Wednesday, May 15, 2013

Menjadi Bahagia

Malam itu,,
Dia beranjak menuju laptop, bukan meja dimana pena dan 'buku ajaib'nya berada. Biasanya dia akan menulis ketika perasaannya tidak menentu. Aku, beranjak saja tidur. Biarkan dia menikmati waktunya. Toh aku desak pun dia tidak akan bersuara, paling banter akan menyodorkan kertas yang berisi kata-kata yang disampaikannya padaku. Seingatku dia pernah berkata ,"nggak sanggup ngomong, jatuhnya malah nangis". Errrrr

Kemarin lalu dia bercerita, ada yang aneh dengan kehidupannya akhir-akhir ini. "kayak ada yang mati gitu". Akan tetapi dia juga tidak tahu apa yang mati, lalu bagaimana aku bisa tahu, sedangkan setiap hari dia selalu ceria ketika kami bersama. Dia masih dengan sifatnya, ngeselin di berbagai sisi, manja juga, dan tak lupa ngangenin =))

Aku sudah lelap tertidur. Tanpa aku tahu, ternyata dia membuka email. Aha, bagaimana aku tidak tahu bahwa dia sudah sekali membuka catatan lamanya, membaca kembali ceritanya ketika dia sedang jatuh, bagaimana untuk bangkit lagi. Dan dia akan mencoba membangkitkan lagi semangatnya hari ini, "dulu aku pernah mengalami itu dan aku bisa". Ibaratnya, ketika dia membuka catatan lama, dia mencari 'kunci'. Sesuatu yang dia pegang, yang kadang terlupa karena derasnya informasi saat ini. Aku tahu alasan itu tidak seharusnya terjadi. Mestinya 'kunci' itu tidak terlepas dari dirinya, karena hanya dia yang punya. 'Kunci' itu tak akan terganti.

Malam semakin larut, dia menelusuri sebagian inbox email. Dibaca sekilas saja, hingg sampai pada inbox yang ini,..
Story from John Maxwell's wife :

Suatu ketika istri John Maxwell (pembicara motivator top) Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang "kebahagiaan". Maxwell
sang suami duduk di bangku paling depan dan mendengarkan.
...

Di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan dan tiba, sesi tanya jawab.

Setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya.. "Mrs. Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?"

Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, "Tidak..."

Seluruh ruangan terkejut. "Tidak..." katanya sekali lagi,"John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia."

Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat-cepat keluar. Kemudian, lanjut
Margaret, "John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik.

Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia selalu setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia."

Tiba-tiba ada suara bertanya, "Mengapa?"

"Karena," Jawabnya, "Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain DIRIKU SENDIRI."

Margaret mengatakan, tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu. Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia.

Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri.. Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kamu tidak akan merasa sedih.

Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar. Bahagia atau tidaknya hidupmu bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu, cantik istrimu/gagah suamimu, atau sesukses apa hidupmu.

Bahagia adalah "PILIHANMU SENDIRI"

Klik: http://www.TheologiaOnline.com/ <http://www.theologiaonline.com/>

===================================================

Dan inilah komentar mas tentang artikel di atas :

"Yang ingin mas garis bawahi adalah, Bukan karena suami (atau orang lain di sekitar kita) yg tidak akan pernah bisa membuat kita bahagia. Bahkan untuk statement yg ini mas kurang setuju, karena bahagia bisa didapat karena adanya faktor dari luar juga (selain yg paling terbesar memang karena faktor dari diri sendiri yg lebih dapat membuat kita merasa bahagia). Akan tetapi, mas ingin menyampaikan bahwa pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak. Dan statement itulah yg menjadi jawaban atas pertanyaan mas pada diri sendiri juga mengenai mengapa mas selalu ingin membuat orang di sekitar mas (dan berpesan ke mereka) itu harus selalu berpikir positif, entah itu saat kita sedang mendapat kesuksesan (rizki) maupun saat kita sedang diuji dengan sesuatu hal. Dan sebagai penutup, Mas ingin menyampaikan sebuah kata2 yg tiba2 terlintas di pikiran saat membaca artikel di atas, yaitu Alloh itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. ^_^

#dheg..
Dia tertegun lama, diam. Inbox itu sampai sudah sangat lama, hampir setahun yang lalu. Diamnya adalah proses dia mengumpulkan kesadaran. Akhir-akhir ini, dia hidup dalam sebuah mindset yang salah, dalam pemahaman yang kurang tepat.

Tidaklah kebersamaan itu selalu membahagiakan
Tidaklah berjauhan itu selalu menyiksa
Tidaklah berkelimpahan itu membuat tenang
Tidaklah sebuah 'status' lantas membuat bahagia, selalu bahagia
Ah,, bahagia itu jauh lebih sederhana,
Bahagia itu dalam kelapangan hati, keikhlasan, keridhoan atas setiap takdir-Nya
Bahagia itu dalam pemahaman yang benar, pengertian yang sesungguhnya

Sejak malam itu, dia kembali tersadar, "pandai-pandailah memilah mana tujuan dan sarana, kemudian berfokus berikhtiar dalam tataran sarana, dan tetap teguh dalam tujuan"


Prabumulih, 15 Mei 2013
deretan kata, antara nyata dan khayal
"cita-cita akhirat ku adalah berkumpul dengan orang-orang yang aku sayangi di surga Alloh. waktu aku ke pantai itu aku seneng, tapi njuk sedih. aku menikmatinya sendirian. nah aku nggak mau nanti    kalau di surga sendirian. aku mau kita bareng-bareng di surga"