Saturday, June 27, 2015

Mudik Magelang : Wisata Play Ground (1)

Bulan Maret lalu, suami mengambil jatah cuti tahunannya yang masih beberapa hari. Kami memutuskan untuk pulang ke Magelang. Sekitar 10 hari kami di Magelang dan rasanya tetap kurang puas. Ah kalau di Magelang mah mau lama-lama juga betah, asal sekeluarga, he.

Ada salah satu ponakan yang 'nemplok' banget sama suami, bahkan sampai kami punya anakpun masih juga 'nemplok'. Blas nggak ada menghindar atau cemburu sama anak kami. Saking nemploknya, beberapa hari selama kami di rumah salah satu agenda rutinnya adalah mengantar jemput dia sekolah, dan berbonus main dulu di taman bermain. Ini beberapa taman bermain yang sempat kami kunjungi.

Gardena

Sejujurnya, saya lupa nama tempat bermainnya. Letaknya di sebelah swalayan Gardena Magelang. Ada macam-macam mainannya, seperti mandi bola, undian, odong-odong, dan kids land. Kids land atau apa ya namanya ini adalah area khusus untuk bermain pasir dan ada beberapa play house serta ayunan. Untuk masuk Kids land, tidak menggunakan koin melainkan voucher.
Kids land; playhouse dan beberapa mainan

area kids land

Kami kecelik nih disini, dikiranya si ponakan minta main semacam mandi bola atau odong-odong, jadi di awal kami beli koin Rp20.000, sekalian modus biar bisa ambil undian. Ndilalah  kok ponakan bablas saja menuju kids land, dan saya baca sekilas untuk masuk memakai voucher. Aduh mak, tau gitu. Akhirnya saya membeli voucher 1, Rp5.000 untuk 30'. Dan selama 30' pertama si ponakan anteng main pasir, skuter mini, menjelajah play house ditemani oleh suami. Saya? Nyicil menghabiskan koin sambil menggendong si kecil yang tidur siang. Beberapa saat kemudian, si kecil bangun, pas dengan beberapa menit lagi jatah waktu kakak sepupunya habis. Akan tetapi, tetapi, kok si kecil kelihatan pengen masuk kolam pasir juga. Thoeng.. Akhirnya saya membeli lagi 2 voucher untuk 2 bocah yang ingin bermain pasir.
asyik bermain pasir


Awalnya si kecil cuma lihat-lihat kakak sepupunya. Lalu saya ajak main di playhouse, coba skuter mini, dan berakhir di ayunan. MasyaAllah dia bahagia sekali main di ayunan, saking bahagianya sampai gak mau dipegangin dan kadang gerakannya tambah kencang. Anak happy, simbok ketar-ketir takut anaknya jatuh. Ketika jatah waktunya habis, 2 bocah ini kelihatan enggan untuk pulang. Yaa maafkan nak, tetapi kalian butuh tidur siang. Apalagi si ponakan ini, yang gampang banget tidur. Bonceng berdiri di depan aja dia bisa tidur lhoh. Sungguh sesuatu yang medeni.
naik skuter mini :D

mainan ayunan;  gayanya mau nyalain mesin odong2; terjebak di playhouse


Dekat tempat bermain ini, bahkan di sebelahnya ada kios-kios kecil jual makanan. Ada yang jual kebab lho :D dan ada swalayannya juga. Kalau lupa bawa makanan bisa mampir di kios ini atau ke swalayan atau bisa juga jalan sebentar menuju alun-alun magelang. Ada kuliner sejuta bunga di situ, emm nama resminya lagi-lagi saya lupa. Yaaa tapi saya belum ada rekomendasi makanan yang enak di sepanjang kuliner sejuta bunga alun-alun, palingan angkringan, itupun adanya kalau maghrib, he. Alhamdulillah kemarin sempat ngangkring juga. Mudik tanpa ngangkring itu rasanya kayak ada yang kurang, hihi.. 

PS : tempatnya cukuplah untuk bermain. Waktu itu kami bermain di hari sekolah dan siang hari, jadinya berasa main di taman sendiri, haha. Butirannya pasir ukuran sedang, tak sehalus pasir pantai. Tidak begitu luas memang dan mainannya pun mencukupi. Kalau arena mandi bola kelihatan gelap, dan saya tidak tahu apakah bola-bola dan tempatnya rutin dibersihkan.


Wednesday, May 13, 2015

Camilan Andin

Beberapa hari ini Andin hampir selalu rewel ketika bangun tidur. Padahal ya, baru krusel-krusel gitu biasanya langsung Ibu sumpel ASI. Kadang mempan beberapa menit, habis itu rewel lagi. Pernah saking rewelnya sampai Ayah terlambat ke kantor *biasanya juga telat :P.

Usut punya usut setelah  diperhatikan, produksi ASI Ibu tampaknya berkurang dan lambung Andin yang membesar tak cukup terpenuhi hanya ASI. Yaiyalah bu,, dah dari masa MPASI kalee .. Hehe karena Andin ini waktu awal MPASI sampai usia sekitar setahunan termasuk anak yang irit makannya. Lebih banyak mengandalkan ASI.

Untuk membuat pagi yang lebih bahagia Ibu belajar membuat camilan ringan (tapi kalori tinggi) untuk Andin. Maklum, Ibunya susah bangun pagi jadi kadang sarapan kadang nggak, seadanya. *sedih. Alhamdulillah Andin suka dengan camilan yang Ibu buat. Aih, bahagianya hati Ibu tak terkira, jadi tambah semangat untuk mencoba membuat camilan yang lain. *cium Andin


BONGKO ROTI TAWAR 

Resep bongko ini Ibu dapatkan dari blog masakan mbak HM Zwan di hotwajan.blogspot.com. Foto masakan di blog mbak HM Zwan kece badai, tsah, keren banget lah pokoknya. Dan itu cuma berbekal kamera handphone. Yaa yang ada bakat dan nggak emang keliatan bedanya *membela diri.
Ibu senang waktu menemukan resep bongko ini, karena ada stok pinggiran roti tawar. Entah beli jaman kapan. Saban membuka kulkas, rasanya selalu diawe-awe untuk segera menyelamatkannya. Resep aslinya silahkan intip di alamat blog di atas. Yang ditulis kreasi Ibu saja :)

Bahan:
Pinggiran roti tawar, sobek-sobek kecil
Santan instan secukupnya
Gula pasir sesuai selera
Sejumput vanili
sejumput oatmeal

Cara:
1. Dalam sebuah wadah, campur rata semua bahan. Silahkan dicicipi sesuai selera, manisnya, atau kekentalannya.
2. Tata dalam wadah tahan panas, kukus selama kurang lebih 20'.
3. Setelah matang, angkat dan sajikan. Bisa disimpan di kulkas kalau membuat lebih.

PS:
*Bahan-bahan bisa dikreasikan ya, bisa ditambah pisang, telur, susu. Sesuai selera dan ketersediaan bahan di rumah.
*Wadah tahan panaspun bisa dikreasikan juga, bisa pakai daun pisang atau kontainer yang tahan panas :)
*Proses memasak bisa diganti dengan dipanggang
*its all up to you mom, yang penting masak dengan hati bahagia, hehe


PIE JAGUNG KUKUS

Kalau ini resepnya Ibu lupa darimana. Awal Andin MPASI Ibu googling aneka menu dan resep ini ikut tertulis di buku catatan resep. Tadi pagi waktu belanja di pak sayur lihat jagung manis langsung dibeli, karena dah kepikiran sama resep ini dari beberapa hari kemarin. Selain itu sebagai alternatif memberikan asupan karbo, selain yang sudah-sudah.

Bahan:
1 buah jagung manis, silahkan dipipil, diiris, atau diparut sesuai dengan kondisi anak. *saya iris tipis2
1 sdm keju parut
1 sdm oatmeal
30-50ml susu formula/UHT/ASI sesuai kekentalan yang diinginkan *saya pakai susu formula

Cara: 
1. Dalam sebuah wadah, campur rata semua bahan
2. Tata dalam wadah tahan panas, lalu kukus selama 15'

PS: sama dengan resep sebelumnya :)

Alhamdulillah Andin suka. Tadi kenyataannya nggak satu buah jagung manis, karena sebagian ikut dimasak sayur bening. Jadi 2 mangkuk kecil dan habis oleh Andin dalam 2 sesi. Efek sampingnya, hampir seharian Andin tidak makan nasi. Gak apa-apa nak, ngemilmu hari ini lumayan banyak kok :)

Sekarang Ibu lagi mikir besok buat camilan apa ya? Andin butuh lebih asupan sayur karena beberapa hari ini BABnya kurang bagus. Identifikasi awal karena kurang makan buah dan sayur.
:)
Semoga semakin hari makin pintar makan dan sehat selalu, aaminn

Salam bahagia,

Ibu

Friday, January 2, 2015

Assalamu'alaykum :)

Bismillah,


Alhamdulillah blog ini dihidupkan lagi, setelah selama 1 tahun lebih mati suri. Awalnya blog ini adalah blog Ayah waktu masih single, hehe makanya tulisan di blog ini kebanyakan puisi. Ada puisi yang ditujukan untuk Ibu lho, hihi *ngumpet dibalik bantal*. Setelah menikah, Ayah lalu disibukkan oleh kegiatan OJT jadi blog ini mulai terbengkalai. Ibupun awalnya tak tertarik untuk menghidupkan blog ini, karena Ibu gak bisa buat puisi, hehe, memahami makna dibalik suatu puisi aja butuh waktu yang lama apalagi buat puisi, hedeh -,-! Ibu bisanya apa ya? *mikir keras*

InsyaAllah mulai tahun ini, blog ini akan dihidupkan lagi. InsyaAllah akan digunakan untuk merekam jejak 'Keluarga Semanggi'.

Kenapa 'Keluarga Semanggi'?
Entahlah. Ibu aja gitu yang awalnya suka semanggi, berawal dari baca komik Yotsuba. Yotsuba yang bahagia banget menemukan semanggi yang berdaun 4. Sesederhana itu kok. Selain itu semanggi kan warnanya hijau, jadilah Ibu tambah suka. Saking sukanya, undangan pernikahan Ayah-Ibu bertema semanggi, hehe.

Kenapa alamat blognya tidak diganti?
Menurut Ibu, ini untuk mengapresiasi Ayah, hehe. Bagaimanapun juga awal ada blog ini kan karena Ayah. *apa sih*

ada lagi yang mau ditanyakan? Ndak ada?
Okee, cukup ya.. Kalau ada yang mau ditanyakan lagi, bisa via kolom komentar. Atau kalau nanti ada yang mau ditambahkan lagi, insyaAllah diupdate. hehe.


Salam dari kebon,

Ibu

Monday, September 30, 2013

Khayalanku, Harapanku, Doaku


Khayalan ini berawal ketika aku mengingat kembali tentang hal-hal yang telah terjadi dalam hidupku. Sebagiannya berawal dari sebuah khayal, kemudian diam-diam dituliskan dalam buku harian, terkadang terucap lantang ketika berdiskusi dengan kawan, dan diam-diam pula ikut disertakan dalam doa. Tentu Kuasa dan Izin-Nya tak mungkin lepas dari setiap kisah hidupku. Beberapa diantaranya seperti kota tempat aku sekolah menengah, usiaku saat aku menikah, dan tempat tinggalku saat ini.
Diantara sekian banyak khayalan itu, pernah pula aku berkhayal tentang kabar buruk. Sedih sekali waktu salah satu saudaraku mengalami kecelakaan dengan kondisi yang hampir seperti dalam khayalanku. Astagfirullah. Sejak itu aku berjanji untuk selalu berkhayal tentang kebaikan, dan berharap suatu saat dapat mewujudkannya.
ini beberapa khayalanku yang lain :

1.      Menghidupkan kampung halamanku
Kampung halamanku ada di Bulurejo, Saptosari, Gunungkidul, DIY. Bisa jadi kalau searching tentang Saptosari, berita yang banyak muncul adalah isu tentang kristenisasi, terutama untuk mengatasi kekeringan. Ya, itu benar adanya. Alhamdulillah untuk kampungku bebas dari isu kristenisasi. Warga kampungku bisa dibilang saklek dengan pemahaman yang mereka miliki, walaupun itu masih sangat abangan dan kejawen. Kenapa aku ingin menghidupkan kampungku?
Berawal dari miris ketika sejenak meluangkan waktu mengingat tentang kampungku. Kampung itulah tempatku bertumbuh, memberikanku kesempatan menikmati masa kecil yang membahagiakan, dan sampai sekarang tak pernah berubah. Kampung yang masih ramah. Akan tetapi, sejenak bergeser mengamati elemennya. Pemuda-pemudi yang bisa dibilang nakal dan tak memiliki daya juang. Rasanya memang tak pantas aku mengatakannya, karena akupun jarang berinteraksi dengan mereka. Setidaknya begitulah yang terlihat. Lulusan SD tidak mau melanjutkan ke SMP jika tidak dibelikan sepeda motor, yang sudah lulus dan pengangguran masih mengandalkan orang tua untuk membeli bensin. Pemuda yang semestinya usia produktif bekerja, seringkali asik terlihat bergerombol di pos ronda, sekedar duduk-duduk tanpa karya. Masjid sepi, tidak ada TPA. Jamaah masjid didominasi warga yang sudah tua. Padahal pemuda-pemuda itulah yang nantinya akan menggantikan yang tua memimpin kampung, merekalah yang akan memegang estafet berikutnya.
Untuk mewujudkan khayalan ini, cara-cara yang sempat terpikir adalah menghidupkan TPA, pengajian pemuda di malam minggu, memulai taman baca dan belajar bersama. TPA, taman baca, dan belajar bersama sudah sempat dimulai beberapa waktu lalu. Akan tetapi, harus vakum, karena aku pindah tempat tinggal ikut suamiku. Bukan karena aku pindah kurasa, tetapi salah satu hal yang dibutuhkan untuk mulai menghidupkan kampungku adalah tokoh. Tokoh yang tak kenal lelah untuk berjuang, dan tanpa pamrih pastinya. Semoga. Bulurejoku akan segera hidup dan menghidupi dengan penuh kebaikan.

2.    Mendirikan taman baca
Aku sangat menyukai membaca buku, dan aku memiliki beberapa koleksi buku di rumah. Pengen buat taman baca biar rumah ramai akan anak-anak, karena aku juga suka bertemu dengan banyak orang. Ini juga salah satu khayalan untuk mewujudkan khayalan yang pertama, (lhah kok penuh khayalan ya? -,-!). Taman bacanya ada di halaman rumah, buat bangunan tersendiri berbentuk saung dari bamboo. Jadi nanti kalau banyak anak-anak yang main, mereka bisa puas mengobrak-abrik buku tanpa takut kena marah oleh pemilik rumah, hehe.. Saat ini, mulai nambah-nambah koleksi buku dulu.

3.       Menghidupkan kompleks perumahan
Per April kemarin aku pindah tempat tinggal ikut suamiku. Kami tinggal di kompleks perumahan kantor. Banyak sih rumahnya, tetapi rasanya sepi sekali. Tidak seperti di kampung, ramai dan saling berkunjung. Nah-nah aku berkhayal untuk bisa menghidupkan kompleks perumahan, minimal dari tempat tinggalku dulu yaitu blok Jl Kebun Pramuka. Blok ini menurutku potensial karena seperti kampung tersendiri yang seperti terpisah dari jalan yang lain, selain itu penghuninya sedikit. Kepikirannya sih seperti arisan sebulan sekali, nonton bareng piala dunia atau acara lain, dan ibu-ibunya buat klub memasak atau klub merajut. Atau akan lebih seru lagi jika ada gathering. Hmm. Sebenarnya berkhayal ini karena mupeng lihat blog teman yang bercerita tentang hidupnya kompleks tempat dia tinggal.

4.       Klub ibu hamil
Menjalani kehamilan pertama, di tempat baru dan jauh dari keluarga itu rasanya aku butuh dukungan. *pengen teriak*. Lagi-lagi karena pernah mendapati klub serupa di Jogja dulu, jadilah aku berkhayal andai saja ada klub ini di kompleks ini, huks. InsyaAlloh akan menyenangkan. Banyaknya teman yang senasib dan sepenanggungan itu rasanya mengurangi sedikit beban yang kita rasakan. Andai saja, klub ini sudah ada dan tiap minggu ada kelas sharing untuk membekaliku sebagai calon ibu baru, lain waktu sesi kelas adalah senam hamil. Sungguh berharap.

5.       Stay at home mom, dan berbisnis
Menikmati hari-hari di rumah sebagai ibu rumah tangga itu menyenangkan tetapi lama-lama bikin berpikir cerdas bagaimana mengisi waktu agar tidak mati gaya. Memang sudah menjadi pilihan dan didukung oleh suami, tetap tinggal di rumah dan nantinya mendampingi si kecil full time. Akan tetapi, tidak mau biasa-biasa saja, pengen juga berbisnis dari rumah, lalu berpenghasilan sendiri. Pengen banget bisa berpenghasilan sendiri sehingga bisa leluasa untuk memberi dan berbagi, amiin.

Yuhhuuu,, sebagian khayalanku, yang lainnya banyak di buku harian, hehe. Atau yang lainnya nunggu muncul ke permukaan. Khayalan itu aku tuliskan, agar tetap teringat, dan suatu saat bisa mewujudkannya.

Khayalan ini dituliskan oleh si istri, Rina Indarwati, diikutkan dalam “Khayalan ini diikutsertakan dalam Giveaway Khayalanku oleh Cah Kesesi Ayutea”

Wednesday, May 15, 2013

Menjadi Bahagia

Malam itu,,
Dia beranjak menuju laptop, bukan meja dimana pena dan 'buku ajaib'nya berada. Biasanya dia akan menulis ketika perasaannya tidak menentu. Aku, beranjak saja tidur. Biarkan dia menikmati waktunya. Toh aku desak pun dia tidak akan bersuara, paling banter akan menyodorkan kertas yang berisi kata-kata yang disampaikannya padaku. Seingatku dia pernah berkata ,"nggak sanggup ngomong, jatuhnya malah nangis". Errrrr

Kemarin lalu dia bercerita, ada yang aneh dengan kehidupannya akhir-akhir ini. "kayak ada yang mati gitu". Akan tetapi dia juga tidak tahu apa yang mati, lalu bagaimana aku bisa tahu, sedangkan setiap hari dia selalu ceria ketika kami bersama. Dia masih dengan sifatnya, ngeselin di berbagai sisi, manja juga, dan tak lupa ngangenin =))

Aku sudah lelap tertidur. Tanpa aku tahu, ternyata dia membuka email. Aha, bagaimana aku tidak tahu bahwa dia sudah sekali membuka catatan lamanya, membaca kembali ceritanya ketika dia sedang jatuh, bagaimana untuk bangkit lagi. Dan dia akan mencoba membangkitkan lagi semangatnya hari ini, "dulu aku pernah mengalami itu dan aku bisa". Ibaratnya, ketika dia membuka catatan lama, dia mencari 'kunci'. Sesuatu yang dia pegang, yang kadang terlupa karena derasnya informasi saat ini. Aku tahu alasan itu tidak seharusnya terjadi. Mestinya 'kunci' itu tidak terlepas dari dirinya, karena hanya dia yang punya. 'Kunci' itu tak akan terganti.

Malam semakin larut, dia menelusuri sebagian inbox email. Dibaca sekilas saja, hingg sampai pada inbox yang ini,..
Story from John Maxwell's wife :

Suatu ketika istri John Maxwell (pembicara motivator top) Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang "kebahagiaan". Maxwell
sang suami duduk di bangku paling depan dan mendengarkan.
...

Di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan dan tiba, sesi tanya jawab.

Setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya.. "Mrs. Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?"

Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, "Tidak..."

Seluruh ruangan terkejut. "Tidak..." katanya sekali lagi,"John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia."

Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat-cepat keluar. Kemudian, lanjut
Margaret, "John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik.

Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia selalu setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia."

Tiba-tiba ada suara bertanya, "Mengapa?"

"Karena," Jawabnya, "Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain DIRIKU SENDIRI."

Margaret mengatakan, tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu. Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia.

Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri.. Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kamu tidak akan merasa sedih.

Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar. Bahagia atau tidaknya hidupmu bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu, cantik istrimu/gagah suamimu, atau sesukses apa hidupmu.

Bahagia adalah "PILIHANMU SENDIRI"

Klik: http://www.TheologiaOnline.com/ <http://www.theologiaonline.com/>

===================================================

Dan inilah komentar mas tentang artikel di atas :

"Yang ingin mas garis bawahi adalah, Bukan karena suami (atau orang lain di sekitar kita) yg tidak akan pernah bisa membuat kita bahagia. Bahkan untuk statement yg ini mas kurang setuju, karena bahagia bisa didapat karena adanya faktor dari luar juga (selain yg paling terbesar memang karena faktor dari diri sendiri yg lebih dapat membuat kita merasa bahagia). Akan tetapi, mas ingin menyampaikan bahwa pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak. Dan statement itulah yg menjadi jawaban atas pertanyaan mas pada diri sendiri juga mengenai mengapa mas selalu ingin membuat orang di sekitar mas (dan berpesan ke mereka) itu harus selalu berpikir positif, entah itu saat kita sedang mendapat kesuksesan (rizki) maupun saat kita sedang diuji dengan sesuatu hal. Dan sebagai penutup, Mas ingin menyampaikan sebuah kata2 yg tiba2 terlintas di pikiran saat membaca artikel di atas, yaitu Alloh itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. ^_^

#dheg..
Dia tertegun lama, diam. Inbox itu sampai sudah sangat lama, hampir setahun yang lalu. Diamnya adalah proses dia mengumpulkan kesadaran. Akhir-akhir ini, dia hidup dalam sebuah mindset yang salah, dalam pemahaman yang kurang tepat.

Tidaklah kebersamaan itu selalu membahagiakan
Tidaklah berjauhan itu selalu menyiksa
Tidaklah berkelimpahan itu membuat tenang
Tidaklah sebuah 'status' lantas membuat bahagia, selalu bahagia
Ah,, bahagia itu jauh lebih sederhana,
Bahagia itu dalam kelapangan hati, keikhlasan, keridhoan atas setiap takdir-Nya
Bahagia itu dalam pemahaman yang benar, pengertian yang sesungguhnya

Sejak malam itu, dia kembali tersadar, "pandai-pandailah memilah mana tujuan dan sarana, kemudian berfokus berikhtiar dalam tataran sarana, dan tetap teguh dalam tujuan"


Prabumulih, 15 Mei 2013
deretan kata, antara nyata dan khayal
"cita-cita akhirat ku adalah berkumpul dengan orang-orang yang aku sayangi di surga Alloh. waktu aku ke pantai itu aku seneng, tapi njuk sedih. aku menikmatinya sendirian. nah aku nggak mau nanti    kalau di surga sendirian. aku mau kita bareng-bareng di surga"