Monday, September 30, 2013

Khayalanku, Harapanku, Doaku


Khayalan ini berawal ketika aku mengingat kembali tentang hal-hal yang telah terjadi dalam hidupku. Sebagiannya berawal dari sebuah khayal, kemudian diam-diam dituliskan dalam buku harian, terkadang terucap lantang ketika berdiskusi dengan kawan, dan diam-diam pula ikut disertakan dalam doa. Tentu Kuasa dan Izin-Nya tak mungkin lepas dari setiap kisah hidupku. Beberapa diantaranya seperti kota tempat aku sekolah menengah, usiaku saat aku menikah, dan tempat tinggalku saat ini.
Diantara sekian banyak khayalan itu, pernah pula aku berkhayal tentang kabar buruk. Sedih sekali waktu salah satu saudaraku mengalami kecelakaan dengan kondisi yang hampir seperti dalam khayalanku. Astagfirullah. Sejak itu aku berjanji untuk selalu berkhayal tentang kebaikan, dan berharap suatu saat dapat mewujudkannya.
ini beberapa khayalanku yang lain :

1.      Menghidupkan kampung halamanku
Kampung halamanku ada di Bulurejo, Saptosari, Gunungkidul, DIY. Bisa jadi kalau searching tentang Saptosari, berita yang banyak muncul adalah isu tentang kristenisasi, terutama untuk mengatasi kekeringan. Ya, itu benar adanya. Alhamdulillah untuk kampungku bebas dari isu kristenisasi. Warga kampungku bisa dibilang saklek dengan pemahaman yang mereka miliki, walaupun itu masih sangat abangan dan kejawen. Kenapa aku ingin menghidupkan kampungku?
Berawal dari miris ketika sejenak meluangkan waktu mengingat tentang kampungku. Kampung itulah tempatku bertumbuh, memberikanku kesempatan menikmati masa kecil yang membahagiakan, dan sampai sekarang tak pernah berubah. Kampung yang masih ramah. Akan tetapi, sejenak bergeser mengamati elemennya. Pemuda-pemudi yang bisa dibilang nakal dan tak memiliki daya juang. Rasanya memang tak pantas aku mengatakannya, karena akupun jarang berinteraksi dengan mereka. Setidaknya begitulah yang terlihat. Lulusan SD tidak mau melanjutkan ke SMP jika tidak dibelikan sepeda motor, yang sudah lulus dan pengangguran masih mengandalkan orang tua untuk membeli bensin. Pemuda yang semestinya usia produktif bekerja, seringkali asik terlihat bergerombol di pos ronda, sekedar duduk-duduk tanpa karya. Masjid sepi, tidak ada TPA. Jamaah masjid didominasi warga yang sudah tua. Padahal pemuda-pemuda itulah yang nantinya akan menggantikan yang tua memimpin kampung, merekalah yang akan memegang estafet berikutnya.
Untuk mewujudkan khayalan ini, cara-cara yang sempat terpikir adalah menghidupkan TPA, pengajian pemuda di malam minggu, memulai taman baca dan belajar bersama. TPA, taman baca, dan belajar bersama sudah sempat dimulai beberapa waktu lalu. Akan tetapi, harus vakum, karena aku pindah tempat tinggal ikut suamiku. Bukan karena aku pindah kurasa, tetapi salah satu hal yang dibutuhkan untuk mulai menghidupkan kampungku adalah tokoh. Tokoh yang tak kenal lelah untuk berjuang, dan tanpa pamrih pastinya. Semoga. Bulurejoku akan segera hidup dan menghidupi dengan penuh kebaikan.

2.    Mendirikan taman baca
Aku sangat menyukai membaca buku, dan aku memiliki beberapa koleksi buku di rumah. Pengen buat taman baca biar rumah ramai akan anak-anak, karena aku juga suka bertemu dengan banyak orang. Ini juga salah satu khayalan untuk mewujudkan khayalan yang pertama, (lhah kok penuh khayalan ya? -,-!). Taman bacanya ada di halaman rumah, buat bangunan tersendiri berbentuk saung dari bamboo. Jadi nanti kalau banyak anak-anak yang main, mereka bisa puas mengobrak-abrik buku tanpa takut kena marah oleh pemilik rumah, hehe.. Saat ini, mulai nambah-nambah koleksi buku dulu.

3.       Menghidupkan kompleks perumahan
Per April kemarin aku pindah tempat tinggal ikut suamiku. Kami tinggal di kompleks perumahan kantor. Banyak sih rumahnya, tetapi rasanya sepi sekali. Tidak seperti di kampung, ramai dan saling berkunjung. Nah-nah aku berkhayal untuk bisa menghidupkan kompleks perumahan, minimal dari tempat tinggalku dulu yaitu blok Jl Kebun Pramuka. Blok ini menurutku potensial karena seperti kampung tersendiri yang seperti terpisah dari jalan yang lain, selain itu penghuninya sedikit. Kepikirannya sih seperti arisan sebulan sekali, nonton bareng piala dunia atau acara lain, dan ibu-ibunya buat klub memasak atau klub merajut. Atau akan lebih seru lagi jika ada gathering. Hmm. Sebenarnya berkhayal ini karena mupeng lihat blog teman yang bercerita tentang hidupnya kompleks tempat dia tinggal.

4.       Klub ibu hamil
Menjalani kehamilan pertama, di tempat baru dan jauh dari keluarga itu rasanya aku butuh dukungan. *pengen teriak*. Lagi-lagi karena pernah mendapati klub serupa di Jogja dulu, jadilah aku berkhayal andai saja ada klub ini di kompleks ini, huks. InsyaAlloh akan menyenangkan. Banyaknya teman yang senasib dan sepenanggungan itu rasanya mengurangi sedikit beban yang kita rasakan. Andai saja, klub ini sudah ada dan tiap minggu ada kelas sharing untuk membekaliku sebagai calon ibu baru, lain waktu sesi kelas adalah senam hamil. Sungguh berharap.

5.       Stay at home mom, dan berbisnis
Menikmati hari-hari di rumah sebagai ibu rumah tangga itu menyenangkan tetapi lama-lama bikin berpikir cerdas bagaimana mengisi waktu agar tidak mati gaya. Memang sudah menjadi pilihan dan didukung oleh suami, tetap tinggal di rumah dan nantinya mendampingi si kecil full time. Akan tetapi, tidak mau biasa-biasa saja, pengen juga berbisnis dari rumah, lalu berpenghasilan sendiri. Pengen banget bisa berpenghasilan sendiri sehingga bisa leluasa untuk memberi dan berbagi, amiin.

Yuhhuuu,, sebagian khayalanku, yang lainnya banyak di buku harian, hehe. Atau yang lainnya nunggu muncul ke permukaan. Khayalan itu aku tuliskan, agar tetap teringat, dan suatu saat bisa mewujudkannya.

Khayalan ini dituliskan oleh si istri, Rina Indarwati, diikutkan dalam “Khayalan ini diikutsertakan dalam Giveaway Khayalanku oleh Cah Kesesi Ayutea”