Khayalan ini berawal ketika aku mengingat kembali tentang
hal-hal yang telah terjadi dalam hidupku. Sebagiannya berawal dari sebuah
khayal, kemudian diam-diam dituliskan dalam buku harian, terkadang terucap
lantang ketika berdiskusi dengan kawan, dan diam-diam pula ikut disertakan
dalam doa. Tentu Kuasa dan Izin-Nya tak mungkin lepas dari setiap kisah
hidupku. Beberapa diantaranya seperti kota tempat aku sekolah menengah, usiaku
saat aku menikah, dan tempat tinggalku saat ini.
Diantara sekian banyak
khayalan itu, pernah pula aku berkhayal tentang kabar buruk. Sedih sekali waktu
salah satu saudaraku mengalami kecelakaan dengan kondisi yang hampir seperti
dalam khayalanku. Astagfirullah. Sejak itu aku berjanji untuk selalu berkhayal
tentang kebaikan, dan berharap suatu saat dapat mewujudkannya.
ini beberapa khayalanku yang lain :
1. Menghidupkan
kampung halamanku
Kampung halamanku ada di Bulurejo,
Saptosari, Gunungkidul, DIY. Bisa jadi kalau searching tentang Saptosari,
berita yang banyak muncul adalah isu tentang kristenisasi, terutama untuk
mengatasi kekeringan. Ya, itu benar adanya. Alhamdulillah untuk kampungku bebas
dari isu kristenisasi. Warga kampungku bisa dibilang saklek dengan pemahaman yang mereka miliki, walaupun itu masih
sangat abangan dan kejawen. Kenapa aku ingin menghidupkan
kampungku?
Berawal dari miris ketika sejenak
meluangkan waktu mengingat tentang kampungku. Kampung itulah tempatku
bertumbuh, memberikanku kesempatan menikmati masa kecil yang membahagiakan, dan
sampai sekarang tak pernah berubah. Kampung yang masih ramah. Akan tetapi,
sejenak bergeser mengamati elemennya. Pemuda-pemudi yang bisa dibilang nakal
dan tak memiliki daya juang. Rasanya memang tak pantas aku mengatakannya,
karena akupun jarang berinteraksi dengan mereka. Setidaknya begitulah yang
terlihat. Lulusan SD tidak mau melanjutkan ke SMP jika tidak dibelikan sepeda
motor, yang sudah lulus dan pengangguran masih mengandalkan orang tua untuk
membeli bensin. Pemuda yang semestinya usia produktif bekerja, seringkali asik
terlihat bergerombol di pos ronda, sekedar duduk-duduk tanpa karya. Masjid
sepi, tidak ada TPA. Jamaah masjid didominasi warga yang sudah tua. Padahal
pemuda-pemuda itulah yang nantinya akan menggantikan yang tua memimpin kampung,
merekalah yang akan memegang estafet berikutnya.
Untuk mewujudkan khayalan ini, cara-cara
yang sempat terpikir adalah menghidupkan TPA, pengajian pemuda di malam minggu,
memulai taman baca dan belajar bersama. TPA, taman baca, dan belajar bersama sudah
sempat dimulai beberapa waktu lalu. Akan tetapi, harus vakum, karena aku pindah
tempat tinggal ikut suamiku. Bukan karena aku pindah kurasa, tetapi salah satu
hal yang dibutuhkan untuk mulai menghidupkan kampungku adalah tokoh. Tokoh yang
tak kenal lelah untuk berjuang, dan tanpa pamrih pastinya. Semoga. Bulurejoku
akan segera hidup dan menghidupi dengan penuh kebaikan.
2. Mendirikan
taman baca
Aku sangat menyukai membaca buku, dan aku
memiliki beberapa koleksi buku di rumah. Pengen buat taman baca biar rumah ramai
akan anak-anak, karena aku juga suka bertemu dengan banyak orang. Ini juga
salah satu khayalan untuk mewujudkan khayalan yang pertama, (lhah kok penuh
khayalan ya? -,-!). Taman bacanya ada di halaman rumah, buat bangunan
tersendiri berbentuk saung dari bamboo. Jadi nanti kalau banyak anak-anak yang
main, mereka bisa puas mengobrak-abrik buku tanpa takut kena marah oleh pemilik
rumah, hehe.. Saat ini, mulai nambah-nambah koleksi buku dulu.
3.
Menghidupkan
kompleks perumahan
Per April kemarin aku pindah tempat tinggal
ikut suamiku. Kami tinggal di kompleks perumahan kantor. Banyak sih rumahnya,
tetapi rasanya sepi sekali. Tidak seperti di kampung, ramai dan saling
berkunjung. Nah-nah aku berkhayal untuk bisa menghidupkan kompleks perumahan,
minimal dari tempat tinggalku dulu yaitu blok Jl Kebun Pramuka. Blok ini
menurutku potensial karena seperti kampung tersendiri yang seperti terpisah
dari jalan yang lain, selain itu penghuninya sedikit. Kepikirannya sih seperti
arisan sebulan sekali, nonton bareng piala dunia atau acara lain, dan
ibu-ibunya buat klub memasak atau klub merajut. Atau akan lebih seru lagi jika
ada gathering. Hmm. Sebenarnya berkhayal ini karena mupeng lihat blog teman
yang bercerita tentang hidupnya kompleks tempat dia tinggal.
4.
Klub ibu
hamil
Menjalani kehamilan pertama, di tempat baru
dan jauh dari keluarga itu rasanya aku butuh dukungan. *pengen teriak*.
Lagi-lagi karena pernah mendapati klub serupa di Jogja dulu, jadilah aku
berkhayal andai saja ada klub ini di kompleks ini, huks. InsyaAlloh akan
menyenangkan. Banyaknya teman yang senasib dan sepenanggungan itu rasanya
mengurangi sedikit beban yang kita rasakan. Andai saja, klub ini sudah ada dan
tiap minggu ada kelas sharing untuk membekaliku sebagai calon ibu baru, lain
waktu sesi kelas adalah senam hamil. Sungguh berharap.
5.
Stay at
home mom, dan berbisnis
Menikmati hari-hari di rumah sebagai ibu
rumah tangga itu menyenangkan tetapi lama-lama bikin berpikir cerdas bagaimana
mengisi waktu agar tidak mati gaya. Memang sudah menjadi pilihan dan didukung
oleh suami, tetap tinggal di rumah dan nantinya mendampingi si kecil full time.
Akan tetapi, tidak mau biasa-biasa saja, pengen juga berbisnis dari rumah, lalu
berpenghasilan sendiri. Pengen banget bisa berpenghasilan sendiri sehingga bisa
leluasa untuk memberi dan berbagi, amiin.
Yuhhuuu,, sebagian khayalanku, yang lainnya
banyak di buku harian, hehe. Atau yang lainnya nunggu muncul ke permukaan. Khayalan
itu aku tuliskan, agar tetap teringat, dan suatu saat bisa mewujudkannya.
Khayalan ini dituliskan oleh si istri, Rina Indarwati, diikutkan dalam “Khayalan ini diikutsertakan dalam Giveaway Khayalanku oleh Cah Kesesi Ayutea”