Ceritanya berawal dari
sini, tadi pagi saya iseng-iseng membuka kembali SMS-SMS masa lalu yang masih tersimpan
di HP saya. Dan sengaja pagi tadi itu saya hanya memilih membaca beberapa SMS
dengan tanggal seperti hari saat ini, 25 November. Saya hanya iseng saja ingin
bernostalgila dengan membaca kembali komunikasi-komunikasi yang pernah saya buat
dengan tanggal yang sama dengan hari ini (entah itu tepat satu tahun yang lalu
atau beberapa tahun yang lalu), khususnya komunikasi melalui layanan short message service. Ternyata masih
cukup banyak SMS yang masih tersimpan dengan tanggal 25 November 2011 (yang
tahun-tahun sebelumnya sudah hilang saya hapus) dan beberapa dari banyak SMS
itu adalah dari istri saya, Rina Indarwati. Selama membaca semua SMS satu tahun
yang lalu itu, saya jadi teringat beberapa kejadian yang pernah saya alami saat
itu. Dan kemudian saya tergoda untuk membuat tulisan ini, untuk sedikit berbagi
kisah terutama kisah antara saya dan istri saya tepat satu tahun yang lalu.
Selamat menikmati ^_^
Jum’at 25 November 2011,
tepat satu tahun yang lalu, saya dan istri saya masih belum menjadi
siapa-siapa, belum terucap janji suci yang menjadikan kami satu. Saat itu kami
memang tidak sedang berinteraksi secara langsung (maksud’e tidak ketemu
langsung face to face gitu lah). Yupz…
saat itu saya sedang berada di Lampung (waktu itu saya masih bekerja di sebuah
perusahaan EPC, dan tergabung dalam proyek pembangunan PLTU (Pembangkit Listrik
Tenaga Uap) 2 x 100 MW di desa Sebalang, Tarahan, Lampung Selatan) dan saya tidak
tahu sedang dimana dia berada (tapi sebatas tebakan saya saja, dik Rina sedang
di desa tempat dia dilahirkan dan dibesarkan, Bulurejo Monggol Saptosari
Gunungkidul DIY). Oya, beberapa hari sebelumnya tepatnya hari Selasa 22
November 2011, dik Rina baru saja diwisuda dan saya sempat pulang ke Jogja,
sempat mampir ke Grha Sabha Pramana UGM juga. #Njuk ngopo? Hehe…
Kembali ke cerita
setahun yang lalu, sebenarnya tidak ada kejadian yang “wow” secara langsung
karena memang pagi itu saya dan dik Rina hanya berSMSan saja. Sebagian SMSan
kami saat itu masih tersimpan di HP saya (baik itu sent item dari saya maupun inbox
dari dik Rina). Agak merasa “gelo”
juga sih karena sebagian SMS yang lain sudah saya hapus,. Tapi tak apalah, yang
terpenting inti dari pembicaraan saya dan dik Rina masih tersimpan rapi di HP
saya dan bisa saya baca ulang kapanpun dan dimanapun (mantep kan? Hehe..).
Jam
10.52 waktu HP saya, dik Rina mengirim sebuah SMS. Sebenarnya saya duluan sih yang
mengawali SMS di hari itu (jam 07.15 kalo yang tercatat di HP saya). Tapi memang
dik Rina tidak langsung membalasnya (atau mungkin dibalas tapi SMSnya sudah saya
hapus kali yaa… Saya lupa, hehe… Lagian juga, buat apa SMSnya dibalas, karena
memang SMS saya pagi itu bukan merupakan SMS yang membutuhkan sebuah jawaban
dan saya pun tidak terlalu berharap dik Rina akan membalas SMS saya) Tapi
ternyata 3 jam 47 menit setelah SMS saya itu, dik Rina gantian yang “memicu” dengan
mengirimkan sebuah SMS sampai membuat saya agak kegeeran. Untuk pertama kalinya
dik Rina mulai memperkenalkan nama saudara sepupunya yang baru berusia sekitar
1,5 bulan. Selisih tidak sampai 1 menit, kembali dik Rina SMS yang intinya
mengingatkan kembali sejarah saat-saat masa sekolah (mulai dari nyontek,
kantin, absensi, dan lain-lain) dan lagi-lagi saya kembali dibuat geer karena
kata-kata di akhir SMS itu. Saya merasa bersyukur karena sudah termasuk dalam
orang-orang yang pernah membuat dik Rina tersenyum (padahal saat itu saya dan istri
saya masih belum terlalu kenal, jarang ketemu juga). Alhamdulillah, ^_^.
SMS
dik Rina tanggal 25 November 2011 jam 10.52 waktu HP saya.
_Sejarah saat masa2 sekolah_
Kantin :
markas besar kalo gak ada guru.
WC :
alasan tepat untuk keluar kelas.
Ribut :
suasana kelas kalo gak ada guru.
Nyontek :
kebudayaan nenek moyang yang masih berjalan.
Papan tulis : TV guru yang wajib ditonton.
Absensi :
benda keramat yang wajib diisi.
Alpa :
kalimat harom yang penting diucapkan.
Tipe-X :
media buat seru-seruan.
Hore :
teriakan yang menjadi kewajiban kalo ada hari libur.
Kirim pesan ini ke
orang2 yang pernah membuatmu tersenyum di masa SD, SMP, SMA, dan masa hidupmu.
^_^ agar mereka teringat kembali.
Saya membaca SMS yang
tentang sekolah itu saat masih melakukan aktivitas pekerjaan di proyek, jadi
tidak langsung saya balas. Saya hanya senyum-senyum sendiri membacanya (dan
sempat juga diperhatikan rekan kerja saya waktu itu). Selesai sholat Jum’at, saya
baru membalas SMS dik Rina (dan sayang sekali, SMS saya sudah terhapus. Akan
tetapi, Alhamdulillah saya masih sedikit ingat SMS saya waktu itu, kurang
lebihnya menanyakan dan menebak tentang siapa Asha, nama yang sempat dik Rina sebutkan
dalam SMSnya, yang ternyata adalah sepupunya yang masih 1,5 bulan itu). Hanya
selang beberapa menit, dik Rina sudah membalas SMS saya dan menyadari bahwa dirinya
belum pernah bercerita sebelumnya tentang nama sepupunya itu (sebelumnya saya
hanya sempat diberi tahu bahwa dik Rina baru saja mendapatkan sepupu baru,
perempuan – SMS kabar ini masih tersimpan juga di HP saya lho… Hehe..). Dik
Rina juga bercerita bahwa sepupunya itu tinggal bersama simbahnya di kampung
yang sama dengan rumah tempat tinggal dik Rina, cuma berbeda RT saja. Dan pada
saat itu, tiba-tiba saja saya merasa kangen dengan keponakan-keponakan saya
yang sedang berada di Lampung (Raka dan Fara) dan Magelang (Daffa, Delvin dan
Varo). Lima keponakan saya yang kelimanya pernah saya rawat dari sejak mereka
bayi.
Selama SMSan, beberapa
kali saya menggoda dik Rina tentang dunia perbayian (maklum, saat itu bisa
dikatakan saya lebih experience
dibandingkan dik Rina). Saking merasa tergodanya, dik Rina membuat statement yang lucu (bagi saya) yaitu “bayi
itu adalah makhluk paling lucu sekaligus menyeramkan, buat dirinya”. Saat itu,
sekali lagi rekan kerja saya kembali lirik-lirik melihat saya senyum-senyum dan
ketawa-ketawa sendiri.
Setelah sempat berhenti
SMSan selama beberapa jam, kami pun kembali melanjutkan obrolan kami di malam
hari. SMS kali ini agak serius dan pembahasannya sebenarnya sudah dimulai sejak
sore hari (sekali lagi sangat disayangkan, saya sudah menghapus beberapa SMSnya
dan untuk yang ini hampir tidak ada yang saya ingat). Saat itu saya sedang
meminta tolong sesuatu ke dik Rina. Nah, di malam harinya dik Rina SMS saya
menanyakan alasan kenapa saya memilih dik Rina untuk dimintai tolong, padahal
sekali lagi saat itu saya dan dia masih belum ada hubungan special. Setelah saya
memberikan penjelasan ke dik Rina, Alhamdulillah alasan saya dapat diterima
dengan baik. Dengan ditambah beberapa SMS berikutnya, saya menjadi sedikit
lebih tahu bahwa dik Rina termasuk yang menjadi orang kepercayaan
teman-temannya dan mampu menjaga dan menyampaikan amanah dengan baik. Dan saat
itu pula, saya tambah yakin untuk terus memperjuangkan harapan saya untuk dapat
“menjadi yang terbaik” untuk dik Rina (dan Alhamdulillah, satu bukti bahwa
Alloh itu Maha Baiiiiiiikkk sekali telah kembali saya rasakan. Harapan saya
terkabulkan dan saat ini kami telah menjadi pasangan suami istri yang semoga
sakinah mawadah warohmah sampai maut memisahkan kami berdua, amin…).
Mungkin segini dulu cerita
dari saya, sedikit catatan kehidupan saya dan dik Rina, istri saya tersayang
dan istri tercinta, pada tanggal ini satu tahun yang lalu. Kapan-kapan insya
Alloh akan saya ceritakan kisah hidup saya (dan istri saya) yang lain. Semoga
kisah kami ini dapat kami kenang selalu dan dapat menjadi bahan cerita dan
inspirasi untuk anak-anak kami kelak. Amin…
Hotel Patra Jasa Cirebon
25 November 2012, jam 22.22 (waktu
laptop saya saat mengakhiri tulisan ini)
Dalam masa kerinduan saya dengan istri
tercinta, Rina Indarwati (saat saya menulis tulisan ini, dik Rina sedang berada
di kota Magelang)