoba membangkitkan lagi semangatnya hari ini, "dulu aku pernah mengalami itu dan aku bisa". Ibaratnya, ketika dia membuka catatan lama, dia mencari 'kunci'. Sesuatu yang dia pegang, yang kadang terlupa karena derasnya informasi saat ini. Aku tahu alasan itu tidak seharusnya terjadi. Mestinya 'kunci' itu tidak terlepas dari dirinya, karena hanya dia yang punya. 'Kunci' itu tak akan terganti.
Malam semakin larut, dia menelusuri sebagian inbox email. Dibaca sekilas saja, hingg sampai pada inbox yang ini,..
Story from John Maxwell's wife :
Suatu ketika istri John Maxwell (pembicara motivator top) Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang "kebahagiaan". Maxwell
sang suami duduk di bangku paling depan dan mendengarkan.
...
Di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan dan tiba, sesi tanya jawab.
Setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya.. "Mrs. Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?"
Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, "Tidak..."
Seluruh ruangan terkejut. "Tidak..." katanya sekali lagi,"John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia."
Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat-cepat keluar. Kemudian, lanjut
Margaret, "John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik.
Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia selalu setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia."
Tiba-tiba ada suara bertanya, "Mengapa?"
"Karena," Jawabnya, "Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain DIRIKU SENDIRI."
Margaret mengatakan, tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu. Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia.
Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri.. Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kamu tidak akan merasa sedih.
Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar. Bahagia atau tidaknya hidupmu bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu, cantik istrimu/gagah suamimu, atau sesukses apa hidupmu.
Bahagia adalah "PILIHANMU SENDIRI"
Klik: http://www.TheologiaOnline.com/ <http://www.theologiaonline.com/>
===================================================Dan inilah komentar mas tentang artikel di atas :"Yang ingin mas garis bawahi adalah, Bukan karena suami (atau orang lain di sekitar kita) yg tidak akan pernah bisa membuat kita bahagia. Bahkan untuk statement yg ini mas kurang setuju, karena bahagia bisa didapat karena adanya faktor dari luar juga (selain yg paling terbesar memang karena faktor dari diri sendiri yg lebih dapat membuat kita merasa bahagia). Akan tetapi, mas ingin menyampaikan bahwa pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak. Dan statement itulah yg menjadi jawaban atas pertanyaan mas pada diri sendiri juga mengenai mengapa mas selalu ingin membuat orang di sekitar mas (dan berpesan ke mereka) itu harus selalu berpikir positif, entah itu saat kita sedang mendapat kesuksesan (rizki) maupun saat kita sedang diuji dengan sesuatu hal. Dan sebagai penutup, Mas ingin menyampaikan sebuah kata2 yg tiba2 terlintas di pikiran saat membaca artikel di atas, yaitu Alloh itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. ^_^
#dheg..
Dia tertegun lama, diam. Inbox itu sampai sudah sangat lama, hampir setahun yang lalu. Diamnya adalah proses dia mengumpulkan kesadaran. Akhir-akhir ini, dia hidup dalam sebuah mindset yang salah, dalam pemahaman yang kurang tepat.
Tidaklah kebersamaan itu selalu membahagiakan
Tidaklah berjauhan itu selalu menyiksa
Tidaklah berkelimpahan itu membuat tenang
Tidaklah sebuah 'status' lantas membuat bahagia, selalu bahagia
Ah,, bahagia itu jauh lebih sederhana,
Bahagia itu dalam kelapangan hati, keikhlasan, keridhoan atas setiap takdir-Nya
Bahagia itu dalam pemahaman yang benar, pengertian yang sesungguhnya
Sejak malam itu, dia kembali tersadar, "pandai-pandailah memilah mana tujuan dan sarana, kemudian berfokus berikhtiar dalam tataran sarana, dan tetap teguh dalam tujuan"
Prabumulih, 15 Mei 2013
deretan kata, antara nyata dan khayal
"cita-cita akhirat ku adalah berkumpul dengan orang-orang yang aku sayangi di surga Alloh. waktu aku ke pantai itu aku seneng, tapi njuk sedih. aku menikmatinya sendirian. nah aku nggak mau nanti kalau di surga sendirian. aku mau kita bareng-bareng di surga"
Sunday, November 25, 2012
Tanggal ini setahun yang lalu
Ceritanya berawal dari
sini, tadi pagi saya iseng-iseng membuka kembali SMS-SMS masa lalu yang masih tersimpan
di HP saya. Dan sengaja pagi tadi itu saya hanya memilih membaca beberapa SMS
dengan tanggal seperti hari saat ini, 25 November. Saya hanya iseng saja ingin
bernostalgila dengan membaca kembali komunikasi-komunikasi yang pernah saya buat
dengan tanggal yang sama dengan hari ini (entah itu tepat satu tahun yang lalu
atau beberapa tahun yang lalu), khususnya komunikasi melalui layanan short message service. Ternyata masih
cukup banyak SMS yang masih tersimpan dengan tanggal 25 November 2011 (yang
tahun-tahun sebelumnya sudah hilang saya hapus) dan beberapa dari banyak SMS
itu adalah dari istri saya, Rina Indarwati. Selama membaca semua SMS satu tahun
yang lalu itu, saya jadi teringat beberapa kejadian yang pernah saya alami saat
itu. Dan kemudian saya tergoda untuk membuat tulisan ini, untuk sedikit berbagi
kisah terutama kisah antara saya dan istri saya tepat satu tahun yang lalu.
Selamat menikmati ^_^
Jum’at 25 November 2011,
tepat satu tahun yang lalu, saya dan istri saya masih belum menjadi
siapa-siapa, belum terucap janji suci yang menjadikan kami satu. Saat itu kami
memang tidak sedang berinteraksi secara langsung (maksud’e tidak ketemu
langsung face to face gitu lah). Yupz…
saat itu saya sedang berada di Lampung (waktu itu saya masih bekerja di sebuah
perusahaan EPC, dan tergabung dalam proyek pembangunan PLTU (Pembangkit Listrik
Tenaga Uap) 2 x 100 MW di desa Sebalang, Tarahan, Lampung Selatan) dan saya tidak
tahu sedang dimana dia berada (tapi sebatas tebakan saya saja, dik Rina sedang
di desa tempat dia dilahirkan dan dibesarkan, Bulurejo Monggol Saptosari
Gunungkidul DIY). Oya, beberapa hari sebelumnya tepatnya hari Selasa 22
November 2011, dik Rina baru saja diwisuda dan saya sempat pulang ke Jogja,
sempat mampir ke Grha Sabha Pramana UGM juga. #Njuk ngopo? Hehe…
Kembali ke cerita
setahun yang lalu, sebenarnya tidak ada kejadian yang “wow” secara langsung
karena memang pagi itu saya dan dik Rina hanya berSMSan saja. Sebagian SMSan
kami saat itu masih tersimpan di HP saya (baik itu sent item dari saya maupun inbox
dari dik Rina). Agak merasa “gelo”
juga sih karena sebagian SMS yang lain sudah saya hapus,. Tapi tak apalah, yang
terpenting inti dari pembicaraan saya dan dik Rina masih tersimpan rapi di HP
saya dan bisa saya baca ulang kapanpun dan dimanapun (mantep kan? Hehe..).
Jam
10.52 waktu HP saya, dik Rina mengirim sebuah SMS. Sebenarnya saya duluan sih yang
mengawali SMS di hari itu (jam 07.15 kalo yang tercatat di HP saya). Tapi memang
dik Rina tidak langsung membalasnya (atau mungkin dibalas tapi SMSnya sudah saya
hapus kali yaa… Saya lupa, hehe… Lagian juga, buat apa SMSnya dibalas, karena
memang SMS saya pagi itu bukan merupakan SMS yang membutuhkan sebuah jawaban
dan saya pun tidak terlalu berharap dik Rina akan membalas SMS saya) Tapi
ternyata 3 jam 47 menit setelah SMS saya itu, dik Rina gantian yang “memicu” dengan
mengirimkan sebuah SMS sampai membuat saya agak kegeeran. Untuk pertama kalinya
dik Rina mulai memperkenalkan nama saudara sepupunya yang baru berusia sekitar
1,5 bulan. Selisih tidak sampai 1 menit, kembali dik Rina SMS yang intinya
mengingatkan kembali sejarah saat-saat masa sekolah (mulai dari nyontek,
kantin, absensi, dan lain-lain) dan lagi-lagi saya kembali dibuat geer karena
kata-kata di akhir SMS itu. Saya merasa bersyukur karena sudah termasuk dalam
orang-orang yang pernah membuat dik Rina tersenyum (padahal saat itu saya dan istri
saya masih belum terlalu kenal, jarang ketemu juga). Alhamdulillah, ^_^.
SMS
dik Rina tanggal 25 November 2011 jam 10.52 waktu HP saya.
_Sejarah saat masa2 sekolah_
Kantin :
markas besar kalo gak ada guru.
WC :
alasan tepat untuk keluar kelas.
Ribut :
suasana kelas kalo gak ada guru.
Nyontek :
kebudayaan nenek moyang yang masih berjalan.
Papan tulis : TV guru yang wajib ditonton.
Absensi :
benda keramat yang wajib diisi.
Alpa :
kalimat harom yang penting diucapkan.
Tipe-X :
media buat seru-seruan.
Hore :
teriakan yang menjadi kewajiban kalo ada hari libur.
Kirim pesan ini ke
orang2 yang pernah membuatmu tersenyum di masa SD, SMP, SMA, dan masa hidupmu.
^_^ agar mereka teringat kembali.
Saya membaca SMS yang
tentang sekolah itu saat masih melakukan aktivitas pekerjaan di proyek, jadi
tidak langsung saya balas. Saya hanya senyum-senyum sendiri membacanya (dan
sempat juga diperhatikan rekan kerja saya waktu itu). Selesai sholat Jum’at, saya
baru membalas SMS dik Rina (dan sayang sekali, SMS saya sudah terhapus. Akan
tetapi, Alhamdulillah saya masih sedikit ingat SMS saya waktu itu, kurang
lebihnya menanyakan dan menebak tentang siapa Asha, nama yang sempat dik Rina sebutkan
dalam SMSnya, yang ternyata adalah sepupunya yang masih 1,5 bulan itu). Hanya
selang beberapa menit, dik Rina sudah membalas SMS saya dan menyadari bahwa dirinya
belum pernah bercerita sebelumnya tentang nama sepupunya itu (sebelumnya saya
hanya sempat diberi tahu bahwa dik Rina baru saja mendapatkan sepupu baru,
perempuan – SMS kabar ini masih tersimpan juga di HP saya lho… Hehe..). Dik
Rina juga bercerita bahwa sepupunya itu tinggal bersama simbahnya di kampung
yang sama dengan rumah tempat tinggal dik Rina, cuma berbeda RT saja. Dan pada
saat itu, tiba-tiba saja saya merasa kangen dengan keponakan-keponakan saya
yang sedang berada di Lampung (Raka dan Fara) dan Magelang (Daffa, Delvin dan
Varo). Lima keponakan saya yang kelimanya pernah saya rawat dari sejak mereka
bayi.
Selama SMSan, beberapa
kali saya menggoda dik Rina tentang dunia perbayian (maklum, saat itu bisa
dikatakan saya lebih experience
dibandingkan dik Rina). Saking merasa tergodanya, dik Rina membuat statement yang lucu (bagi saya) yaitu “bayi
itu adalah makhluk paling lucu sekaligus menyeramkan, buat dirinya”. Saat itu,
sekali lagi rekan kerja saya kembali lirik-lirik melihat saya senyum-senyum dan
ketawa-ketawa sendiri.
Setelah sempat berhenti
SMSan selama beberapa jam, kami pun kembali melanjutkan obrolan kami di malam
hari. SMS kali ini agak serius dan pembahasannya sebenarnya sudah dimulai sejak
sore hari (sekali lagi sangat disayangkan, saya sudah menghapus beberapa SMSnya
dan untuk yang ini hampir tidak ada yang saya ingat). Saat itu saya sedang
meminta tolong sesuatu ke dik Rina. Nah, di malam harinya dik Rina SMS saya
menanyakan alasan kenapa saya memilih dik Rina untuk dimintai tolong, padahal
sekali lagi saat itu saya dan dia masih belum ada hubungan special. Setelah saya
memberikan penjelasan ke dik Rina, Alhamdulillah alasan saya dapat diterima
dengan baik. Dengan ditambah beberapa SMS berikutnya, saya menjadi sedikit
lebih tahu bahwa dik Rina termasuk yang menjadi orang kepercayaan
teman-temannya dan mampu menjaga dan menyampaikan amanah dengan baik. Dan saat
itu pula, saya tambah yakin untuk terus memperjuangkan harapan saya untuk dapat
“menjadi yang terbaik” untuk dik Rina (dan Alhamdulillah, satu bukti bahwa
Alloh itu Maha Baiiiiiiikkk sekali telah kembali saya rasakan. Harapan saya
terkabulkan dan saat ini kami telah menjadi pasangan suami istri yang semoga
sakinah mawadah warohmah sampai maut memisahkan kami berdua, amin…).
Mungkin segini dulu cerita
dari saya, sedikit catatan kehidupan saya dan dik Rina, istri saya tersayang
dan istri tercinta, pada tanggal ini satu tahun yang lalu. Kapan-kapan insya
Alloh akan saya ceritakan kisah hidup saya (dan istri saya) yang lain. Semoga
kisah kami ini dapat kami kenang selalu dan dapat menjadi bahan cerita dan
inspirasi untuk anak-anak kami kelak. Amin…
Hotel Patra Jasa Cirebon
25 November 2012, jam 22.22 (waktu
laptop saya saat mengakhiri tulisan ini)
Dalam masa kerinduan saya dengan istri
tercinta, Rina Indarwati (saat saya menulis tulisan ini, dik Rina sedang berada
di kota Magelang)
Thursday, November 22, 2012
Kamu
Inspirasiku dirimu
Nyaman aku di sampingmu
Damai berada di sisimu
Aku bersyukur bisa mengenalmu
Rasa syukur karena bersamamu
Walau bagaimana pun keadaanmu
Aku kan tetap menyayangimu
Teman seumur hidupku
Istriku ^_^
Kedawung 2, Patra Jasa Hotel
Cirebon, dalam usaha menghilangkan ngantuk
Subscribe to:
Posts (Atom)